
Tidak lama setelah lelaki pemilik unit ini meninggalkan ruangan yang tadi kami tempat berdua kini hanya tinggal aku sendiri yang masih berdiam diri dan menatap makanan yang masih belum habis didepanku. Setelah membereskan sisa-sisa makanan yang belum sempat aku habiskan, baru saja kaki ku menginjak lantai kamar terdengar suara panggilan yang berasal dari ponselku yang tergeletak diatas meja "Halo" Aku mendengar sapaan dari seberang sana saat aku sudah menempelkan benda pipih tersebut di telingaku "Kamu jangan mikir yang macem-macem sekarang mending kamu siap-siapin barang yang mau kamu bawa, nanti abis ini aku pulang" Aku hanya berdeham dan menghela napas panjang "Kamu beneran gapapa kalau aku pergi?" di seberang sana hanya terdengar kekehan ringan darinya "Aku udah gapapa sayang" kini aku menghela napas kembali saat paru-paruku sudah terasa sangat penuh "Kamu kalau mau balik ke apartemen bilang ya, nanti aku bisa jemput disana. Hati-hati kalau mau pergi" Aku hanya berdeham dan segera terdengar jika dia sudah harus mematikan panggilan, kini aku hanya terdiam dan membuka kembali ponsel yang ada digenggaman ku untuk membalas pesan yang Caca kirimkan pada ku tadi malam
Casya Adeeva : Bel, lo beneran gamau nyusulin kita kesini? bahkan rencana kita ini udah kita susun dari sebelum gue lamaran loh Bel. Dan setelah ini gatau kita bakalan liburan bareng lagi kapan, lo kesini ya Bel gue tungguin!
Bella Renjani : Iya gue nyusul nanti malem
Casya Adeeva : Beneran?
Bella Renjani : Iya Ca
Tanpa menunggu balasan lagi dari nya aku segera menutup ponsel ku untuk segera menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa. Seperti kata Sam tadi jika aku akan kembali ke apartemen ku untuk mengambil beberapa barang lagi yang akan aku butuhkan disana nanti.
"Sam kok bawa nya banyak banget?" Orang yang ada didepan ku kini hanya dapat menyengir dan terkekeh saat aku menunjuk banyak sekali macam tentengan yang dia bawa di tangannya "Aku gatau apa yang kamu pengen, tapi ini aku bawain Latte ice kesukaan kamu" Kini sebelah tangan nya yang menenteng satu plastik yang berisi cup minuman tidak lupa dengan senyuman nya yang selalu hadir "Barang-barangnya udah siap semua?" Saat aku sudah mempersilahkan dia untuk melangkah masuk dan menuju ke arah sofa yang ada di ruang tengah dia kini membuka beberapa makanan yang akan kami makan, aku hanya mengangguk dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa peralatan makan untuk kami gunakan siang ini.
Saat ini kami sudah berjalan berdampingan menuju ke arah yang bertulisan Check in, dengan tangannya yang masih menggenggam jemariku dan senyuman yang sedari tadi ditunjukkannya sudah perlahan menghilang "Katanya aku gapapa pergi, tapi ini apa?" Aku mengangkat tanganku yang sedari tadi masih menggenggam ku dengan sangat eratnya "Yaudah deh!"Dengan raut wajahnya yang terpaksa kini dia sudah melepaskan tautannya di jemariku "Nanti kalau udah sampe telpon aku ya! aku udah bilang ke Caca buat jemput kamu di bandara" Kini dia sudah menatapku dan menyerahkan tiket keberangkatanku yang sedari tadi dia bawa, Kini aku hanya dapat mengangguk dan mulai menjauh darinya "Kamu pulangnya hati-hati ya!" Dia hanya mengangguk dan tersenyum serta melambaikan tangan padaku untuk segera berjalan kedepan, aku membalas lambaiannya kemudian mulai memutar tubuh ku untuk segera masuk dan meninggalkannya.
"Gue kira lo ga bakalan dateng Bel" Baru juga kaki ku menginjak kota wisata yang dituju oleh Caca dan bertatapan dengan perempuan ini, dia sudah memberondongku dengan berbagai macam pertanyaan "Waktu itu Sam nelpon aku nanyain dimana gue" Aku menghentikan langkahku sejenak untuk dapat menyimak perkataan dari perempuan yang kini berada disampingku "Loh bukannya lo yang nyuruh Sam buat gue kesini?" perempuan yang ada didepanku kini hanya menggelengkan kepalanya dan menautkan alisnya saat menatapku "Mana berani gue nyuruh-nyuruh manusia bossy kayak Sam" yang aku tahu memang sejak kami berteman di masa kuliah Sam memang sangat disegani karena sifatnya yang dingin dan dia juga berasal dari keluarga yang terpandang oleh karena itu tidak banyak orang yang akan takut jika bersitatap langsung dengannya termasuk juga Caca "Bossy apaan sih, gemes gitu" tanpa menghentikan langkah ku dan menatapnya aku hanya menggumam kecil "Cinta emang buta ya Bel" Kini Caca menatapku dan membuatku tidak dapat menahan tawaku mendengar perkataannya. Mungkin benar kata orang jika cinta itu buta, buktinya aku yang dulunya tidak pernah menganggap dia terlalu penting kini aku sanggup bertekuk lutut pada nya, aku jatuh cinta pada orang itu.
Saat ini aku sudah bersama Caca, Aya dan Saskia yang merupakan teman kerja Caca yang cukup akrab dengan aku juga Aya, Kami berempat sudah duduk berhadapan di salah satu restoran yang ada di kota wisata ini juga tempat yang dekat dengan penginapan kami saat ini "Bel lo tahu kan kalo ini liburan kita-kita aja, jangan sampe deh lo ngajak pacar lo itu" Caca menatapku tajam dan membuatku dengan sulit menelan sate lilit yang baru aku masukan kedalam mulutku, memang rencana liburan kami kali ini untuk merayakan bridal shower Caca yang sebentar lagi akan segera melepas masa lajang, oleh karena itu sedari tadi Caca sudah mewanti-wanti ku untuk tidak menyuruh Sam datang kesini mengingat saat Caca dan Aya menginap di Apartemen ku Sam datang di tengah malam hanya untuk menemui ku sejak saat itu Caca dan Aya selalu saja mengungkit hal itu ketika kami sedang bersama "Ya ampun iya Ca gue inget dan gue paham jadi jangan natap gue gitu, kayak gue kriminal aja" Aku menggelengkan kepalaku dan menggidikan bahuku melihat kelakuan Caca saat ini "Halah sekarang aja bilangnya gitu gatau nanti malem itu laki udah dateng gara-gara kangen" Kini Aya yang sedari tadi hanya diam sudah mengeluarkan suaranya yang membuatku menundukan kepala, Aya ini terkenal dengan sifat pendiamnya yang sangat akut tapi kalau dia sudah berbicara siapapun akan diam karena perkataannya yang terkadang tajam dan tepat sasaran. Malam ini benar-benar kami habiskan untuk menikmati waktu seperti biasanya yang kami lakukan yakni bercerita tentang kegiatan kami selama beberapa hari kami berjauhan, pertemananku dengan mereka bukan juga pertemanan yang akan selalu bertemu setiap harinya namun saat kami bertemu kami akan selalu berusaha membuat pertemuan tersebut lebih bermakna dan begitulah pertemanan kami terjalin selama ini.