"Mas Bri"

"Mas Bri"
Kerja sama



Bright mempersilahkan Krist duduk


"Mas lepasin tangan ku!!" ucap Win sambil berbisik ditelinga Bright.


"Enggak!!"


"Mas! Aku mau bikin kopi dulu!" akhirnya Bright melepas pegangan tangannya.


"Segitunya Pa, Mama enggak akan lari kok!" ucap Kim sambil berbisik ditelinga Papa nya. Takut kalau Krist mendengar.


"Huushh!! Kamu ini, dari tadi ganggu Papa saja kerjaannya!"


Kim hanya tertawa kecil. Akhirnya Kim mengikuti Mama nya untuk membuatkan kopi.


"Ma, itu temannya Papa ya?" tanya Kim.


"Iya, dulu kerja disini. Tapi dia harus pindah ke Amerika mengurus perusahaan orang tuanya. Kenapa?"


"Cuma tanya saja sih Ma,"


"Minggir Mama mau lewat!" ucap Win seraya membawa kopi untuk tamu dan suaminya. Dan tentu saja Kim mengekor dibelakang Mama nya.


"Kopinya silahkan diminum phi!" ucap Win.


"Terima kasih Win," ucap Krist.


"Sama - sama phi." balas Win.


Bright memberi isyarat lewat mata kepada Win, agar Win dan Kim masuk ke ruang pribadinya. Win pun paham maksud suaminya jadi dia mengajak Kim untuk ikut dengannya.


"Phi kami permisi dulu, lanjutkan saja obrolannya." ucap Win.


Win dan Kim masuk ke ruang pribadi yang ada dibalik rak buku Bright.


"Disini juga ada ruang rahasianya Ma?!" tanya Kim


"Ada sayang, biasanya di gunakan Papa kalau capek kerja ya istirahat disini."


Kim tiduran sambil nonton tv. Sedangkan Win duduk santai di pojok sambil makan cemilan.


"Ma," panggil Kim


"Heemm."


"Mama dulu kenal Papa gimana sih, kok Mama mau sama Papa yang over pritektif gitu!"


"Ya, namanya cinta gak pandang bulu sayang. Entah mau over protektif kek, sinusitis kek, kalau cinta ya cinta aja. Gak lihat kekurangannya, yang dilihat kelebihannya saja. Seperti Papa kamu yang punya banyak kelebihan, salah satunya terlalu tampan!" jawab Kim sambil tertawa.


"Ternyata jawabannya sudah aku duga!" balas Kim dengan sewotnya.


<--->


"Bagaimana kabar tante dan om disana?" tanya Bright pada Krist.


"Sehat semua, ngomong - ngomong berapa anak kamu sekarang?!" tanya Krist.


"Baru satu. Sebenarnya kami ingin menambah adik untuk Kim tapi sampai saat ini masih belum di beri kepercayaan lagi. Tapi gak masalah meski begitu kami sangat menyayanginya. Kalau kamu?" Bright.


"Aku juga satu. Kami sepakat untuk tidak menambah momongan lagi. Kasian dia harus mengurus sendiri tanpa bantuan baby sister." ujar Krist.


"Kim juga di rawat sendiri oleh Win. Kami bersama - sama menjaganya. Oo ya, ada keperluan apa kemari?" Bright mencoba mengalihkan pembicaraan yang menurutnya akan terjadi hal yang tidak di inginkan.


"Ah iya, sampai lupa. Aku ingin berkerja sama untuk mendirikan perusahaan di Bangkok. Kebetulan disini belum begitu banyak pesaingnya, jadi aku mencoba membuka cabang disini. Dan untuk segala macam desaign dan keperluan kantor aku serahkan kepadamu saja." ucap Krist.


"Ok, tidak masalah. Nanti biar Singto yang mengurus semua dokumennya."


"Terima kasih banyak, hanya kamu yang bisa aku percaya disini!"


"Santai saja."


"Kalau begitu aku pamit undur diri, karena harus menjemput sekolah anakku." ucap Krist sambil berjabat tangan dan menengokkan kepala nya kesana - kemari untuk mencari keberadaan Win.


"Baiklah aku sampaikan salammu pada Win, mungkin dia sedang tidur." potong Bright yang tau kalau sebenarnya Krist mencari keberadaan Win.


Setelah kepergian Krist, Bright segera bergegas menyusul anak dan istrinya. Sesampainya didalam ternyata mereka tertidur semua.


