
"Jadi Bel menurut lo pengakuan atau komitmen" Caca dan Ayana menatapku bersamaan menunggu jawaban dari ku yang aku bahkan tidak tahu apa yang lebih penting dari itu. "Tapi ya Ay, banyak banget temen gue yang justru gagal karena terlalu berpatokan pada kata komitmen, kalo misalkan dia bosan dia cuma akan pergi tanpa mengatakan apapun dan saat ditanya kenapa gitu pasti dia akan jawab 'dari awal kan kita emang ga punya hubungan apa-apa kenapa harus diakhiri?' jadi gimana tuh" Caca yang tidak mau kalah seolah memberikan Ayana perluang untuk berdebat dengannya "Dasar temen lo aja yang bego itu, ga paham arti komitmen" dengan malas Ayana hanya mengibaskan tangannya didepan wajah dan melanjutkan kegiatannya untuk mengunyah.
"Jadi Sam yang mana Bel?" Aku membulatkan bola mataku dengan kaget saat Caca tiba-tiba berkata seperti itu "Lo jangan pura-pura kaget gitu deh Bel, gue tau lo lagi deket sama Sam waktu gue pergi sama Arsen dan lewat depan kantor lo gue liat lo gandengan sama dia" Aku berdeham dan mulai membasahi bibirku yang mendadak kering "Samuel yang gue kenal juga kan? emang iya Bel?" Kini Ayana juga ikut menatapku dengan kaget "Arsen juga bilang kalau Sam jemput lo terus, Pantesan aja dulu dia neror gue buat minta nomor telpon lo" Kini Caca menatapku dengan tatapan menahan amarah "Lo mau sampe kapan nyembunyiin ini dari kita? sampe lo tiba-tiba disakitin dan pergi lagi?"Aku mengerti kenapa Caca selama ini tidak pernah menyukai kehadiran Sam, dia sudah terlalu lama aku biarkan untuk salah paham.
"Ca bukan Sam yang nyakitin gue, tapi gue yang duluan ninggalin dia"Kulihat tatapan kaget Caca dan Ayana dengan apa yang baru aku katakan "Gue yang bilang cape sama dia, dan pergi tanpa ninggalin apa-apa buat dia. Tapi setelah gue ketemu dia lagi demi apapun perasaan gue gapernah berubah, gue masih sangat mencintai dia Ca,Ay" Aku menundukan tatapanku dari mereka karena tidak sanggup melihat mata mereka lagi, setelah berdiam beberapa saat kurasakan jika mereka berdua sudah memeluku erat dan mengusap punggungku "Gue bahagia dengan dia. Selama dia ada didepan gue, gue ga butuh apapun lagi" Tangan Caca dan Ayana terus mengusap pelan punggungku "Gue minta maaf Bel udah salah paham sama lo, gue seneng kalo ternyata lo bahagia sama dia, gue cuma takut lo terluka lagi" kini Caca sudah menggenggam jemariku dan menatap mataku, Aku mengucapkan maaf karena tidak pernah memberitahu mereka "Bella, gue ga bermaksud buat ngorek luka lama cuma gue masih ga ngerti sama kata-kata lo. Gue tau dulu lo juga sangat-sangat mencintai Sam sama seperti sekarang tapi kenapa lo milih buat ninggalin dia?"Ayana yang tadi hanya menyimak kini sudah mengeluarkan pertanyaan yang sebelumnya ingin aku jelaskan pada mereka "Saat itu gue ngerasa sulit banget buat kami Ay, Saat itu dia terlalu terfokus pada gue dan keluarga nya ga suka dengan dia yang begitu" Dua orang yang ada didepan ku saat ini hanya mengusap pelan lenganku seakan merasakan luka yang kembali aku buka "Jadi orang tuanya nemuin lo?" Aku hanya mengangguk sebagai jawaban "Dan lo tahu kalau saat itu juga adalah masa terberat buat gue, ayah yang sakit, keluarga gue kacau dan semuanya berantakan jadi gue pikir gue harus setidaknya melepaskan satu saja hal yang aku genggam, tapi saat aku melepaskan salah satu aku malah kehilangan semuanya" Mereka berdua kembali memelukku tidak kalah eratnya dan aku hanya menghembuskan napas dengan perlahan, setelah bertahun-tahun aku menyimpan rapat masalah ini kini aku harus menyingkap kembali luka yang sedari dulu tidak pernah mengering. Malam ini kami hanya menghabiskan waktu dengan terus bercerita hingga dapat ku lihat mereka berdua sudah tertidur di ranjang yang selalu aku gunakan.
Setelah hampir dini hari kami duduk di sofa dengan tangan yang saling bertaut dan dia yang terus bercerita mengenai harinya. Kini dia mulai berdiri untuk segera pulang, karena katanya Caca dan Aya pasti akan terganggu jika dia disana sampai pagi. "Sam, Kamu tahu kan kalau aku sayang kamu? Aku cuma ga terbiasa buat ngebicarain perasaan aku, soalnya aku canggung" Jemari atau lebih tepatnya jari telunjuknya yang sedari tadi aku pegang sekarang tangan itu sudah merengkuhku kedalam pelukan yang sangat aku sukai "Aku jadi gamau pulang. Liat kamu gemes gini, gimana nih?" Aku mendorong tubuhnya untuk melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah darinya. "Huss..Sana pulang, hati-hati dijalan" Aku melambaikan tangan ke arahnya seolah membuatnya cepat pergi dari sini. Hari ini aku sangat lega karena dapat mengeluarkan sedikit beban didadaku yang selama ini aku simpan untuk diri ku sendiri. Aku sangat berterima kasih pada tuhan karena sudah memberikan aku orang-orang yang begitu peduli pada ku.