
"Ini kali terakhir kamu ikut ke pesta Win!" ucap Bright ketika memasuki kamarnya.
"Kenapa mas? Malu - maluin ya? Maaf ya mas, seharusnya memang aku tidak ikut."
"Iya, seharusnya kamu memang tidak perlu datang ke pesta manapun!" ucap Bright sedikit kesal.
Win hanya diam saja, karena dia merasa dirinya tak sempurna seperti wanita lain. Banyak wanita yang hadir dan mereka terlihat sangat cantik dan anggun. Sedangkan dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang penampilannya juga biasa saja.
"Mungkin memang sebaiknya aku tidak keluar rumah sama sekali," gumam Win. Dia takut membuat malu suaminya. Apalagi Bright seorang CEO pasti seluruh orang menggunjingkannya, karena memiliki istri yang biasa saja dan hanya seorang ibu rumah tangga.
Bright diam tak ingin melanjutkan pembicaraanya. Akhirnya dia mengganti jas nya dengan baju santai. Sambil menunggu Win ganti baju Bright menyalakan televisi di kamarnya.
"Terlihat hadir juga CEO Bright V Vachirawit beserta anak dan istrinya. Anak dari pemilik perusahaan ternama itu turut hadir dan menyita perhatian publik karena ketampanannya. Tak luput juga dari media istri dari CEO yang terlihat cantik dan anggun dengan balutan gaun berwarna hitamnya. Kecantikannya banyak menyita perhatian media, bahkan banyak para petinggi perusahaan yang mengaguminya secara diam - diam."
Win yang mendengar berita itu langsung duduk di samping suaminya. Dia hanya diam menyimak setiap kata dari penyiar tersebut. Sampai akhirnya suara akhirnya suara bariton suaminya memecah keheningan.
"Itulah yang suami mu khawatirkan sayang!" ucap Bright sambil bersendekap melihat berita.
"Masudnya gimana sih?" Win masih bingung dengan suaminya. Dia memperhatikan kemabil berita di televisi.
"Tampak satu keluarga itu memang sangat sempurna. Banyak awak media ingin mewawancarai istri dari pemimpin perusahaan besar tersebut. Namun, hal itu tidak diperboleh kan oleh pemilik perusaahn besar itu. Sunghuh sangat disayangkan!"
"Maksud ku, aku tidak suka kalau orang - orang melirik kamu istriku!" jawab Bright.
"Tidak suka?"otak Win masih tidak bisa mencerna kata - kata suaminya.
"Ya, aku tidak suka para laki - laki hidung belang itu melirik kamu. Aku cemburu, aku marah, aku tidak mau milikku dilirik orang lain!" ucap Bright sambil meluap - luap.
Win yang mendengar pernyataan Bright jadi senyum - senyum sendiri. Dia tidak menyangka begitu besar cinta Bright untuk nya.
"Kenapa malah senyum! Kamu suka ya kalau digoda banyak laki - laki di luaran sana!" ucap Bright emosi.
"Ya gak lah mas, aku senyum karena kamu lucu. Ternyata begitu besar cinta mu untukku. Sampai - sampai aku kamu kurung di rumah," balas Win.
"Tentu saja! Aku tidak mau berbagi dengan siapapun, apalagi soal ini, ini, ini, dan ini!" ujar Bright sambil menunjuk mata, bibir,dan seluruh tubuh Win.
Win jadi punya ide untuk mengerjai suami nya itu.
"Kalau begitu mulai hari ini aku akan ikut kemana pun suami ku pergi! Aku juga tidak mau wanita di luaran sana melirik kamu mas. Aku tidak mau berbagi apapun dengan mereka!" balas Win.
"Lah, bagaimana bisa sayang. Gak ada wanita yang mau melirik bapak beranak 1 ini. Lagi pula aku tidak tertarik dengan mereka semua. Dimata ku hanya ada kamu, kamu, dan kamu saja!"
"Ya pokoknya aku ikut kemana saja!"
"Enggak, pokoknya sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Kamu harus dirumah, biar aku sama Kim yang pergi setelah ini."
