You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua Puluh Satu : Maafkan Aku Ayah!



Karena hari masih sore dan kami belum ingin pulang, maka disini lah kami di salah satu tempat bermain di yang bernama 'Funcity' aku mengajaknya untuk bermain disini sembari menunggu teman-teman kami yang masih di dalam teater bioskop. "Sam yang ini aja, udah deket banget itu" Aku menunjuk boneka yang ada dikotak salah satu mesin capit yang sedang kami mainkan. "Aaa.. Akhirnya dapet juga" Tanpa sadar aku melompat girang didepannya dengan memeluk boneka kelinci kecil yang tadi didapatnya "Seneng banget kayaknya" dengan menepuk kepalaku dia tersenyum dan menggandeng tanganku untuk beranjak dari sana "Udahan ya, kita duduk dulu" Aku hanya mengangguk dan ikut berjalan disampingnya "Caca chat katanya mereka udah pada pulang" Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi menggulir benda pipih yang ada digenggamanku "Yaudah, kita beli minum dulu aja disana" Orang yang ada disampingku menunjukan disalah satu gerai minuman kopi terkenal. "Kamu mau apa?"Dia menatapku saat kami sudah berada didepan counter tempat memesan makanan "Ice Coffee Latte with normal sugar" aku merapalkan menu minuman yang yang selalu aku pesan saat berada disini "Oke mbak satu yang ice, satu yang hot ya" Kini dia menghadap kedepan counter dan menyampaikan pesanan kami "Dessert?" Dengan kembali mengalihkan tatapan kepadaku, aku hanya menggeleng sebagai jawaban untuknya.


Setelah mendapatkan pesanan kami, kami memutuskan untuk segera berjalan kearah pintu keluar mall. "Kamu beneran ga mau makan dulu?" Aku hanya menggeleng dan melangkah untuk masuk ke mobil yang akan mengantar kami "Sam kita ke apartemen kamu aja dulu ya, aku belum mau pulang" dia hanya mengangguk dan melajukan kendaraannya menuju ke tempat yang aku mau. "Sayang, tidur di kamar aja kalo ngantuk" setelah menginjakan kaki ke lantai apartemennya aku langsung menuju sofa diruang tengah dan merebahkan diri dengan memejamkan mata karena sedari tadi sudah menahan kantuk, kopi yang sedari tadi kuminum sudah tidak ampuh untuk menghilangkan kantuk yang aku rasakan. Aku menggeleng karena merasa sudah sangat nyaman berguling ditempat ini, tak lama terasa tubuhku yang melayang dan tak aku hiraukan karena kesadaranku sudah hilang sepenuhnya.


Jam 7 malam, saat membuka mataku aku menyadari jika aku sudah berada di ruangan yang pernah aku masuki sebelumnya. Kulihat dia yang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada dihadapannya "Kok ga bangunin sih kalo udah malem" Dia menoleh kearah ku dan mengulurkan tangannya agar aku duduk disebelahnya "Kamu tidurnya nyenyak banget sih" Aku mulai duduk disebelahnya dan menyandarkan punggungku ke sofa "Aku laper!" dengan mata yang masih terpejam aku dapat terasa dia sedang menoleh kearah ku "Mau makan apa?" Aku membuka mataku dan menoleh ke arahnya yang sedang menggulir ponsel pintarnya "Nasi goreng aja deh" Setelah berpikir sejenak aku mengeluarkan usulan yang langsung disetujuinya. Malam ini seperti malam-malam biasanya yang aku habiskan bersamanya selama beberapa bulan terakhir sejak aku menemukan dia kembali, rasanya tetap sama. Aku sangat bahagia bisa menikmati alunan suaranya yang dapat membuat jantungku berdegup kencang, senyumnya yang terus mengisi ingatanku dan semua perhatiannya yang selalu membuatku nyaman, Aku bahagia dengan semua itu.


Pagi ini aku melakukan kebiasaanku seperti biasanya, bedanya kali ini setiap paginya aku akan selalu mendapatkan pesan ataupun panggilan darinya yang mampu membuatku tersenyum sepanjang hari. "Beda banget ya kalo orang yang lagi jatuh cinta, senin pagi gini udah senyum-senyum aja" Dapat ku dengan celetukan dari Alisa yang berlalu dibelakang ku "Eh Alisa udah dateng" Aku melambaikan tangan untuk menyapanya "Iya udah dari tadi juga. Eh hari ini lo ada meeting sama tim marketing ya Bel"Aku mengangguk padanya kemudian dia lanjut menanyakan hal-hal yang membuatku sadar bahwa sekarang aku harus berjibaku dengan berkas-berkas kantor lagi. Hari ini Samuel sudah memberi tahu jika dia tidak akan datang karena masih ada pekerjaan, tidak seperti biasanya saat beberapa bulan ini dimana aku selalu pulang bersamanya kini aku harus berjalan sendiri dengan ditemani angin sore serta hiruk pikuk ibukota yang menyesakkan.


