"Mas Bri"

"Mas Bri"
Draft



"Haii,,lama kita gak ketemu. Nanti malam ada acara gak? Kalau gak ada bisa luangkan waktu mu untukku? Ada hal yang ingin aku bicarakan"


" Ok, di tempat biasa aja" balas Namtan. Sebenarnya dia malas harus bertemu dengan Krist, meski dia mencintainya. Karena kejadian malam itu yang membuat Namtan sedikit menjauh.


<-->


Sinar bulan yang terang membuat suasana menjadi lebih indah. Namtan sudah menunggu Krist lebih dulu sebelum sang empu nya datang.


"Maaf, aku telat." ucap Krist saat tiba


"Gak masalah, santai saja." balas Namtan sedikit cuek


"Kamu sudah pesan makan?"


"Gak usah, aku cuma sebentar setelah ini aku ada kegiatan di kampus."


"Eemm,,, bagaiamana kondisi kamu?" tanya Krist


"Seperti yang kamu lihat, aku baik - baik saja."


"Aku boleh tanya sesuatu gak?"


"Tanya saja, ada apa?" balas Namtan


"Apa aku melakukan kesalahan malam itu selain kita berhubungan badan?"


Namtan yang tak ingin mengingat kejadian itu sedikit terganggu dengan pertanyaan Krist.


"Gak ada." jawabnya


"Tapi kenapa aku merasa kamu berubah? Aku sudah berjanji kalau aku akan bertanggung jawab. Bisakah kamu memberitahu kesalahan apa yang sudah aku lakukan?"


Sebenarnya ia malas membahasa soal ini. Tapi demi kebaikannya lebih baik di ceritakan diawal dari pada ia pendam sendiri. Jika sesuatu terjadi padanya siapa nanti yang akan bertanggung jawab. Jika orang tuanya tau bisa - bisa dia dikurung oleh papa nya.


"Siapa Win?" tanya Namtan tiba - tiba


Hati Krist seakan ingin lepas dari sana. Bagaimana Namtan bisa tau Win? Siapa yang memberitahunya? Banyak pertanyaan dibenaknya.


"Darimana kamu tau Win?" tanya balik Krist


"Jawab aku dulu Krist !" bentak Namtan


"Dia orang yang pernah singgah di hatiku. Tapi itu dulu."


"Apa kamu yankin?"


Krist hanya menganggukkan kepalanya. Sedikit ragu ia menjawab, pasalnya hingga saat ini dia masih memikiran Win. Tapi tak ingin membuat Namtan kecewa dia akhirnya berbohong.


"Iya, aku yakin. Aku juga tidak tau dimana keberadaanya sekarang." balasnya


Namtan hanya diam tak melanjutkan ppertanyaannya.


"Kamu tau dari mana soal Win?"


"Dari mulut kamu sendiri."


"Dari ku sendiri? Aku bahkan tak pernah bercerita dengan siapapun soal prasaanku."


"Coba kamu ingat - ingat saat kita melakukan kesalahan malam itu. Saiapa orang yang kamu sebut saat kamu bercinta denagnku?!" jawab Namtan sedikit emosi


Krist mencoba mengingat nya kemabali. Tapi tak sedikit pun ia mengingatnya.


"Aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Kamu juga tau kalau aku dalam pengaruh alkohol, jadi aku mengingatnya selain kegiatan panas itu. Bisakah kamu memberitahu ku?"


"Setelah kita selesai melakukanitu kamu berterimaksih padaku, tapi bukan nama ku yang kamu capkan melainkan Win."


"Apa..!!" Krist syok dengan penuturan Namtan. Bagaimana bisa dengan bodohnya dia membongkar sendiri isi hatinya


"Sudahlah aku juga sudah melupakannya. Aku juga baik - baik saja. Kamu bisa lihat sendirikan?"


" Tapi aku harap kamu mau berbagi sesuatu dengan ku, entah itu kisah sedih atau senang. Aku sudah mencoba membuka hatiku untukmu."


Namtan sedikit tersentuh dengan ucapan Krist yang mau membuka hati untuk nya. Bodoh, memang jika cinta menyerang maka kebodohan juga ikut menyerang akal sehat. Jika seseorang yang tidak bisa selesai dengan masa lalunya maka akan membawa derita dengan masa depannya.


"Tan, maukah kamu menjadi kekasihku? Melupakan masalaluku yang kelam dan memulai hidup baru dengan mu?" tiba - tiba Krist menyatakan persaannya.


Namtan kaget sekaligus senang mendengar pernyataan Krist. Sudah lama ia menunggu momen seperti ini. Sejak awal dia sudah mencintai Krist apapun keadaannya, dia akan menerimanya. Meski dia tau Krist belum selesai dengan masa lalunya.


"Maksud kamu kita,," Namtan menjeda kalimatnya


"Iya , aku ingin kita lebih dekat lagi. Tidak hanya sekedar teman, aku ingin lebih dari sekedar teman. Maukah kamu menerima segala kekuranagnku?"


