You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Empat Puluh Satu : Samuel's POV



Melihat dia yang terlalu berlebihan setelah aku pulang dari rumah sakit membuatku senang sekaligus juga merasa tidak enak. Apalagi melihat perubahan wajahnya saat membaca pesan dari salah satu temannya yang kini sedang berada di salah satu kota wisata di indonesia. Setelah tadi dia tertidur aku mengambil ponsel nya dan melihat apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya,


Caca : Bel kita udah rencanain ini dari sebelum gue lamaran, masa iya tiba-tiba lo ngga dateng sih?


Hanya itu chat terakhir dari perempuan itu yang dapat aku baca, langsung saja aku segera menghubungi perempuan itu untuk menanyakan keberadaannya yang kini aku ketahui sedang berada di salah satu tempat wisata yang terkenal dengan pemandangan pantainya yang sangat indah yaitu Bali.


Aku menekan salah satu nomor yang ada di layar ponselku kini, setelah beberapa saat panggilan tersebut mendapat sahutan dari seberang sana "Jo tolong pesenin tiket ke Bali buat besok sore atas nama Bella, nanti gue kirimin datanya" Terdengar sahutan dari seberang sana yang menandakan orang tersebut mengerti, dan tanpa menunggu jawaban darinya aku segera mematikan ponselku untuk segera bergabung di samping perempuan yang kini sudah terlelap dengan sangat nyaman di sisi kasur ku. Ini adalah impian ku bisa melihatnya sebelum aku tidur dan menjadikan dia orang pertama yang aku lihat saat aku bangun sungguh aku sangat bahagia saat ini bisa bersama orang yang sangat aku harapkan didunia ini.


Pagi ini setelah mengatakan jika aku meminta nya untuk pergi ke Bali dia hanya diam dan menunduk, aku mengerti jika saat ini dia tidak ingin ikut karena memikirkan keadaanku tapi hal ini membuatku merasa bersalah karena terlalu membebaninya. Setelah kembali meyakinkannya kini dia mau untuk ikut pergi ke Bali bersama teman-temannya.


"Pak saya harap nanti bapak tidak terlalu terkejut saat berada di dalam, karena asal bapak tahu salah satu pemegang saham terbesar dari Wijaya corp itu karyawan bapak sendiri Sekar Wijaya yang merupakan anak bungsu dari Andra Wijaya" Aku menghentikan langkahku dan menghadap kearah orang yang kini berjalan disampingku, setelah kemarin aku mengetahui jika keadaan kantor sedang kacau karena perang tender yang sedang terjadi yang mengharuskanku untuk datang, kini aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi, jika dia pemegang saham terbesar kenapa juga bekerja menjadi karyawan ku.


"Jadi Sekar sekarang itu udah resign?" Jordan didepan ku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi, apakah semuanya memang sekebetulan itu atau memang semuanya sudah direncanakan, aku yang tiba-tiba bermasalah dengan perusahaan tersebut dan Sekar yang tiba-tiba resign dan kini kembali ke perusahaannya. "Menurut lo ini memang sekebetulan ini atau udah di rencanakan?" Jordan dihadapanku kini menatapku dan diam sejenak "Menurut saya tidak ada yang namanya kebetulan pak, dari gosip yang saya dengar dari karyawan lain kalau Sekar itu sudah mengincar bapak dari lama. Bisa jadi ini salah satu usahanya pak" Aku mengangguk dan menyetujui perkataan Jordan, sejenak aku memijat pangkal hidungku meredakan denyutan yang ada dikepala ku saat ini.


Dapat mendengar suaranya meskipun hanya dari panggilan suara sudah membuat kepalaku menjadi tenang dan mendadak beban pikiranku yang sedari tadi membuat kepalaku pusing seakan menghilang dan hilang entah kemana, dia memang sangat ampuh menjadi obat ku. Kini aku sangat yakin jika hanya dia yang aku butuhkan didunia ini. Dapat mendengar gerutuannya mengenai tingkah teman-temannya, melihat semua ekspresinya dan sifat manjanya yang hanya dia tunjukan padaku membuatku merasa sangat dia butuhkan benar-benar berharga untukku.


Sesuai dengann rencana kemarin kini aku sudah berada di lokasi pembangunan yang akan menjadi salah satu kerja sama Gumawan Grup dan Wijaya Corp, Namun kini yang membuatku sedikit marah kenapa tiba-tiba perempuan itu sudah berada disini sebagai perwakilan Wijaya saat ini juga aku sadar jika perempuan yang ada didepanku kini amat sangat licik. Dengan senyuman yang tidak luntur membuatku merasa jijik dengannya. "Kenapa ga ada yang bilang kalau Sekar yang jadi perwakilan?" Aku menatap Jordan yang kini hanya menunduk dan menatap berkas-berkas yang ada di hadapanku "Di berkas ini juga sebenarnya tidak ada penjelasan mengenai hal ini, tapi mau bagaimana lagi pak kita juga semua tahu kalau dia salah satu dari Wijaya" Aku hanya memikirkan bagaimana aku akan menjelaskan hal ini pada Bella jika dia bertanya, seperti yang aku tahu Bella benar-benar tidak menyukai perempuan itu. Aku tidak ingin membuatnya bersedih karena hal ini. "Sekar kerja dikantor kamu ya? kok kamu ga pernah bilang ini ya ke aku?"Entah apa yang dia pikirkan saat ini dan entah siapa yang memberi tahukan hal ini padanya, dia yang tidak pernah menyinggung hal ini tiba-tiba saja hari ini dia mengatakan hal yang aku pikir tidak akan dia tanyakan dalam waktu dekat. Aku tahu jika Bella benar-benar tidak menyukai Sekar hanya saja aku pikir mereka sudah lama tidak bertemu jadi dia tidak akan menyinggung mengenai perempuan itu karena itulah aku merasa tidak pernah ada urusan dengan perempuan itu, hingga kini mungkin akan ada sedikit urusan saat mengetahui dia juga ikut bersamaku di kota ini. "Sekar memang udah lama kerja di kantor aku, tapi kita ga terlalu sering ketemu" Selain kebohongan untuk menenangkannya yang sedang jauh disana tidak ada lagi yang dapat aku katakan padanya, hingga panggilan pun ditutup aku tidak dapat menceritakan jika kini aku bersama orang itu disini.


Seharian ini aku sudah mencoba untuk menghubungi Bella namun tidak ada satupun panggilan atau pesan yang di balas olehnya, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya hingga begitu menghindariku atau memang dia sedang sibuk bersama teman-temannya. Namun setelah pembicaraan mengenai Sekar semalam seolah sikap nya sangat berbeda. Seharian ini juga aku sudah merasa tidak tenang karena sudah menyembunyikan sesuatu darinya serta dia yang tiba-tiba menghilang. Hingga malam tiba dan akhirnya dia mengangkat panggilan dariku untuk mengatakan jika dia sedang berada di Club bersama teman-temannya, membuatku sedikit lega namun juga khawatir. Kini dia dengan cepat mengakhiri panggilan tanpa mengatakan apapun semakin membuatku merasa cemas dengan keadaannya.