
Malam itu tanpa mematikan panggilan aku berlari sekuat tenaga dan tanpa sempat bertanya alasan aku menuju jalan untuk pulang. Selama aku berada di kota ini hanya kali ini dia menelponku untuk memintaku pulang, sama seperti saat itu aku takut bertanya dan terus bertanya-tanya didalam otakku dan terus berharap agar apa yang aku takutkan tidak pernah terjadi. Dan kini disinilah aku sambil menarik napas dalam aku melangkah menuju ruangan yang sangat aku takuti seumur hidupku "Dek maaf abang telpon kamu malem-malem minta kamu pulang. Abang takut terjadi sesuatu sama Ibu" Aku mengangguk dan menatap kearah seseorang yang tertidur lemah di sana "Tapi Ibu udah lebih baik kok dek, kamu bisa pulang dulu sekarang besok baru kesini lagi" Aku hanya menggeleng dan berjalan kearah bankar rumah sakit dengan kembali menitikan air mata tanpa suara. Selama ini aku hanya peduli akan rasa sakitku, berpikir jika hanya aku yang terluka dan berusaha untuk menjauh dari apa yang aku punya sekarang.
Setelah mengatakan jika aku akan tidur dirumah sakit Abang sudah pamit untuk pulang lebih dahulu dan berjanji akan datang lagi bersama Mbak Dena. Seharian ini aku lihat ibu sudah benar-benar membaik dan akan pulang besok jika tidak terjadi lagi masalah apapun, Setelah mendengar penjelasan dari dokter jika ibu terkena hipertensi dan tidak boleh banyak pikiran lebih sekarang ini. Kini Abang, Mbak Dena dan Anaknya Aiden sudah datang dengan membawa berbagai macam makanan. "Dek kamu pulang dulu gih, Istirahat dulu" Setelah menghabiskan makanan yang dibawa oleh keluarga kecil ini Mbak Dena mulai mendekat dan menepuk punggungku. "Aku udah cukup tidur kok mbak, udah mandi juga" Aku tersenyum kearahnya dan mengangguk. Saat melihat Ibu dan cucu pertamanya serta mbak Dena sedang asik bermain aku mulai mundur untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan untuk bergabung dengan Abang yang sudah lebih dulu disana "Dek, Abang boleh ngomong sesuatu?" Aku hanya mengangguk dan menatapnya "Kita keluar dulu aja ya" Aku mengikuti langkahnya untuk segera berjalan kearah luar ruangan setelah sebelumnya pamit pada orang-orang yang ada didalamnya.
"Kenapa?" Saat sudah berada di taman rumah sakit yang sepi, mungkin karena jam yang masih menunjukan bahwa hari sudah sore banyak para keluarga pasien yang berkunjung sudah beranjak untuk segera pulang "Abang udah jual rumah yang di Bandung" Sejenak rasanya seakan dunia berhenti, mendadak kepalaku terasa pusing dan hatiku terasa diremas "K-kenapa?" setelah sejenak terdiam, dengan terbata aku mengeluarkan pertanyaan yang muncul di otakku "Kenapa gaada yang bilang ke aku? apa aku udah ga dianggap lagi dikeluarga ini?"Suara yang bergetar tidak dapat aku hindar, seakan semua hal yang menyakitkan datang menghampiriku secara bersamaan "Abang perlu mendesak kemarin buat nambahin modal Abang, Bel. Dan kamu tahu sendiri kalau kita ga pernah lagi kesana" Aku menghela napas yang sedari tadi terasa berat "Abang bilang waktu itu kalau Abang bakalan nempatin, Abang bohong?" Kini aku sudah menatapnya dalam "Abang ga bohong Bel, tapi sedikit banyak kehidupan Abang udah sepenuhnya disini" Aku menundukan kepala tidak sanggup lagi menatapnya, Tidak kali ini bahkan air mata ku tidak dapat lagi untuk keluar "Abang, Bella emang dari dulu ga pernah minta apapun setelah Ayah pergi tapi bukan berarti Bella ga mau apapun. Bella emang ga pernah berminat untuk minta atau memiliki apapun, tapi Bella hanya berharap jika setidaknya Abang peduli dengan apa yang mungkin berhubungan dengan Ayah" Aku menarik napasku panjang dan kembali menatapnya "Bella ga nangis di pemakaman Ayah bukan berarti Bella ikhlas dengan kepergian Ayah, tapi bahkan nangis gabisa menggambarkan rasa sedih Bella. Kemarin Bella ke makam Ayah untuk pertama kalinya setelah pemakamannya, karena sampai hari ini Bella masih ingat rasa dingin di tangan Ayah hari itu" Aku tidak tahu apakah mengatakan semua ini benar atau tidak hanya saja aku ingin mengeluarkan apa yang sudah aku lalui selama ini sendirian. Abang menggapai tangan ku namun dengan cepat aku berjalan mundur, aku belum siap dengan semuanya termasuk menghilangkan rasa kecewa yang saat ini aku rasakan.
Setelah tadi berbicara dengan Abang aku pamit untuk pergi kepada mereka, tanpa menatap Abang aku melangkah tanpa arah dan tujuan. Seolah mengingat sesuatu aku menghentikan langkah ku dan membuka tas yang sedari tadi aku bawa. Dapat ku lihat terdapat puluhan panggilan tak terjawab serta pesan yang hanya menanyakan keberadaanku, seakan mendapatkan tujuan aku mendial kembali nomor-nomor tersebut dan tanpa menunggu lama dapat aku dengar helaan napas dari seberang sana "Sam, kamu kenapa nelpon aku dari tadi?" Orang diseberang sana hanya diam dan lagi lagi menghela napas panjang "Sam, Aku mau pulang!" Tuhan hanya orang ini yang aku butuhkan "Aku kesana sekarang ya sayang, bilang kamu dimana?"Dia yang sedari tadi hanya diam kini sudah bersuara dengan sangat pelan dan menenangkan. Iya orang ini bagaimanapun itu selalu saja membuatku nyaman, tanpa memikirkan apapun dia akan melakukan apapun yang aku mau. Tuhan bisa-bisanya aku selalu menyusahkan orang ini. Tuhan aku menyayanginya, sangat!.