27 september, Tidak seperti tahun-tahun kemarin. Tahun ini aku memutuskan untuk datang lagi kesana, ketempat yang sudah lama tidak aku datangi. Kini aku sedang berada didalam mobil angkutan umum yang akan mengantarkanku kesana, tanpa memberi tahu siapapun kecuali Arjune dimana aku tidak akan masuk kerja pada hari ini tanpa memberi tahukan alasan apapun. Aku hanya ingin menikmati hari ini dengan diriku sendiri karena hari ini adalah hari yang selalu aku sesali sepanjang hidupku. "Selamat ulang tahun ayah!" Didepan nisan yang membuatku terluka aku kembali menangis tersedu "Ayah, Bella minta maaf karena terlalu lama buat berani datang kesini. Bella juga udah bandel disini yah, Bella suka diem-diem makan seafood padahal ayah udah berapa kali bilang kalo Bella gaboleh gitu. Maafin Bella Ayah, maafin Bella yang udah pergi terlalu jauh" Air mataku tanpa bisa dicegah kembali menetes, seolah semua air mata yang selama ini sudah aku simpan mendadak ingin turun dengan dada yang sangat sesak aku meletakan bunga yang tadi aku bawa dan berdiri untuk segera pergi dari sini.


Aku berdiri didepan bangunan yang sudah lama tidak didatangi oleh siapapun, terlihat dari warnanya yang sudah usang dan banyak rumput liar disekelilingnya. Seolah dapat melihat semua yang terjadi ditempat ini aku kembali meneteskan air mataku, terngiang tawa yang dulu selalu menggema di telingaku serta orang-orang yang berada ditempatnya sebagai kebahagiaan ku yang kini tidak aku temukan dimana-mana lagi. Namun satu yang membuatku lebih terluka dari apapun, aku melupakan wajahnya. sebagaimana pun aku berusaha mengingatnya aku tidak bisa menemukan apapun, aku sudah terlalu jauh pergi hingga aku lupa untuk pulang.


Malam sudah menyapa, matahari yang tadi menerangi setiap jalanku kini sudah tergantikan dengan bulan yang temaram. Setelah pulang dari tempat itu entah apa yang aku pikirkan karena kini aku sudah berdiri ditempat ini, tempat dimana kebahagiaan yang aku temukan beberapa waktu lalu. Lama aku berdiri didepan pintu yang tertutup rapat tanpa berniat menekan bel ataupun memberitahunya. Perlahan dapat aku lihat ada pergerakan dari pintu yang ada didepanku kini, dia yang hendak berlari dengan raut wajah dan penampilan yang kacau kini tertahan saat melihatku berada didepannya. "Bella!" Dengan tergesa dia menarikku kedalam pelukannya yang sangat erat, membuat hatiku yang sedari tadi sangat gelisah kini sudah terasa sangat lega. Ya, yang kubutuhkan memang hanya dia. Tangisanku seketika pecah kembali dipelukannya, sama seperti 6 tahun lalu, hanya dia yang dapat membuatku jadi seperti ini. Setelah puas dengan tangisanku dia menarikku untuk masuk kedalam unitnya dan duduk disofa yang selalu kami tempati dengan pelukannya yang menenangkan aku memejamkan mata untuk menenangkan pikiranku "Kamu kemana aja, aku hubungin ga bisa, aku cari juga ga ketemu" Dengan mengelus punggungku dia mulai mengeluarkan suaranya dengan nada panik yang belum hilang "Sam!" Aku menarik napas panjang dan membuangnya perlahan "Hari ini ayah ulang tahun" pergerakan yang ada dipunggungku mendadak berhenti digantikan dengan tepukan ringan, yang seolah mengatakan 'tidak apa-apa', "Tapi Sam, Aku bahkan udah ngelupain wajahnya, suaranya dan tawanya. Aku udah berusaha buat nginget semuanya tapi aku gabisa nemuin apa-apa" Tidak ada lagi tangis hanya ada helaan napas kasar yang aku keluarkan "Ayah pasti benci aku Sam!". Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasaanku saat ini, aku benci pada diriku sendiri yang sangat tidak tahu diri ini. Bisa-bisanya aku melupakan yang seharusnya aku ingat seumur hidupku, aku merasa sangat bersalah padanya. Maafkan aku ayah!.