Namtan terharu dengan kata - kata Krist dan dia hanya menganggukkan kepala tanpa bisa berkat - kata.


"Beneran kamu menerimaku?" Krist


"Iya, aku mau."


Krist langusung memeluk Namtan


"Trimakasih kamu mau menerima segala kekuranganku."


Setelah pernyataan cintanya Krist mengantar pulang Namtan kerumahnya. Sebelumnya ia mengajak Namtan jalan - jalan sebentar agar lebihakrab lagi.


"Hati - hati dijalan." ucap Namtan sebelum turun dari mobil.


"Iya, selamat malam." ujar Krist sambil mencium kening Namtan


Setelahnya ia meninggalkan Namtan dan segera pulang.


"Mudah - mudahan ini keputusan terbaik." gumamnya


<-->


"Huuueekkkk,,huueekkk." terdengar suara orang muntah dari kamar mandi


"Kenapa begini? Sepertinya semalam aku baik - baik saja. Aku juga gak makan aneh - aneh." gumamnya


Dia menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang. Mual, pusing, muntah bercampur menjadi satu. Saat ia akan beranjak perutnya terasa mual lagi


"Huueekkk,,huueekkk." berkali - kali ia memuntahkan isi perutnya tapi hanya cairan saja yang keluar


"Namtan,,Namtan.' panggil mama di luar kamarnya


Perlahan ia bangkit darikamar mandi untukmembukakan pintunya


"Ada apa ma?" tanya papa.


"Gak tau pa, dari tadi Namtan muntah terus."


Saat pintu terbuka


"Kamu sakit?"


"Gak tau ma, kayaknya Namtan masuk angin deh. Semalam habis jalan - jalan soalnya."


"Ya sudah papa ambilin obat dulu. Kamu tidur saja." papa segera berlari mengambil obat


"Kamu sih keluar malam -malam." omel mama nya


"Ya kan anak muda Ma, biasalah." balas Namtan


"Nih obatnya cepet diminum dan tidur lagi." ujar Papa nya


Setelah selesai minum obat dia segera tidur.


"Pa, apa gak sebaiknya kita periksakan saja? Mama takut kenapa - kenapa Pa?"


"Lihat nanti saja Ma, kan tadi sudah minum obat."


<-->


"Bisa kita ketemu gak? Aku kangen."


"Gak bisa, aku lagi gak enak badan"


"Kamu sakit? Sakit apa?"


"Masuk angin kayaknya."


Setelah pesan singkat itu terkirim, tak ada balasan dari Krist. Hingga akhirnya dia tiba di depan rumah Namtan


"Siang Om Tante." sapa Krist pada kedua orang tua Namtan


"Eh Krist,, masuk sini." ajak Mama


"Makasih tante. Namtan nya ada?"


"Ada dia lagi sakit. Kamu langsung naik saja."


"Makasih Tante." Orang tua Namtan sangat setuju jika Namtan bisa menikah dengan Krist. Selain dia baik dia juga pengusaha sukses.


 


"Tan, aku masuk ya?"


tak ada sautan dari dalam. Krist mencoba membuka pintunya dan tak terkunci.


Krist menyurai rambut Namtan yang menghalangi wajahnya.


"Kamu disini?" ucap Namtan yang terbangun karena sentuhan Krist


"Euumm, aku khawatir kalau kamu kenapa - kenapa. Aku bawa ke dokter ya?"


"Gak usah,nanti juga sembuh."


"Sepertinya gak sesederhana itu deh. Mending ikut aku ke dokter saja."


Namtan masih bingung, tapi dia ikut saja apa mau kekasihnya. Dia segera mengganti baju dan turun menyusul Krist


"Aku tunggu kamu di bawah ya?"


'Iya."


setelah selesai dia segera turun dan pamit pada orang tuanya


"Tante Krist permisi dulu ya, mau bawa Namtan ke dokter dulu." ijinnya


"Iya, hati - hati ya nak." balas Mama nya


Mereka pun segera pergi ke dokter.


"Mereka serasi ya Pa?"ujar Mama


"Iya Ma, semoga jodoh ya?"


"Iya Pa"


 


Sesampainya di rumah sakit Krist segera mendaftarkan Namtan ke dokter kandungan. Dia mempunyai firasat kalau Namtan kemungkinan hamil.


"Apa kamu gak merasa mual - mual?" tanya Krist setelah mendaftar


"Tadi pagi aku mual - mual. Terus sama Papa dikasih obat masuk angin agak mendingan."


"Nyonya Namtan." panggil suster


"Ayo kita dipanggil."


Mereka berdua memasuki ruangan dokter.


"Keluhannya apa ya Bu? tanya dokter


"Mual - mual sama pusing dok." jawab Namtan


"Baiklah saya periksa dulu, silahkan berbaring" printah dokter


"Bapak bisa ikut masuk untuk menemani istrinya." ucap dokter


"Dia buk,," saat Namtan akan menjelaskan langsung dipotong oleh Krist


"Baik dok." Ucap Krist