You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Delapan Belas : Komitmen?



Setelah beberapa saat dia menatap kearah Sam "Loh ada Bella juga, kalian balikan lagi?" Perempuan tersebut kini menatapku dan memberikan seringai yang tidak dapat aku artikan "Iya nih, Sekar belanja disini juga" Aku ingat perempuan ini, dia yang dulu selalu mengganggu hubunganku dengan Sam, bukannya tidak tahu diri dengan mengiyakan pertanyaannya barusan aku hanya terlalu tidak suka dengan perempuan yang ada didepanku kini."Yaudah kita lanjut lagi ya sekar" segera aku menarik tangan Sam untuk meninggalkan perempuan itu menjauh. "Aku mau pulang aja"Dengan perasaan yang mendadak memburuk aku menariknya untuk berjalan menuju kasir "Emang udah selesai semua?" tanpa memberikan jawaban aku berjalan lebih dahulu dan meninggalkan dia dibelakang "Sayang, kamu kenapa?" bisa-bisanya dia bertanya tanpa membaca keadaan yang ada "Kamu seneng kan bisa ketemu mantan disini, makanya gamau pulang" aku menghadap kearahnya dan dia hanya tersenyum menatapku "Kenapa tadi diem aja? terpesona gitu liat dia?" kembali perkataanku hanya dibalas dengan tawa renyahnya dan tangan nya yang terulur untuk mengusap puncak kepalaku. "Kok ngomong gitu sih, dari dia juga ga ada apa-apanya di bandingin kamu. Kamu kan yang paling cantik sedunia ini, udah jangan cemburu gitu. Aku cuma sayangnya sama kamu doang" Perasaan marah yang tadinya aku rasakan sudah tergantikan dengan perasaan salah tingkah akibat dari perkataan gombal nya "Yuk, katanya mau pulang" dengan menggandeng tangan ku kami berjalan menuju ke kasir. Diperjalanan pulang kami hanya diam dengan aku yang sedari tadi mengatur napas karena jantungku yang bedetak tidak karuan, efek perkataannya memang seluar biasa itu. "Sam kamu sayang aku kan?" Lagi-lagi aku mencoba mencairkan keadaan didalam kendaraan ini "Banget! gaperlu ditanya lagi" kembali aku tersenyum dengan lebar seakan bibirku sudah terasa kebas karena sedari tadi aku terus tersenyum "kalau di rate 1-10, sayang ke aku berapa?" Seakan berpikir dia terdiam sejenak "10000-10000" Orang ini memang sangat handal membuatku kembali salah tingkah "karena kalau di marvels bisa ngasih i love you 3000 buat anaknya, kalau aku bisa kamu lebih dari itu jadi i love you 10000, biar ga ada kembaliannya" Dia mengalihkan tatapannya yang sedari tadi di jalanan menghadap ke arahku dan tersenyum dengan lebih lebar membuatku tersihir untuk ikut tersenyum. Sore ini juga kami habiskan bersama dengan semua perasaannya yang tercurah untukku dan aku yang dengan sukarela menerimanya tanpa menyisakan apapun.


"Sam Sam Samuel" Aku berlari menyusulnya kedapur yang tadinya berkata ingin berganti pakaian dan mengambil minum dan meninggalkan aku yang bermain game online diruang tengah "Kenapa sayang?" Entahlah aku sudah terlalu nyaman saat dia memanggilku seperti itu hingga kini aku hanya membiarkannya saja "Aku hampir kalah nih, bantuin" Dia hanya tersenyum dan meletakan gelas yang isinya sudah tandas dia minum sembari mengacak rambutku dia meraih ponsel yang sedari tadi aku genggam "Sini, jangan keseringan main game sayang. Nanti nambah-nambahin stress" aku tersenyum dan menyerahkan ponsel kepadanya dan berjalan mengiringinya menuju keruang tengah. Dapat aku lihat dari belakang jika dia sudah kembali berpenampilan segar dan tampan seperti biasanya karena sehabis mandi dan berganti pakaian yang dia ambil dari mobilnya. Lagi-lagi aku harus mengagumi ciptaan tuhan yang satu ini.


"Ca, Ay menurut kalian penting ga sih sebuah pengakuan kaya tembak menembak di usia kita gini" Saat ini kami sudah duduk di karpet bebulu yang ada di ruang tengah apartemen ku dengan berbagai macam makanan cepat saji sudah ada didepan kami "Kalo menurut gue ya penting banget, Karena dimana-mana pengakuan itu perlu Bel supaya terhindar dari segala macam godaan. Terus saat kita punya status yang jelas kita jadi punya hak buat mempertahankan status itu dan hubungannya jadi lebih nyata aja" Sembari mengunyah makanan yang sedari tadi ada dihadapannya Caca menjelaskan hal itu dan membuatku seperti tertampar "Tapi ya Ca menurut gue, ga selamanya hubungan yang tanpa pengakuan pacaran itu gagal kok, yang terpenting diusia kita itu komitmen, percuma kalo ada pengakuan tapi ga punya komitmen" Kini Ayana yang sedari tadi hanya diam mulai berkata yang kata-katanya lebih membuatku sadar akan satu hal. Kami tidak pernah ada dalam satu hal apapun, dia tidak pernah memberiku pengakuan dan dia tidak pernah membicarakan tentang komitmen. Apakah dari awal semuanya sudah ku mulai dengan salah?