You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Empat Puluh Lima : Tidak akan aku lepaskan



Sore ini benar-benar sore yang menyenangkan dan melegakan sepanjang hidupku, untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk membagi beban dan cerita ku kepada seseorang yang kini sedang memelukku dengan erat serta usapan yang menenangkan membuat semua lelah yang kurasakan perlahan memudar dan menyisakan degupan jantung yang membuncah di dada ku. Entah apa yang sudah ku perbuat di masa lalu hingga aku mendapatkan balasan bersama orang ini. Seolah semua ketegangan yang terjadi kemarin hanyalah angin lewat, biarlah orang akan mengatakan apa tapi aku sudah bertekad tidak akan melepaskan orang ini apapun yang terjadi. "Sam, apapun yang terjadi tolong jangan lepasin aku ya karena aku cuma mau kamu. Kalau aku marah dan aku pergi itu bukan artinya aku benar-benar ingin pergi aku harap kamu tetap cari aku ya, aku percaya kamu" Dia menghela pelukannya dan menatap mataku dalam, dan kini senyuman yang teduh dan menenangkannya hinggap di bibirnya serta anggukan kepala nya yang mampu menularkan senyumannya ke bibirku. "Aku ga akan lepasin ini apapun yang terjadi" Dia mengangkat genggamannya dan mendekatkan nya ke bibirnya yang hangat "Maafin aku yang kemarin dan ayo kita mulai dengan benar kali ini" Melihat senyumannya, tatapannya dan perlakuannya membuatku tidak dapat menahan haru dan antusias yang memenuhi hatiku.


"Gapapa, Mama pasti seneng kamu datang kesini" Setelah perbincangan panjang dan kini aku sudah berdiri di hadapan rumah yang dulu sempat aku datangi, namun kali ini dengan suasana yang berbeda. Tangan hangat orang yang ada disampingku kini dapat menghangatkan tanganku yang entah kapan sudah terada dingin di bawah teriknya matahari siang ini, dia membimbingku untuk melangkah lebih dalam keruangan yang kini sudah terbuka lebar didepanku "Bella, Kalian udah sampai. Ayo masuk" Didepanku kini sudah disambut oleh wanita paruh baya yang kecantikannya tidak pernah luntur "Iya Ma" aku menerima uluran tangannya dan mengikuti langkahnya untuk mendekat kearahnya "Mama apa kabar?" Kini dia menarikku kedalam pelukannya yang hangat dan mengusap punggungku sejenak "Mama baik, Mama harap kamu juga" Aku mengurai pelukannya dan mengangguk padanya. Setelah menerima sambutan oleh Mama kini kami sudah duduk di sofa yang berada disalah satu ruangan yang ada dirumahnya dengan genggaman Mama Miranti yang tidak pernah lepas padaku "Mama minta maaf ya, kalau Sam ngerepotin kamu terus" tatapan wanita didepanku kini serasa masuk kedalam bola mataku serta tepukan ringan jemarinya di punggung tanganku terasa sangat menenangkan sekaligun membuatku merasakan rindu pada peran ibu yang selama ini aku rindukan "Bella yang terus ngerepotin Sam, Ma" Aku tersenyum pada wanita tersebut dan menundukkan tatapan ku padanya.


"Ma, Papa kemana?" Kini orang yang sedari tadi berada di sampingku mulai bersuara setelah sebelumnya berpamitan untuk ke toilet "Papa masih dijalan" Tanpa mengatakan apapun lagi dis hanya mengangguk dan kini Mama Miranti sudah mengangsurkan minuman dan camilan yang sedari tadi didepanku untuk segera aku cicipi "Di minum Bel, Mama buat kue nih. Kamu cicipin ya" Aku segera meraih teh yang sedari tadi berada didepanku dan tak lupa juga potongan kue yang diberikan Mama.


"Jadi kamu mau bicara apa?" Saat ini setelah menyelesaikan kegiatan makan malam bersama kami. Aku, Sam, Mama dan Papa sudah duduk berhadapan di sofa yang tadi aku tempati. Aku menundukkan kepalaku dalam tidak berani menatap Lelaki yang di panggil Papa oleh Sam ini " Sam dan Bella mau menikah, dan Sam mau minta Papa dan Mama meluangkan waktu kalian buat ikut Sam ke Jogja" Lelaki setengah abad tersebut mengangguk dan kini menatapku dengan senyumnya yang tipis "Jadi Bella mau sama anak Papa? Bella ga di paksa kan?"Seakan ketegangan yang sedari tadi kurasakan perlahan luntur melihat senyuman lelaki tersebut, Aku tersenyum dan mengangguk padanya "Papa apaan sih, ga mungkin dong aku paksa paksa Bella" Terdengar protes dari lelaki yang berada disampingku serta tawa ringan dari Papa yang mencairkan suasana kini. "Oke-oke, bagus kalau kalian ada niatan baik begini. Jadi kapan mau ke rumah Bella?" Sejenak Sam menatapku dan aku hanya mengedipkan mata karena pun aku tidak tahu mengenai rencana yang di buat oleh Sam "Minggu depan Pa" Aku membulatkan mata dan menatap Sam yang kini tengah menatapku dengan sangat yakin, namun tanpa memberikan penjelasan apapun kini Sam hanya menganggukan kepala nya dan menggenggam jemariku dengan erat "Kabarin Papa aja" Hanya itu kata yang terakhir aku dengar dengan pasti dari Papa karena setelahnya obrolan panjang di keluarga ini sudah beralih ke urusan bisnis dan pekerjaan yang memusingkan untukku.