"Mas Bri"

"Mas Bri"
Bucinnya Bright



"Sayang," panggil Win sambil membuka pintu


Bright yang fokus dengan laptopnya langsung mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara Win.


"Kenapa enggak hubungi aku dulu kalau mau kesini? Kan mas bisa jemput kamu." ucap Bright sambil berdiri menghampiri Win


"Gak surprise dong mas," Win meletakkan kotak makannya di meja. Win segera menata makanan untuk suaminya.


"Makan dulu mas, sudah waktunya jam makan siang."


"Suapin ya?!"


"Heemm," dengan telaten Win menyuapi Bright.


Tanpa mengetuk pintu Singto tiba - tiba masuk ke ruangan Bright.


"Briii,,," belum selesai dia menyebuut nama Bright sambil membuka pintu, dia tersenyum saat melihat adegan suap menyuapi didepan matanya.


"Hah,, bayi besar!" ucap Singto


"Masa bodoh!! Mending bayi besar dari pada enggak ada yang nyuapin, mandiin!" balas Bright


"Begitulah dia Win, jika sudah dengan mu."


Win hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua. "Biarkan saja dari pada nanti dia merajuk Phi."


"Ya, benar"


"Sayang, aku mana pernah marah dengan kamu. Buktinya semua perkataan kamu aku selalu turuti."


"Ya ya ya,," balas Win


"Ada apa kemari?" tanya Bright pada Singto


"Hanya ingin memberikan dokumen ini. Segera kamu tanda tangani, 10 menit lagi aku kemari."


"Heem,"


Bright segera menyelesaikan makannya dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


"Sayang kamu temani aku disini ya, sebentar lagi aku selesai. Nanti kita pulang bersama."


"Iya mas, aku suruh pulang dulu sopirnya." Win kemari diantar oleh sopir pribadi Bright


Setelah Win membereskan sisa makanannya, dia mencuci tangannya. Saat kembali dari kamar mandi tiba - tiba Win duduk dipangkuan Bright.


"Wiiinn,,,aku sedang bekerja." ucap Bright.


"Ya kamu kerja saja mas,"


"Tapi kalau seperti ini, aku enggak bisa fokus sayang."


"Kan tinggal lihat laptopnya, terus lanjuti kerjanya." ucap Win sambil meraba dada bidang Bright


"Wiiinn,, apalagi ini?" bright tak bisa berkonsentrasi gara - gara tangan Win yang mulai nakal.


"Apa sih mas,, aku cuma mau main - main saja." ucapnya dengan nakal di telinga Bright


"Nanti dulu dong sayang, sebentar lagi selesai. Soalnya dokumen ini segera diambil."


"Ya sudah kamu lanjutkan dulu, aku duduk disini dengan baik." balas Win dan masih duduk di pangkuan Bright.


Bright segera menyelsaikan dokumen yang diberikan Singto agar bisa segera pulang.


Beberapa menit kemudian semua dokumen itu selesai. Tanpa menunggu Singto datang, Bright menyerahkan langsung ke ruangan singto.


"Tumben kamu mau mengantar langsung kesini!" tanya Singto


"Aku mau pulang, kasian Win sudah menunggu ku terlalu lama."


"Lama apanya! Belum juga 1 jam!"


"Itu terlalu lama!"


"Pasti ada sesuatu?!!" selidik Singto


"Ya! Aku mau bikin adik untuk Kim!"


Singto yang mendengar jawaban Bright, langsung menepuk jidatnya.


Bright mengahmpiri Win di ruangnnya dan langsung mengajaknya pulang. Saat berjalan keluar, mereka berdua menjadi pusat perhatian para karyawannya. Banyak yang kagum dengan bos dan istrinya. Selain cantik Win juga baik kesemua karyawan Bright termasuk petugas kebersihanyang sering Win bantu ketika dia berkunjung kekantor. Selain kaya dan baik mereka juga dermawan kepada siapa saja. Itu semua berkat kehadiran Win. Jika bukan WIn, mungkin hati Bright akan tetap dingin seperti es.


"Mas, mampir ke supermarket dulu ya?!"


"Iya, tapi jangan lama - lama ya. Mas sudah enggak tahan!" ucap Bright


"Gak tahan kenapa?"sambil memperhatikan gerak suaminya yang gelisah.


"Mas sakit perut? Mau numpang toilet disini sekalian?"


