"Mas Bri"

"Mas Bri"
Melahirkan



Kris mengambil kunci mobil. Dia melajukan mobilnya lebih cepat.


"Sabar ya, sebentar lagi sampai." ucap Kris


Namtan hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa kesakitan.


"Kris, rasanya seperti mau loncat saja yang di bawah sini." ucap Namtan


"Hah!! Apa nya yang mau loncat?"Krist mulai panik


"Mungkin kepalanya."jawabnya enteng.


Krist yang mendengar itu matanya langsung melotot. Dia langsung tancap gas agar cepat sampai.


Sesampainya di rumah sakit Namtan langsung di bawa oleh perawat menuju ruang bersalin.


"Dok selamatkan anak san istri saya." ujara Krist


"Baik pak." balas dokter


Krist menunggu di depan ruangan dengan kelarganya.


"Keluarga Nyonya Namtan?" tanya suster


"Saya suaminya sus."


"Istri bapak harus segera di operasi karena ukuran janin yang terlalu besar, jadi tidak bisa melahirkan secara normal." jelas suster


"Baik dok." Krist langsung menanda tangani surat perjanjian tersebut.


Setelah selesai menanda tangani, suster segera menuju ruang operasi. Krist mondar - mandir di depan ruang operasi.


"Krist tenanglah, berdo'a saja agar operasinya lancar." ucap mama nya.


"Iya ma." balasnya


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dokter keluar." Keluarga pasien?"


"Iya dok, saya suaminya."


"Selamat anak dan istri anda selamat. Dan bayinya sehat." ucap dokter


"Syukurlah, jenis kelaminnya laki - laki appa perempuan dok?" tanya Papa Krist


"Perempuan pak, kalau begitu saya permisi dulu. Untuk anak dan istri anada akan segera di pindahkan keruang perawatan setelah ini." dokter pun undur diri


Ada sedikit kekecewaan dihati Papa Krist karena cucu nya bukan laki- laki seperti yang dia harapkan selema ini. Tapi itu semua Papa Krist tutupi dari keluarga Namtan.


Setelah ibu dan anak dibersihkan mereka dipindahkan ke ruang perawatan vvip. Kris langsung masuk melihat istrinya.


"Trimakasih ya kamu sudah berjuang dan selamat. Itu adalah kado terindah untukku." ujarnya sambil mencium pucuk kepala Namtan.


"Dimana anak kita?"


"Diruangan khusus, semetara dia disana dulu. Menurut dokter disana lebih aman dan steril." jelas Krist


"Euum." jawab Namtan.


"Kamu istirahat dulu. Aku mau lihat anak kita sebentar."


Namtan pun tidur karena kelelahan. Sementara Krist segera menuju ruangan anaknya.


"Hai,,ini Papa sayang." sapanya sambil menempelkan tangannya dikaca.


Sedikit demi sedikit Krist akirnya bisa menerima kehadiran Namtan. Dia mulai menyayangi dan mencintainya. Bukan berarti rasa cinta nya untuk Win hilang begitu saja. Tapi perlahan - lahan sudah mulai terkikis karena kehadiran Namtan dan bayi kecil mereka.


Dia begitu senang dengan kehadiaran malakikat kecil dihidupnya.


"Setelah ini kita kan berkumpul bersama Mama." ucapnya


Tak terasa Krist meneteskan air matanya. "Apa kamu begitu bahagia?" tanya Mamanya tiba - tiba datang.


"Iya Ma, dia adalah darah daging ku dan aku sangat menyayanginya."


"Kamu kasih nama siapa bayi mungil ini?" tanya Mama


"Masih belum tau Ma. Apa Mama sudah ada nama untuknya?" tanya balik Krist


"Ada tapi gak tau Namtan suka apa tidak. Coba nanti tanyakan sama dia, barangkali dia sudah menyiapakan nama."


"Baik Ma." Krist segera kembali keruangan istrinya.


Saat dia kembali ternyata Namtan sudah bangun. "Sayang kamu sudah bangun?"


"Iya, aku lapar." ujarnya


Krist langsung mengambil buah yang susdah dia kupas sebelumnya dan memberikannya untuk Namtan.


