You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Tiga Belas : Dia Sakit



Cahaya matahari yang sudah perlahan menyelip sela-sela gorden untuk menyapa orang yang ada didalamnya terasa sangat menyenangkan dan sangat indah, di sabtu pagi ini aku di bangunkan oleh deringan ponsel yang mampu memekakan telinga. "Halo!" setelah mendekatkan benda tersebut di telinga dapat aku dengar jika panggilan ini berasal dari orang itu, aku hanya berdeham kecil untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. "Bel, semalem kamu pulang jam berapa? kok ga bangunin aku sih? Kamu ga kenapa-kenapa dijalan kan?" Belum sempat aku menjawab sapaannya tadi dia sudah memberondongku dengan banyak pertanyaan yang entah dari mana aku jawab lebih dahulu. "Jam setengah 12 Sam, kamu kan lagi sakit ga mungkin kan aku bangunin kamu cuma buat anterin aku pulang" Terdengar helaan napas dari seberang sana seraya bergerak untuk duduk dan bersandar di headboard ranjang aku memijat pelan kepala ku "Bel jangan gitu lagi ya, bahaya pulang malem-malem gitu sendirian" aku hanya berdeham untuk meredakan kepanikan diseberang sana "Kamu gimana? Udah enakan? aku anterin makan mau?" entah apa yang ada dipikiran ku saat ini, aku yang bahkan belum melakukan apapun malah menawarkan untuk mengantarkan dia makanan "Aku jemput ya sekarang" Lagi-lagi dia menawarkah hal yang sudah pasti akan aku tolak, bagaimana mungkin aku membiarkan orang sakit untuk menjemputku "Eh gausah Sam, aku naik taksi online aja. Kamu tunggu aja disana ya" Dia hanya bergumam tak jelas setelah nya aku memutuskan panggilan dan segera bersiap untuk pergi menuju dimana dia berada.


"Aku beliin kamu bubur ayam, ga masalah kan?" Kini kami berdua sedang duduk bersisian di sofa yang semalam aku duduki dan seraya menyiapkan makanan yang tadinya aku bawa untuk nya dan dia hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. "Kok bisa sakit gini sih Sam?" setelah kami menghabiskan makanan yang aku bawa tadi kini aku menyerahkan obat untuknya dan disegera diterima olehnya. "Namanya juga manusia biasa Bel" Dia menjawab perkataanku dan aku hanya menepuk pelan lengannya "kayaknya kecapean terus kemarin waktu di kalimantan aku keujanan" dengan suara yang terdengar pelan dia menjelaskan jawaban yang aku inginkan dengan jemarinya yang bergerak untuk menggenggam jemariku dengan erat dan aku membalasnya dengan sama "Makasih ya udah mau nemenin aku, udah mau ngerawat aku dan maaf ngerepotin kamu" dengan senyum sendunya dia menatapku dalam, tatapan yang mampu membuat siapapun kagum dan tatapan yang mampu membuatku jatuh berkali kali padanya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengatakan apapun kearah nya.


Waktu demi waktu sudah berlalu tanpa terasa, kegiatan kami siang hingga sore ini yang kami isi dengan sesekali bergurau, menonton televisi, bermain game online dan tanpa terasa tibalah saatnya aku memutuskan untuk pulang karena dapat kulihat jika matahari yang tadinya meninggi diatas awan sudah terganti dengan bulan. "Harusnya gaperlu sampe nganterin gini, kamu kan lagi sakit Sam" Kali ini pria yang ada disampingku dengan terus menggenggam jemariku bersikeras ingin mengantarku hingga kedepan pintu apartemenku "Aku udah sangat sehat sekarang Bel, karena yang ngerawat aku kan kamu" dia mengatakannya dengan pelan dan kini tangan yang tadinya menggenggam jemariku sudah berpindah kesisi wajahku dan menatapku dalam, tanpa bisa mengatakan apapun lagi aku hanya mengangguk canggung dengan jantung yang berdegup sangat kencang "Yaudah kamu hati-hati dijalan ya. Aku masuk dulu!" Aku mengusap tangan yang menyentuh wajahku dan menurunkannya untuk segera menekan pin akses masuk, setelah pintu benar-benar terbuka aku melambaikan tanganku kehadapannya agar dia segera beranjak dari sana. Mungkin dapat aku katakan jika hari ini adalah hari terbaik sepanjang masa hidupku, dimana aku dapat seharian melihat wajahnya, menggenggam tangannya dan melihat senyumnya. Aku sangat-sangat menyukai momen seperti ini dan aku harap bisa terus merasakan hal ini bersamanya kedepannya