Suami istri itu terus saja berdebat. Hingga Kim yang kebetulan lewat depan kamar orang tuanya menguping.
"Ribut apa sih Papa sama Mama?!" gumam Kim.
"Pa, Ma!" panggil Kim dari luar.
Beberapa saat pintu terbuka, nampak lah Bright.
"Ada apa?" tanya Bright.
"Papa sama Mama lagi bertengkar?" tanya Kim. Selama ini orang tuanya tidak pernah bertengkar hebat. Hal kecil pun mereka tidak pernah bertengkar. Papa nya selalu mesra dengan Mama nya. Makanya Kim sedikit heran.
"Enggak, Papa gak bertengkar!"
"La terus tadi kayak teriak - teriak gitu!"
"Iya Ma, Papa minggir dulu Kim mau lewat!" ujar Kim.
"Udah gak usah masuk!" balas Papa.
Kim langsung menyerobot masuk tanpa permisi. Yang penting Mama yang suruh, Kim pasti langsung berangkat.
"Ada apa Kim?" tanya Mama nya.
"Mama sama Papa bertengkar ya?"
"Enggak tuh!"
"Tadi Kim dengar dari depan," ucap Kim.
"Ooo... Itu, Papa kamu semburu!" balas Win sambil melirik suaminya.
"Cemburu kenapa Ma?"
"Ya karena Mama ikut ke pesta kemarin. Banyak media terutama kaum laki - laki yang suka lihatin Mama. Jadi nya Papa kamu melarang Mama ikut ke pesta setelah ini, biar Mama gak ada yang lirik."
Kim tertawa tebahak - bahak. Dia gak habis pikir Papanya begitu mencintai Mama nya sampai sebegitunya. Kim harus mencontoh Mama nya nih, biar kalau punya istri nanti di cemburuin terus. Kan seru menggoda istri yang cemburuan kayak Papa nya.
"Papa ini ada - ada saja, kalau Mama mau sudah banyak laki -laki yang memgantri di belakang Papa," ucap Kim.
"Kurang ajar kamu!" balas Bright sambil menggiring Kim keluar kamarnya.
"Sudah pergi sana! Ganggu saja kamu!" usir Bright.
Kim di luar masih tertawa mengingat kelakuan Papa nya. Dia membayangkan ketika Papa nya marah - marah tadi, terus bilang cemburu ke Mama nya pasti lucu sekali.
" Papa, Papa ada - ada saja. Pasti lucu deh eksprei Papa tadi. Sayang aku gak tahu tadi," monolog Kim.
Di kamar Bright masih melanjutkan acara merajuknya. Dia masih marah dengan Win yang tak menggubrisnya.
"Mas... Jangan ngambek dong, jelek ah!" ucap Win sambil memeluk suaminya dari belakang.
Bright tidak merespon sama sekali. Dia masih saja jengkel.
"Mas... Sudah dong, jangan marah - marah nanti gak aku kasih jatah lo!" goda Win.
Mendengar masalah jatah Bright langsung memutar badannya.
"Ya jangan gitu dong, aku gak bisa tidur nanti!" balas Bright.
"Ya sudah, asalakan enggak marah lagi!"
"Iya iya, mana bisa aku marah sama kamu!" ujar Bright.
Win pun memeluk suaminya yang seperti bayi. Terlihat berwibawa jika di kantor, tapi ketika pulang dia lebih manja dari anak bayi.
Tetapi Win sangat menyukai Bright yang suka bermanja - manja. Apalagi jika Papa dan anaknya saling berebut untuk dipeluk.
Berbeda kondisi dengan keluarga Krist saat ini. Namtan meminta pejelasan tenyang Win, dan alasan kenapa Krist membuka usahanya di Bangkok. Apa karena dia ingin berdekatan dengan Win atau memang ada hal lain.
Selama ini dia bersabar dengan sikap cuek Krist. Dia juga mengabaikan tentang Krist menyebut wanita lain saat mereka berhubungan waktu itu.
Tapi kali ini Namtan akan menuntuk suaminya itu untuk menjelaskan semuanya.