You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Ketujuh : Pergi



Dalam hidup tidak ada yang aku sesali, aku tidak pernah menyesal saat aku bisa mengenal seseorang, jatuh cinta pada seseorang, hingga ditinggal pergi seseorang aku tidak pernah menyesal menghadapi fase itu karena aku tahu untuk bisa berada dititik terbaik dalam diriku adalah dengan melalaui fase-fase semacam itu. Begitu pun dengan dia 'Samuel Gavirera Gumawan' dalam fase pertemuan kami aku tidak pernah menganggap bahwa dia sebuah kecacatan dalam cerita ku, dia adalah anugerah dari tuhan untukku meskipun hanya untuk sebentar tapi itu sangat berarti. Bohong jika aku mengatakan bahwa tidak ada lagi tempat untuk dia di hatiku nyatanya setelah bertahun-tahun tetep dia yang ada di sana.


Namun aku cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan apapun lagi darinya karena inilah pilihan yang aku ambil sedari awal. Aku yang menyerah atas dia dan aku yang meninggalkan dia lebih dulu tanpa menoleh kebelakang lagi tanpa pernah memikirkan bagaimana keadaannya saat kutinggal begitu saja. Aku sangat mencintainya dulu hingga sekarang, namun cinta yang seperti itu aku merasa terlalu melelahkan dia dengan dunianya yang tanpa aku dan aku dengan duniaku yang seluruhnya ada dia. Aku juga tahu jika dia pun mencintaiku tapi aku selalu menyesalkan caranya mencintaiku, dia yang selalu berbohong demi kebahagiaan ku, dia yang selalu menghilang saat ada masalah juga demi melindungiku, bukan cara seperti itu yang aku inginkan untuk sekali saja anggap aku ada dan jadikan aku sandaran layaknya aku yang menjadikan dia penopang.


Dengan rentetan masalah dan kehilangan aku memutuskan untuk sejenak pergi dari semua kenangan itu, hingga akhirnya aku lupa kemana lagi jalan pulang yang harus aku tempuh. Dimulai dengan aku dan keluargaku yang memutuskan untuk pindah dari kota itu karena tidak ada lagi yang bisa kami lihat di kota itu, lalu sekarang aku yang pergi demi masa depanku seolah aku benar-benar sudah melupakan apa yang pernah aku punya dikota itu. Tidak, aku tidak membenci semua yang ada disana aku hanya belum siap mengingat luka yang dulu aku peroleh dari sana. Disanalah aku kehilangan orang yang sempat aku panggil 'ayah' dengan seluruh kenangan bahagianya,senyumnya dan dukungannya aku kehilangan semuanya dalam sekejap tanpa kata perpisahan dan tanpa pernah menyiapkan hati.


"Bel lo pernah kepikiran ga buat balik lagi ke Bandung?" Caca yang duduk didepanku dengan memeluk toples makanan menatapku dengan penuh harap "kok mikir gitu Ca?"Aku membalasnya tanpa menatapnya balik karena masih menikmati suguhan tayangan dilayar kaca yang ada diapartemenku, Caca yang sehabis bertunangan dengan kekasihnya Arsen Wijaya minggu lalu, sore ini dia menelpon untuk menginap di apartemenku dengan alasan bosan sendirian karena Arsen sedang pergi keluar kota.


"engga, yang gue tau kan rumah lo yang di Bandung juga kan masih ada kali aja lo mau nempatin lagi" suara perempuan itu beradu dengan suara pemeran utama yang ada di tv untuk masuk kependengaranku. "Ga tau juga Ca, kalo soal rumah itu mungkin nanti abang yang nempatin lagi. Dulu dia pernah bilang kalo mungkin dia bakal balik kesana kalau ada kesempatan dan Ibu cuma iya-iya aja sih" Aku menatap Caca sembari mengunyah kue yang sedari tadi ada di hadapanku dan mendapat jawaban seperti itu Caca hanya mengangguk dan mulai memperhatikan tayangan lagi.


Suara dentingan ponsel terdengar dari atas meja menandakan ada pesan masuk, dan dapat aku lihat bahwa pesan masuk tersebut berasal dari atasanku Arjune Sentono.


Bella Renjani : Baik pak


Pak Arjune Sentono : Untuk Materinya kamu bisa minta kesekertaris saya, terimakasih selamat malam


Bella Renjani : Oke pak, selamat malam


Entah apa yang sedang direncanakan takdir untukku hingga aku harus berada dikeadaan seperti sekarang ini, kenapa sekarang terlalu banyak kebetulan yang membuatku harus bertemu dan duduk di hadapannya.