You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Delapan : Bermain dengan takdir



Setelah pagi ini aku pergi bersama Arjune untuk meeting, dan disinilah aku sekarang duduk berdua dengan orang yang paling aku hindari karena Arjune yang berkata bahwa dia ada urusan dan harus pergi lebih dahulu meninggalkan aku sendiri dengan atasan dari perusahaan ini 'Gumawan Grup'. Arjune dan orang-orang kelas atas ini memang akan sama saja, dapat melakukan apapun tanpa memikirkan apapun seperti yang selalu dilakukan oleh orang yang ada didepanku saat ini. Saat hendak ikut berpamitan keluar bersama Arjune, Samuel lebih dulu mencegahku dan mengatakan pada Arjune bahwa dia ingin bicara denganku dan Arjune dengan tidak berperasaannya menyetujui permintaan tersebut dengan mudah.


"Jadi gimana kabar kamu?"Dia yang tadinya hanya memandangku kini akhirnya mengeluarkan kata pertamanya "Baik, everything is fine. Kamu sendiri?" Aku menjawabnya dengan menatap matanya "Baik" Dengan kembali menatapku dan senyum yang belum luntur dari bibirnya "Aku denger kamu sempet pindah ke Jogja" Tanpa mengalihkan matanya dariku aku hanya mengangguk sebagai jawaban untuknya "Ibu sama abang juga masih di Jogja" Seperti biasanya saat bicara dengan dia ini selalu saja mengalir dengan sendirinya "Jadi kamu disini sendiri?" Kembali pertanyaan nya keluar sembari tangannya bergerak untuk mengambil air mineral yang sedari tadi ada di atas meja ruangannya, dan tanpa diminta dia sudah membukakan kemasan botol tersebut dan menyerahkannya kepada ku dengan senyum yang sedari tadi tidak pernah luntur dan aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya. Aku berdeham singkat dan membasahi bibirku untuk mengatakan hal yang sedari lama ingin aku beritahu "Sam,buat yang terakhir kali itu aku mau ngucapin terimakasih"Dia menautkan alisnya dan diam sejenak "Yang mana? Aku nganterin kamu?"masih dengan wajah kebingungan dia menunggu penjelasan dariku atas pertanyaan yang diajukannya namun aku menggelengkan kepalaku karena bukan itu yang aku maksud "Mungkin terdengar tidak tahu diri kalau aku kembali mengungkit hal yang sudah berlalu begitu lama, tapi Sam untuk beberapa saat aku berpikir jika aku seharusnya tidak berperilaku seperti ini setelah apa yang kamu lakukan buat aku" Didepanku dia hanya diam dan menatapku lekat " Terimakasih karena kamu sudah datang malam itu, dan maaf karena setelahnya aku malah pergi tanpa mengucapkan apapun pada kamu, aku tahu apapun alasanku harusnya aku tidak bersifat seperti itu" Namun setelah mendengar kata-kataku dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Harusnya aku yang minta maaf karena hingga akhir aku selalu berpikir semua akan berjalan seperti apa yang biasa aku lakukan, saat itu aku pikir kamu butuh waktu untuk bisa sembuh dengan membiarkan kamu sembuh sendiri dan saat aku pikir semuanya salah aku sudah benar-benar kehilangan kamu" dia menghela napasnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya "Aku sudah cari kamu kemana-mana tapi saat itu Caca bilang kalau seharusnya aku menghargai keputusan kamu untuk ga bilang ke aku kemana kamu pergi, jadi aku berhenti maksa buat cari kamu setelah aku pastiin kamu udah baik-baik aja" Aku menatapnya seolah menyelami mata yang sangat indah dan selalu aku sukai dan tersenyum, hal inilah yang selalu membuatku dapat jatuh padanya.


"Sam sekali lagi makasih udah anterin aku, maaf udah ngerepotin kamu. Dan Sam aku gatau alasan kamu bersikap gini ke aku itu apa, aku harap kita ga perlu terlalu sering bertemu seperti ini" Setelah pembicaraan kami tadi usai Samuel menawarkan untuk mengantarku kembali ke kantor dan kini aku sudah akan beranjak untuk keluar dari kendaraan yang sedari tadi mengantarkan kami. Namun belum sempat tangan ku membuka pintu mobil Sam lebih dulu menahanku dan membuatku menolehkan kepala untuk menatapnya "Apa ga akan ada kesempatan lagi buat aku Bel?" tanpa menjawabnya aku hanya menyentuh tangan yang sedari tadi menggenggam lenganku dan tersenyum sembari menurunkan genggaman tersebut sembari melanjutkan kegiatanku sebelumya untuk segera pergi dari tempat yang sempit ini. Aku bukan tidak ingin menjawab hanya saja aku benar-benar tidak tahu jawaban apa yang harus aku berikan padanya, karena ditengah keadaan kami ini aku bahkan tidak yakin dengan diriku sendiri.


Sedari pagi Caca dan Ayana sudah menerorku untuk mengajakku ke acara pesta ulangtahun teman kampus kami yang kebetulan diadakan di Jakarta dan di salah satu Club Malam dengan alasan sama-sama melepas penat benar-benar typical pergaulan anak-anak ibukota.


Pretty Gurl 🧚🏻


Casya Adeeva : Ayolah Bel sekali sekali gua ajak lo juga, gue bosen pergi berduaan sama Ayana mulu


Ayana Jasmine : Heh bisa bisanya lu ngomong gitu Ca, emang gue apaan sampe se ngebosenin itu


Bella Renjani : Tuh ca aya ngambek


Bella Renjani : wah parah gue dijadiin cadangan doang


Ayana Jasmine : Iya nih parah banget tuh manusia, bisa-bisa nya bilang gitu di hadapan para jomblo


Casya Adeeva : sorry sorry ga maksud nyinggung ya saudara-saudara hehe, jadi gimana Bel bisakan lo dateng


Bella Renjani : iya deh, tapi ga janji ya ca soalnya lagi banyak banget kerjaan kalo kerjaan gue kelar gue pasti dateng


Casya Adeeva : Oke sippp Bellaa


Seperti yang selalu aku katakan sebelumnya jika tentang Caca aku tidak akan bisa untuk menolaknya, Setelah menyanggupi permintaan Caca kemarin dan disinilah aku sekarang dengan mengenakan dress berwarna hitam selutut serta rambut yang aku biarkan terurai sepunggung dengan sedikit bergelombang serta riasan tipis di wajah. Aku duduk disalah satu kursi bar dengan minuman tanpa alkohol yang sedari tadi menemaniku, sesekali melihat kekananan dan kekiri melihat keramaian yang sangat memekakan telinga. Setelah barusan Caca dan Ayana berpamitan untuk pergi ketoilet meninggalkan aku yang duduk sendirian karena aku terlalu malas untuk menyelami keramaian yang membuatku pusing dan sesak. "Hai Bel, sempit banget ya dunia ini" sejenak aku terdiam mendengar sapaan tersebut dan kemudian perlahan menolehkan kepalaku untuk menghadap orang yang mengeluarkan suara tadi.