You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Empat puluh Empat : Samuel's POV



Setelah tadi teman-teman dari perempuan yang kini aku genggam pulang dengan sedikit paksaan dariku, kini hanya tinggal aku yang duduk di sisinya. Aku belum menghubungi orang tua dari gadis ini karena aku takut keluarganya akan khawatir dan membuat keadaan semakin kacau, mengetahui ibu dari perempuan ini juga dalam keadaan yang kurang sehat."Ada yang sakit?Mau minum?" Kini aku melihat mata yang sedari tadi terpejam kini perlahan membuka dan menampilkan mata indahnya, dia mengangguk dan menunjuk air mineral yang ada di dekat ku "Ini, pelan-pelan" Aku membantunya untuk duduk dan mengarahkan air mineral yang kini beralih ke tangannya, dia meneguknya perlahan dan mengernyit kan dahinya. Setelah selesai dia mengembalikan botol air mineral kearah ku, aku menggapainya dan kembali menggenggam jemarinya dan menciumnya singkat.


"Aku tahu kamu marah sama aku tapi untuk kali ini tolong dengerin aku dulu" Aku menatapnya dalam dan ibu jariku mengelus pelan punggung tangannya "Perusahaan aku kemarin sempat ada masalah dan Sekar datang buat nawarin kerja sama, tapi demi apapun aku juga baru tahu kalau dia anak dari pemilik perusahaan yang sedang bekerja sama dengan aku" Dia menatapku dan menyimak perkataanku, entah aku harus bersyukur atau bersedih karena dia tidak dapat berbicara sehingga dia dapat mendengar keseluruhan ceritaku kini. "Waktu aku ke Surabaya aku juga ga tau kalau dia bakal datang, karena kerja sama kami, aku juga ga bisa buat ngusir dia dengan begitu aja. Tapi juga aku takut kamu kecewa kalau tahu aku sama dia, tapi ternyata aku lebih salah karena milih buat nutupin ini dari kamu" Kini tatapannya melunak dan menundukan pandangannya "Kemarin aku udah mutusin buat mengakhiri semuanya karena bersalah sama kamu, tapi dia tiba-tiba nyerang aku waktu kamu datang. Aku minta maaf, harusnya aku lebih tegas dengan dia"Tanpa melepaskan genggaman ku aku terus mengusap punggung tangannya dan kini dia menatapku dengan air matanya kembali turun tanpa suara "Kamu jangan nangis lagi, rasanya disini juga sakit" Aku mengusap air matanya dan menujuk dadaku yang terasa sangat sesak, dia kini mengusap air mataku yang sudah turun tanpa seizin ku. Aku menangkap jemarinya yang menari diwajahku dan menangkupkan telapak tangannya di wajahku untuk sedikit meringankan beban ku dengan kenyamanan ini.


Lama kami terdiam dan menikmati usapan masing-masing hingga aku menatapnya dalam dan dia menarikku untuk duduk disampingnya dan memelukku erat. Tubuhku menegang untuk beberapa saat dan kemudian menjadi relax karena usapannya dipunggungku, aku tidak tahu jika pelukannya akan sangat menenangkan seperti ini, rasanya beban yang terasa beberapa waktu lalu kini sudah benar-benar hilang entah kemana. Aku menjauhkan tubuhku dan menatap mata bening nya dan menyelam disana, tatapan yang sangat menenangkan, tatapan yang selalu menjadi favorit ku. Aku bersumpah tidak akan membiarkan orang ini pergi dari sisiku selamanya "Aku ga pernah memikirkan orang lain selain kamu buat masa depanku, aku bukan ga mau buat membicarakan masalah pernikahan sama kamu tapi aku takut kamu yang belum siap menerima aku yang seperti ini dan berujung kamu pergi" Aku merangkum sisi-sisi wajahnya dan menyelipkan rambut-rambut yanng menghalangi ke belakang telinganya, seperti kata dokter bahwa dia akan kesulitan untuk berbicara kini dia hanya dapat menatapku dan tersenyum terkadang mengangguk saat mendengar perkataanku.


