"Mas Bri"

"Mas Bri"
Selalau Nambah



Sesampainya di rumah, tanpa menunggu lama Bright langsung menggendong Win menuju kamarnya.


"Mas apa - apaan sih! Main gendong - gendong aja!" teriak Win.


"Mas sudah gak tahan sayang, ayo kita segera bikin adik lagi buat Kim!"


Bright langsung mengunci pintunya dan membaringkan Win di kasur king size nya.


"Mandi dulu mas, bau." ucap Win


"Kelamaan sayang, ini ni sudah tegak berdiri!" balas Bright.


Bright langsung melepas semua yang dia kenakan begitu juga dengan Win. Bright begitu menyukai kegiatannya, bahkan hampir setiap hari dia meminta jatahnya. Tentu saja dengan senang hati Win memberinya, dia juga tidak mau kalau Bright berpaling dari nya. Sebisa mungkin Win merawat tubuhnya. Bright menghajar Win tanpa ampun hingga malam tiba, baru dia berhenti. Jangan lupa kalau Win sudah tak sanggup membuka matanya akibat kelelahan. Sungguh, Win tak habis pikir dari mana kekuatan Bright sampai dia kadang kuwalahan melayaninya.


"Terima kasih sayang, kamu selalu memberi apa yang aku mau. Dan tubuhmu yang membuatku candu." Ucapnya sambil menutupi tubuh Win dengan selimut.


Bright segera membersihkan diri dan turun kebawah untuk melihat anaknya.


"Kenapa dia belum pulang, ini sudah larut." Gumam Bright.


Dia langsung naik keatas untuk mengambil phonselnya.


"Halo, Kim!"


"Iya Pa, ada apa?" tanya Kim


"Kenapa belum pulang? Ini sudah jam berapa?!"


"Sebentar lagi Pa, ini baru aja selesai."


"Ya sudah Papa tunggu!" Bright mematikan panggilannya.


Sambil menunggu anaknya pulang Bright memasak untuk makan malam. Dia melihat Win yang lelap tidur tidak tega membangunkannya.


"Biar aku saja yang memasak, kasian dia." gumamnya.


Bright tidak hanya jago di ranjang saja, dia juga pandai memasak. Hampir setiap hari dia membantu Win memasak dan beres - beres rumah.


Setengah jam kemudian Kim datang dengan temannya.


"Kim pulang," ujarnya sambil membuka pintu rumah.


"Sssstttt,, jangan keras - keras Mama lamu lagi tidur!" baas Bright


"Maaf Pa, Kim gak tau."


"Sudah ayo kita makan. Papa bangunin Mama kamu dulu." Bright langsung naik menuju kamarnya.


"Sayang ayo bangun, kita makan." ucap Bright pelan.


"Sayang bangun," di ulangnya panggilan tadi. Tapi sepertinya Win asik dengan mimpinya.


Kesabaran Bright yang hanya setipis tisu pun muncul. Dia mulai usil dengan Win.


Cup...cup...cupp


"Mas!" marah Wi yang tidurnya terganngu.


"Benar kaannn,,, langsung bangun. Emang Papa ini jago kalao soal bangun - bangun!"


"Bangun, bangun, bangun!! Adek Papa itu yang suka bangun sembarangan!!" seru Win.


"Sudah ah, ayo kita makan malam. Di bawah juga ada teman Kim." ucap Bright sambil mengusap pipi sang istri.


"Mas yang masak?" tanya Win


"Iya, mas gak tega bangunin kamu. Jadi ya mas masak sendiri."


Cup...cup...cup


"Terima kasih ya mas, kamu selalu mengerti aku," ucap Win sambil memeluk suaminya.


Bright senang dong, dapat ciuman mendadak dari Win. Apalagi itu inisiatifnya sendiri.


"Lagi ya," ucap Bright sambil memanyunkan bibirnya.


Langsung kena tampol Win lah, bibirnya.


"Mas!! Baru aja selesai, lelahku aja masih belum hilang. Masih mau lagi?! Dasar mesum!" ucap Win.


Bright hanya senyum - senyum dimarahi istrinya.


"Ya sudah, ayo kita makan malam. Kasian Kim sudah nunggu." sela Bright.


"Aku mandi dulu mas,"


"Cepetan ya, kasian anak - anak." ucap Bright lalu turun kebawah bergabung dengan anaknya.


