You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua Puluh Enam : Terimakasih Samuel!



Setelah tadi dia mematikan panggilannya dan aku yang memutuskan untuk kembali ke rumah sakit setelah mengetahui bahwa Abang yang pulang karena anaknya Aiden mendadak tidak enak badan. Disinilah aku duduk dengan tatapan kosong dan berharap semua yang ada didepanku saat ini akan cepat berlalu. Malam semakin menyelimuti ku dan dingin yang seakan menusuk ke sela pori-pori kulit aku berdiam diri tanpa melakukan apapun di kursi ruang tunggu setelah memastikan jika Ibu sudah terlelap di dalam ruangannya. Entahlah kini aku belum siap berada disana lebih lama, berada disana membuatku dapat terus merasa kembali ke masa itu, karena sebelum Ayah yang pergi secara tiba-tiba sudah beberapa kali aku menemani Ayah untuk berada ditempat itu dengann terus merapalkan doa agar semuanya baik-baik saja, sekarang semua itu membuatku terasa sangat sesak. Abang benar saat mengatakan jika aku bahkan tidak akan mau kembali kerumah itu lagi, namun untuk sebentar saja aku berharap dia akan menyisakan kenangan itu disana. Karena hanya itu yang menjadi tujuanku untuk datang kesana.


"Bella!" Ku dengar orang yang ada dibelakangku memanggil dengan sangat lantang dan membuatku segera terlonjak dan membalikan tubuh untuk melihatnya. Kini kurasakan pelukannya yang erat dan membuatku sangat tenang. Sejenak pikiran yang tadi bercokol di benarkku mendadak hilanng entah kemana "Terimakasih, karena ga pergi! Aku takut kehilangan kamu lagi" Seakan mengerti kata-katanya aku menepuk pelan punggungnya. "Akukan udah bilang, Aku gaakan ngelepasin kamu lagi, aku ga kemana-mana Sam. Ibu mendadak sakit jadi aku langsung kesini. Maaf" Hanya itu yang dapat aku katakan saat ini padanya. Tadinya aku benar-benar tidak berharap dia akan datang secepat ini pada ku, tapi kedatangannya saat ini mampu membuatku cukup akan segala hal dan lega akan segala masalah, Terimakasih Tuhan karena sudah menciptakan orang yang begitu mencintaiku.


Pagi ini sesuai dengan janjinya semalam kini dia sudah berada di ruangan yang sama dengan dimana tempat Ibu berada, Dengan pakaian yang sudah berganti dengan warna biru laut yang sangat cerah serta wajahnya sudah lebih baik dari terakhir kali aku melihatnya. Sejak dia menginjakan kaki di lantai yang sama dimana aku berpijak didepan ku dapat aku lihat tatapan Ibu dengan dahi yang mengkerut dan alisnya yang bertahun dia menatap pria yang ada didepanku kini "Selamat pagi Bu" Dapat aku lihat Samuel yang mengamit tangan ibu untuk kemudian menciumnya dan tidak lupa senyumannya yang cerah sebagaimana dengan cerahnya matahari pagi ini membuatku terasa hangat sekaligus berdebar. "Bu, Ini Samuel!" Beberapa detik terdiam kini Ibu mengangguk dan tersenyum padanya "Oh, Samuel. Ibu kira siapa, Kamu apa kabar nak?" Kini saatnya Ibu yang sudah menyapa Samuel "Kabar Samue baik bu, Sangat baik!" Sejak pertama kali bertemu dengan Ibu Samuel sudah memanggil orang tuaku sebagai mana aku memanggil mereka, "Nak Samuel jadi repot-repot nemuin Ibu kesini". "Mana ada repot bu, Sam seneng bisa datang. Ibu juga cepet sembuh biar bisa ajak Sam keliling Jogja" Tawa Ibu kembali terdengar diseisi ruangan dan obrolan mereka semakin lama semakin kian mengalir seolah mereka memang sudah lama kenal dan berjumpa, pagi ini aku hanya dapat tersenyum melihat pemandangan yang ada didepanku kini. Sekarang aku sadar bahwa seharusnya aku berjalan kedepan bukan terus menoleh kebelakang dan mulai menyembuhkan luka ku. Ayah aku tidak akan melupakan Ayah, Selamanya!. Hanya saja kini aku akan berjalan melangkah kedepan untuk melakukan satu- per satu mimpi kita yang sempat tertunda, Untuk semua rasa yang Ayah kasih aku akan selalu mengenangnya dan aku harap Ayah selalu bahagia disana.