"Lo,, Kim ini bagaimana sih, katanya mau ada pertandingan kenapa malah tidur. Nempel pula sama istriku yang cantik ini!" gerutu Bright.


"Aiishh,, Kim!! Bangun nak, jangan nempel - nempel sama Mama ihh!" ujar Bright yang gemas dengan anaknya.


Kim yang sudah lelap dari tadi tak menghiraukan Papanya berbicara. Dia malah merapatkan pelukannya dengan sang Mama. Mungkin pikirnya kapan lagi bisa tidur sama Mama, kalau ada Papa jelas bakal ngomel - ngomel! Hehehehehehe


Bright yang melihat Kim tambah lengket dengan Mama nya malah tambah emosi dong. Diangkat nya tangan dan kaki sang anak dari pelukan Mama nya, lalu tubuhnya di gulingkan hingga terjatuh kelantai.


"Aduh Maaaaa,,!!" keluh Kim sambil memegangi pantatnya.


Win yang kaget Kim berteriak, spontan saja langsung terbangun.


"Kamu ngapain tidur dibawah Kim?!" ucap Win.


"Siapa yang tidur dibawah sih Ma, Mama yang tendang Kim gitu!! Ucapnya.


Win yang merasa tidak menendang siapa - siapa langsung melihat kesampingnya.


"Oooo,, pasti ulah Papa ini!" seru Win.


"Pa kok aku di tendang sih!"


"Siapa yang nendang kamu! Kamu sendiri yang jatuh. Bukan karena Papa."


"Mas!! Kamu ini bener - bener ya, sama anak sendiri bisa - bisanya di cemburuin!!" marah Win.


"Ya kan wajar Papa cemburu sayang, Papa juga pengen dipeluk gitu." ucap Bright


"Ya Tuhan Pa, sudah setiap malam!"


Kim langsung menepuk jidatnya dengan tingkah aneh kedua orang tuanya.


"Kim mau berangkat ke sekolah dulu! Nanti pulang malam." ucapnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


Setelah kepergian Kim, Bright mulai beraksi.


"Sayang aku juga mau kayak Kim tadi,"


"Enggak! Aku mau pulang saja!" ucap Win


Bright langsung mengeluarkan jurus rayuan mautnya, agar Win mau menemani nya kerja hingga jam pulang kantor nanti.


Dengan kegigihan Bright, akhirnya Win luluh juga.


"Mas ini masih jam kerja, kamu kok malah disini!" ucap Win sambil mengusap surai Bright.


'Sebentar saja, aku mau cas energi ku dulu." ucap Bright sambil menncuri ciuman Win.


Win yang mengerti maksud Bright, langsung membalasnya. Dia duduk dipangkuan Bright dan mulai ******* bibir suaminya. Dia absen setiap gigi Bright tanpa ada yang tertinggal. Suara ciuman itu memenuhi seluruh ruang pribadi Bright.


"Aku mau lebih dari ini sayang," ucap Bright degan mata sayu.


"Jangan mas, nanti ada pegawai kamu masuk bagaimana?"


"Kalau begitu ayo sekarang kita pulang!" ajak Bright yang langsung bangkit dan merapikan jasnya.


Win bingung dengan tingkah suaminya ini. "Padahal ini masih jam kerja." gumamnya.


Bright menuntun istrinya keluar ruangan menuju parkiran mobilnya. Di perjalannan kantor banyak karyawan wanita yang iri dengan Win. Mereka iri dengan perlakuan Bright pada Win yang seperti Ratu dimata Bright. Tapi itu semua dia lakukan hanya dengan WIn saja, tidak ada yang lain.


"Aku juga mau jadi bu bos." ucap salah satu pegawai.


"Aku juga rela kok jadi istri yang kedua!"


"Yeee,, itu mah kamu saja yang mau, tidak dengan bos. Istrinya saja spek bidadari, la kamu beruntung masih diberi hidung buat bernafas!" balas salah satu temannya.


Mereka semua tertawa terbahak - bahak, hingga mengeluarkan air mata. Meski begitu mereka sangat baik kepada Win. Karena Win sangat menghargai para pegawai suaminya.


Kadang Win membagikan banyak makanan untuk pegawainya, kadang juga uang tips untuk petugas kebersihan. Tak salah jika banyak pegawai yang menyayanginya.