"Kamu punya segalanya, bahkan aku takut kamu yang akan kesulitan dengan semua kekurangan ku"Kata-katanya yang terdengar sendu kemarin terus saja terngiang di kepalaku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga kini aku dapat melihat mata nya dengan sangat dekat tanpa menunggu waktu lagi aku dapat merasakan jika bibir yang sangat aku sukai sudah berada di atas bibirku dan bergerak pelan disana. Aku meraup bibirnya dengan terburu seolah tidak ada hari esok, menyalurkan segala kerinduan dan kelegaan yang membuatku melambung diatas awan. "Bagaimana mungkin aku bisa berpaling dari bibir indah ini?" Aku mengusap bibir ranumnya dan menyatukan dahi kami agar dapat melihatnya lebih leluasa, wajahnya yang merona dan senyuman malu-malu darinya membuatku merasa jadi manusia paling beruntung didunia ini karena dapat memiliki orang seperti dirinya. Aku kembali mendekatkan bibirku dan menyerangnya dengan lembut. Seolah menyambut perbuatanku dia kini memberiku akses dengan menelengkan kepalanya dan membuka bibirnya agar aku dapat melesak kedalam sana. Dengan sedikit kesadaran yang kini aku kumpulkan dengan susah payah aku melepaskan cumbuanku mengingat kini kami sedang berada di rumah sakit dan dia sedang dalam perawatan. Aku menjatuhkan kepalaku di bahunya untuk meredakan gairah yang kini sudah terpatik karena cumbuan yang sangat menggairahkan "Jadi kamu mau buat hidup sama aku selamanya?" Tanpa menghentikan kegiatanku yang kini menciumi ceruk lehernya yang memiliki aroma yang menenangkan dan usapan tanganku yang tidak berhenti di punggungnya membuatku bersusah payah untuk terus mengontrol diriku, dan anggukan serta senyuman darinya kini mampu membuatku benar-benar merasa terbang diatas awan. Aku akan memilikinya dan tidak akan aku biarkan dia menjauh sedikit pun dariku, aku sudah benar-benar gila karena orang ini.


Tidak ada kata yang dapat menggambarkan kebahagiaan ku kini, sepanjang hari ini senyuman tidak pernah luntur dari bibirku bahkan kini bibirku terasa kebas. Efek dari senyuman dan anggukan darinya selamam benar-benar luar biasa, entah sudah berapa kali perempuan yang menjadi pelaku senyuman ini mengatai ku gila, apakah dia tidak tahu jika karena dia lah aku bisa segila ini. "Sam udah ih, jangan senyum-senyum gitu. Aku malu" Tangan kecilnya menepuk pelan lenganku yang kini membimbingnya untuk masuk ke mobilku yang akan mengantarkan kami pulang, tadi pagi setelah dokter memeriksa keadaannya dia diijinkan untuk segera pulang karena keadaannya sudah jauh lebih baik serta suaranya yang sudah kembali membuatku lega karena kini aku dapat mendengarkan kembali celotehannya. Aku menggenggam jemarinya dengan sebelah tangan memegang setir didepanku dan sesekali aku mendekatkannya ke bibirku untuk menciumnya singkat, aku benar-benar bahagia saat ini.