Saat turun dari tangga, teman Kim terpesona dengan Mama nya. Bahkan sakin terpesonanya dia sampai gak berkedip. Dan itu tak luput dari pandangan Bright. Dengan sigap Bright langsung lari menggendong istrinya masuk ke kamarnya.


"Sayang kenapa pakai baju kurang bahan sih!! Kan di bawah ada teman Kim!"


Win langsung menepuk jidatnya. "Maafkan aku mas, aku benar - benar lupa." ucapnya dengan nada penyesalan.


 


Sedangkan dibawah sudah heboh dengan sendirinya.


"Kim tadi itu siapa? Cantik banget!"


"Cantik, cantik, itu Mama ku!" ucap Kim sambil memukul lengan Devan.


"Ya maaf, kan aku juga gak tau kalau itu Mama kamu. Habisnya gak kelihatan kalau dia Mama kamu sih!"


Win turun bersama Bright dan tak lupa tangan Win yang di genggam dengan erat.


"Perkenalkan ini Mama nya Kim." ucap Bright tiba - tiba pada Devan.


"Ah, iya Om Tante perkenalkan saya Devan." balas Devan sambil mengulurkan tangannya.


Namun bukan Win yang membalas jabat tangannya melainkan Bright.


"Senang berkenalan dengan mu! Silahkan duduk." ucap Bright.


Rasanya makan malam kali ini sedikit tegang. Bahkan hingga selesia makan Bright masih enggan membuka suara. Dia begitu posesif dengan Win. Bahkan anak kecil saja dia ladeni.


Selesai makan Kim mengajak temannya naik ke atas. Rencananya Devan akan menginap di rumah Kim, karena ada tugas yang harus mereka kerjakan.


Selesai membersihkan meja makan, Win duduk santai di depan televisi.


"Mas jangan kejam kenapa, mereka masih anak - anak." Ucap Win membuka pembicaraan karena tau kalau Bright sedang cemburu.


"Ya."


"Hanya ya aja jawabnya?!"


"Terus aku mau jawab apa sayangku,"


"Hem, berarti sudah gak marah ini."


"Sok tau!" Balas Bright


"Ya tau lah, Mas itu paling gak bisa marah. Dan kalau marah terus tetep manggil sayang, itu tandanya mas gak marah beneran." ujar Win panjang lebar.


Cup...cup..cup


"Sudah jangan banyak bicara. Kita lihat film apa lihat bibir kamu yang komat - kamit?!" balas Bright


Win sudah tidak bisa berkata - kata lagi jika begini. Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya.


Bright menidurkan kepalanya di pangkuan Win, hal itu tak luput dari pandangan mata Devan.


"Kim," Panggil Devan


"Hem."


"Papa kamu emang manja gitu ya sama Mama kamu?" Tanya Devan


"Ya setiap hari juga gitu. Kalau gak ketemu Mama sebentar aja bisa - bisa jadi Barongsai Papa. Tapi kalau diluar jangan ditanya, jangankan tertawa senyum saja itu sudah seperti hal yang langka." Jawab Kim


"Lucu juga ya Papa kamu." Balas Kim.


<---->


Dilain tempat Namtan baru saja selesai membereskan sisa makanan mereka. Krist dan anaknya duduk menikmati teh buatan Mama nya.


"Bagaimana kerja sama dengan teman Papa?" Tanya Namtan


"Baik, dia mau membantu ku. Besok kita akan memulainya."


"Syukurlah kalau begitu."


Obrolan itu berhenti disitu saja,seakan mereka orang asing setelahnya. Krist tidak begitu pandai bergurau. Namtan paham akan hal itu. Meski begitu dia tetap mencobq mencari obrolan lain agar suaminya tidak bosan dirumah.


"Pa ayo kita pergi jalan - jalan!" Ajak Seli.


"Iya Pa, ayo kita jalan - jalan. Sejak tiba disini kita tidak pernah pergi kemana - mana." balas Namtan


"Ya, nanti setelah selesai renovasi kantor baru kita pergi jalan - jalan." ujar Krist.


"Beneran Pa!" Ucap Seli dan anaknya kompak.


"Iya, anak Papa yang manis." Balas Krist sambil mencium pucuk kepalanya.