"Eeemm,,, apa kamu sudah ada nama untuk anak kita?" tanya Krist tiba - tiba.


"Belum, kamu sudah ada nama?"


"Kalau aku belum, tapi Mama sepertinya ada."


"Benarkah? Siapa namanya?" tanya Namtan antusias


"Sebentar ya aku panggil Mama didepan dulu." Krist sedikit berlari menemui Mamanya.


"Ada apa?"tanya Mama


"Namtan tanya nama yang sudah Mama siapkan."


Mama nya pun ikut masuk. "Mama takut kalau kamu gak suka sayang." ucap Mama Krist.


"Memang saipa Ma namnya?"


"Metaselic Perawat." ucap Mama nya sedikit ragu. Karena Mama tau kalau pemilik nama Meta adalah orang yang membekas dihati anaknya. Pasalnya Mama Krist begitu menyukai Win, setelah dia tau bagaimana Win sebenarnya. Sayangnya bukan Krist yang dia pilih. Terpaksa Mama juga harus melepasnya.


Krist yang mendengar itu langsung terkejut. Tapi begitu melihat Namtan ada di sampingnya dia segera menetralkan ekspresi nya.


"Bagus Ma, pakai nama itu saja. Nanti bisa kita panggil Seli." balas Namtan


"Meta juga bagus." ujar Krist


"Ya Mama setuju, Seli atau Meta semua sama bagusnya." balas Mama nya


Namtan yang tidak tau asal usul nama itu hanya menyetujuinya saja. Dia begitu senang sudah diterima di keuarga ini.


"Ya Ma, aku ikut saja. Pilihan Mama pasti yang terbaik." jelas Namtan


<---->


Setelah beberapa hari dirawat akhirnya Namtan bisa pulang. Dia begitu antusias bisa bertemu dengan anaknya.


Sesampainya di rrumah Namatan menidurkan anaknya di box bayi yang bersebelahan dengan tempat tidurnya.


Sehari - hari dia merawat Seli dengan senang. Dibantu Mama mertuanya dan juga Krist yang selalu sigap, beban Namtan sedikit berkurang.


Tapi tidak dengan Papa Krist, dia tidak terlalu dekat dengan anak Krist. Hanya sesekali dia menggendongnya. Namtan masih tidak mengerti kenapa Papa mertuanya bersikap seperti itu kepada cucu nya sendiri.


Tapi pikiran itu dia tepis jauh - jauh. Dia tidak mau berburuk sangka dengan mertuanya yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.


<---->


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Anak Krist semakin bertambah besar dan terlihat cantik. Semakin hari semakin bertambah pula kecantikannya. Krist belum berencana menambah adik untuk Seli. Karena kehadiran Seli saja sudah cukup baginya. Terkadang Namtan yang ingin memberikan adik untuk Seli tapi Krist menolaknya. Bahkan saat berhubungan Krist lebih sering melepaskannya di luar. Namtan juga dipaksa memakai kontrasepsi.


Dengan terpaksa Namtan menuruti apa kata suaminya. Dia tidak mau membuat Krist marah dan meninggalkannya. Apapun yang Krist katakan Namtan akan menuruti nya. Termasuk saat ini, saat Krist mengajak Namtan pindah ke Bangkok untuk membuka cabang baru disana.


Usia Seli sudah menginjak 15 tahun. Dan itu sukses membuat para laki - laki terpesona dengan kecantikannya. Karena Papa nya akan membuka cabang baru di Bangkok, dengan terpaksa sekolahnya juga harus pindah kesana. Berat hatinya untuk meningglkan teman - temannya. Tapi mau bagaimana lagi itu sudah keputusan Papa nya yang tidak bisa diganggu gugat.


"Besok kita akan menempuh perjalanan cukup jauh, sekarang tidurlah agar besok tak kelelahan." ujar Krist pada Seli


"Baik Pa." balas Seli


Krist begitu tegas dengan keluarganya. Berbeda dengan sifat Krist yang dulu. Entah kenapa sifatnya bisa berubah seperti itu. Namtan dan Seli tidak pernah membantah apa yang Krist katakan. Mereka tidak ada yang berani melawan Papa nya yang super dingin itu. Hanya ditatap nya saja, sudah membuat Seli takut.