"Sakit perut apanya! Yang sakit ini!!" balas Bright sambil menarik tangan Win di arahkan ke adik kecilnya.


"Bagaimana enggak mesuk ditempat umum sayang, kamu yang menggodaku sejak di kantor tadi. Kalau bukan karena ulah kamu Bright junior enggak akan kebangun disembarang tempat!" balas Bright


Win tidak bisa berkata - kata lagi. Dia hanya tertawa sampai mengeluarkan air matanya.


<---->


Sesampainya dirumah Win segera menata belanjaannya.


"Sayang itu nanti saja. Ayo cepetan nanti keburu Kim pulang." rengek Bright sambil memeluk Win dari belakang.


"Sebentar mas, nangggung nih."


Bright yang sudah tak sabaran langsung mengangkat Winmenuju kamarnya.


"Mas nanti jatuh." teriak Win.


"Gak akan!!" Bright menutup pintu dengan kasar menggunakan kaki nya.


Ditidurkannya Win perlahan. Bright sudah tidak sabaran lagi. Dibuka satu persatu baju Win dan juga miliknya.


Bright mulai mencumbu Win, ditelusuri seluruh tubuh WIn tanpa ada yang tertinggal.


"Aku suka aroma tubuh mu." ucap Bright


"Mas jangan disitu terus ah, geli tau."


"Aku suka sayang."


Beberpa saat Bright pelepasan bersamaan dengan Win.


"Eeemmmpphhh,,,," lenguhnya bersama.


Bright mengahajar Win hanya beberapa ronde saja karena sebentar lagi Kim datang. "Nanti malam lanjut lagi ya sayang."ucap Bright berbisik ditelinga Win.


Mereka bergelut hingga menjelang sore. Bright banyak meningglakan jejak di dada Win. Bright sengaja tidak membat jejak di leher Win, bisa berbahaya jika Kim tau. Pasti Mama nya dicecar banyak pertanyaan. Maklum Kim anak yang masih polos, meski usianya sudah 17 tahun tapi dia belum pernah pacaran atau tertarik dengan lawan jenisnya. Dia hanya fokus dengan hobi dan sekolahnya saja.


Benar saja dugaan Bright, Suara motor Kim terdengar hingga ke lantai atas.


"Sayang sepertinya Kim sudah pulang." ucap Bright yang memeluk Win sambil tidur.


"Heemm,," jawab Win yang kelelahan.


"Kalau lelah, tidur saja dulu. Biar Kim aku yang buatkan makanan." ucap Bright


"Enggak kok mas, aku bisa." balas Win sambil bangun dan mengenakan bajunya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai Win langsung turun dan menyambut anak semata wayangnya.


"Hai Ma," ucap Kim saat melihat Mama nya menyambutnya di pintu rumah.


"Lelah?"


"Sedikit,"


"Sudah makan apa belum?" tanya Mama nya


"Belum sempat Ma, tadi banyak kegiatan."


"Ya sudah mandi dulu terus makan. Mama siapin makanan kamu." ujar Win sambil pergi ke dapur


"Ma dimana Papa?"


"Papa disini." ucap Bright yang baru saja menuruni tangga


"O ya sudah, Kim pikir Papa masih kerja."


"Mana mungkin Papa pulang malam, Papa paling enggak bisa jauh dari Mama kamu lama- lama." balas Bright


"Heeemmmm,,,mulai." Kim langsung pergi ke kamarnya.


Bright langsung ke dapur membantu isrinya. Dia tau kalau Win kelelahan, jadi Bright yang akhirnya memasak untuk mereka semua dan Win hanya membantu menyiapakan bahan - bahannya saja.


"Kim, ayo kita makan dulu sayang." teriak Win dari bawah.


"Iya Ma," Kim menuruni tangga.


"Mama sakit?" tanya Kim.


Bright yang mendengar pertanyaan anaknya langsung tersedak.


"Pelan - pelan mas," ucap Win sambil memberikan minum untuk suaminya.


"Enggak sayang, Mama hanya kelelahan saja."


"Memangnya Mama habis ngapain? Jangan capek - capek Ma, nanti sakit." ucap Kim.


Bright dan Win saling memandang. Bright langsung menendang kaki Win pelan. Dan Win hanya tersenyum samar. Dia sangat lelah, setelah menemani Bright bekerja, sampai dirumah dia juga masih bekerja. Bekerja membahagiakan suaminya.