Setelah tadi dia meminta untuk pulang ke apartemennya dan meminta untuk makan siang dengan menu nasi padang, kini kami sudah duduk di ruang tengah dengan sofa yang selalu aku tempati saat berada disini. Aku yang merangkul bahunya dan dia yang bersandar di bahuku serta tayangan film dari layar televisi didepan kami mengisi keheningan di ruangan ini. "Sam, aku mau cerita boleh?" Dia yang memilin jemariku yang ada di bahunya aku menatapnya dari samping dan berdeham menyetujui permintaannya "Sebenarnya hubungan aku dan keluargaku ga pernah sedekat itu Sam, hanya sejak ayah pergi dan aku memutuskan buat pergi mereka baru terkadang mencariku" Aku kini menatapnya sepenuhnya dan membuat dia melakukan hal yang sama serta genggaman jemariku semakin mengerat pada jemarinya. "Dari kecil aku ga pernah di urus oleh mereka, aku tinggal dirumah nenek baru saat nenek meninggal aku diajak buat pulang tapi pulang juga ga menjamin kalau aku bakal ketemu mereka setiap saat, mereka sibuk buat kerja. Aku ngerti kalau kehidupan kami ga akan bisa berjalan jika aku memaksa mereka untuk terus sama aku karena aku bukan dari orang yang berutung punya banyak materi" Mendengar ceritanya membuat hatiku berdenyut, serta tatapan penuh lukanya yang aku yakin selalu dia simpan sendiri ini pasti sangat berat untuknya "Aku juga ga pernah di puji oleh siapapun, ga ada yang bangga atas apa yang aku lakukan bahkan ibu ga pernah muji aku atas semua usaha aku. Dari kecil aku terbiasa buat sembunyi karena takut akan tanggapan dari semua orang, hanya ayah yang selama ini selalu mendukungku" Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya "Bukan salah aku kan Sam kalau aku terlahir ga cantik, ga pinter dan ga membanggakan" Dia menunduk dalam dan aku menarik dagunya untuk menatap mataku, aku menggeleng.


Yang dikatakannya tidak benar, bagiku perempuan yang ada didepanku ini lebih dari apapun tidak ada yang lebih sempurna dari ini, aku mengusap lengannya yang tidak terbalut apapun menyalurkan hangat ke tangan yang sudah mendingin. Aku tahu pasti sulit baginya untuk mengatakan semua beban yang selalu dia bawa dan membaginya ke padaku "Terakhir kali aku bertemu mereka, aku benar-benar marah karena untuk kesekian kalinya mereka mengambil keputusan untuk menjual satu-satunya hal yang mengingatkanku pada Ayah. Aku tahu jika Rumah itu sudah tidak akan ditempati lagi, tapi itu satu-satunya yang ingin aku pertahankan dari Ayah. Apa aku tidak pernah berarti bagi mereka sampai aku tidak diperlukan saat mereka mengambil semuanya?" Kini mata itu menatapku dengan sendu dan menyiratkan luka yang sangat dalam, aku menariknya dalam pelukanku yang tidak kalah eratnya. Bagaimana punggung ringkih ini dapat melalui semuanya seorang diri? Apa aku terlalu terlambat untuk datang ke kehidupannya?, Aku mengusap lembut punggungnya dan dia mengeratkan kembali pelukannya serta membenamkan wajahnya di bahuku.


"Maaf karena terlalu banyak bicara, aku pasti ngebebanin kamu sama cerita ga penting ini" Dia menatapku bersalah dan kini aku hanya menggeleng dengab mantap "Aku yang terima kasih karena udah dipercaya buat dengerin hal ini, semua tentang kamu penting buat aku"Aku mengusap sisi wajahnya yang terasa hangat dan lembut "Dengar! ga ada yang salah sama kamu. Kamu sempurna mereka saja yang buta tidak dapat melihat manusia sesempurna ini" Kini wajah yang berada di telapak tanganku sudah memerah menampilkan rona yang sangat manis dan menggemaskan. "Aku harap setelah ini apapun yang terjadi kamu bisa membaginya dengan aku. Kamu bisa bilang apapun ke aku, kamu bisa minta apapun ke aku. Aku bakalan kasih semuanya buat kamu, mulai sekarang berdirilah dengan percaya diri karena aku bakal selalu lindungin kamu" Kini senyuman dibibirnya terbit dan air mata nya mendadak turun dari mata indah nya. Dengan cepat dia menyerbuku dengan pelukan hangat yang sangat erat dan menggumamkan terimakasih terus menerus padaku. Aku berjanji akan terus melindungi senyum indah tersebut menghiasi bibirnya.