
"Sam aku cuma pergi sebentar buat kerja!" Seolah tidak rela dia melepaskan genggaman nya di lenganku yang sedari tadi di genggamnya dengan erat sejak kami sampai di bandara. "Nanti telpon aku ya!" Aku hanya melambaikan tangan kearahnya untuk segera berjalan menjauh darinya, kini aku berangkat bersama beberapa rekan dan juga Arjune "Cowo lo tuh emang ga ada kerjaan ya selain ngebucin?" Kini Arjune hanya menggeleng tidak percaya melihat kelakuan dari temannya tersebut "Tapi gemes pak!"kini salah seorang perempuan yang ada disampingku menyambung pembicaraan kami "Gaada yang begitu gemes Fiska, gue enek liatnya" Perempuan yang dipanggil dengan Fiska tersebut hanya merengut dan memajukan bibirnya tanda tidak setuju "Bapak aja yang ga pernah jatuh cinta makanya bisa bilang begitu" Tak mau kalah kini Fiska memandang Arjune dengan sengit dan aku hanya menggidikan bahu untuk segera meninggalkan perseteruan tersebut.
Belum genap sehari aku sampai di kota ini sudah terdapat beberapa panggilan dan pesan dari orang tersebut, kurasa memang orang ini sudah benar-benar menjadi budak cinta hingga aku pusing sendiri melihat kelakuannya "Kamu kapan pulang sih, aku ga tenang kalo kamu jauh gitu?" aku hanya tersenyum walau tidak dapat dia lihat tapi tingkahnya ini benar-benar membuatku gemas "Aku baru sampe hari ini loh Sam!" selanjutnya terdengar decakan kesal dari orang yang ada diseberang sana "Kamu tuh ya emang ga punya kerjaan apa, jam segini udah nyantai banget" kini dapat aku dengar dia yang menghela napas nya pelan "Aku sibuk tapi aku lebih sibuk mikirin kamu yang jauh disana" Tanpa dapat berkata apapun lagi aku hanya dapat tertawa mendengar kata-katanya tersebut. Obrolan kami siang ini begitu mengalir dan kini harus terhenti karena aku merasa akan menghambat pekerjaan nya jika terus seperti ini, dengan tidak rela dia pun ikut mengerti dan mematikan panggilan untuk lanjut bekerja.
"Kamu lagi ngapain?" Kini tampak orang yang ada diseberang sana menyapa pendengaran ku dengan tatapannya yang menatapku "Nih aku lagi makan, kamu udah makan?" Aku mengarahkan kamera ponsel ku kearah makanan yang ada dihadapanku "Ga ada seafood kan?" Aku hanya menggeleng "Gaada sayang!" kini dapat ku lihat dia hanya menganggukan kepalanya "Kamu udah makan?"kembali aku menanyakan pertanyaan yang belum dia jawab "Udah tadi di anterin Jordan kesini" Kini dia sudah mengarahkan bekas makanan yang sudah dia habiskan "Enak ya jadi Jordan, bisa liat kamu setiap saat terus bisa makan sama kamu juga" Hanya suara tawa nya yang mengema dan mampu membuat senyumku mengembang dengan sendirinya "Kamu iri sama Jordan?" tanpa mengatakan apapun kini aku hanya menganggukan kepala "Yaudah kamu pulang sini, biar sekalian kamu yang aku makan" kini senyuman jahilnya sudah menggantikan tawanya yang mengisi telinga ku beberapa saat lalu "Oh atau aku aja yang kesana?" Aku langsung menggelengkan kepala tanda tidak setuju atas usulannya dan sekarang tawanya sudah kembali terdengar ditelingaku.
Lima hari sudah aku berada di kota yang jauh darinya, dan Lima hari ini juga tidak hentinya dia menerorku dengan panggilan suara ataupun panggilan video juga dengan puluhan pesan yang memenuhi ruang obrolan. Namun hari ini tidak seperti biasanya, hari ini terasa sunyi tidak ada panggilan ataupun pesan darinya kecuali saat aku akan tidur semalam. Pagi ini aku sudah mengirimkan pesan namun tidak ada yang satupun yang mendapatkan balasan, dan kini aku sudah mencoba untuk menelponnya namun juga tidak ada sahutan dari seberang sana kini terdapat perasaan khawatir yang sudah memenuhi sudut hatiku dan membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Dapat aku lihat di ujung jalan sana Arjune menatapku dengan khawatir dan membuatku menahan napas sejenak menunggu kata-katanya yang akan keluar selanjutnya. Melihat tatapannya pada ku sekarang sudah dapat menjelaskan apa yang sedang aku pikirkan sekarang benar terjadi. "Bella, Maaf gue harap lo bisa tenang dulu. Gue dapet kabar kalau tadi pagi Sam kecelakaan".
Seperti biasanya aku selalu saja mendapatkan kabar yang bahkan terus saja membuatku sulit bernapas dan seperti biasanya aku selalu saja tidak memiliki waktu untuk bersiap akan hal ini. Tanpa dapat berkata apapun dengan susah payah aku menarik kaki ku untuk segera kembali kepenginapan dan segera bersiap untuk kembali menemuinya, dengan perasaan yang kacau dan hati yang bergemuruh aku berlari secepat mungkin untuk datang kepadanya. kenapa selalu saja seperti ini? Kini aku benar-benar takut namun aku tidak dapat lagi memikirkan apapun selain agar secepat mungkin aku bisa sampai menemuinya, menggegamnya dan memeluknya dengan erat. Aku benar-benar takut Tuhan! tidak jangan kali ini, jangan dia aku tidak akan sanggup jika harus dia Tuhan!