
Sudah berhari-hari aku merasa hubungan kami sudah benar-benar tidak tahu arahnya, dan kini pun aku sudah terlalu lelah untuk menanyakan kenapa dia berubah karena dia tidak pernah memberikan ku satu jawaban pun. Sesuai dengan niat awalku pagi tadi kini sepulang dari kantor aku tidak langsung untuk kembali ke apartemenku namun kakiku menuju ke apartemennya untuk mencari keberadaannya. Saat kaki ku sampai di ruangan ini hanya sepi yang aku rasakan tidak ada tanda-tanda manusia didalam sini akupun meraih ponselku yang sedari tadi berada di dalam tas ku, beberapa kali hanya terdengar suara panggilan yang tersambung namun tak kunjung di angkat olehnya "Kemana sih?" Aku bergumama dan kembali mengetikan pesan kepada orang itu untuk menanyakan keberadaannya, setelah beberapa saat pesan tersebut dibalas dengan singkat yang mengatakan jika dia masih di kantor dan tidak akan pulang cepat.
"Maaf Jo gue ganggu, gue boleh minta tolong tunjukin ruangannya Sam?" Setelah sampai di gedung yang kutuju dapat aku lihat di ujung sana orang yang aku kenal hendak berjalan keluar, dengan cepat aku menahannya untuk mengantarku kepada orang yang menjaadi tujuan ku saat ini. Entah apa yang aku pikirkan hingga kini aku sudah berada di tempat yang dia katakan barusan yang diatas pintunya terdapat tulisan 'CEO' saat sebelumnya aku diantarkan oleh Jordan hingga dapat berada disini. Dengan perasaan ragu dan takut aku mendorong pintu besar itu perlahan dengan sangat pelan hingga pintu itu benar-benar terbuka dan dapat menampakan orang yang ada didalamnya, aku memejamkan mataku sebentar untuk kembali menajamkan penglihatanku dan memastikan apa yang aku lihat saat ini salah. Dapat aku lihat disana dia orang yang aku cari dan aku khawatirkan beberapa hari ini sedang menikmati cumbuan dari seorang perempuan yang bahkan dari belakang pun dapat aku ketahui siapa orangnya. Seolah terganggu dengan kehadiran ku dia kini menatapku dengan matanya yang membulat kaget dan aku yang hanya dapat membeku ditempatku kini. Rasanya kini hatiku terasa amat sesak hingga aku sulit untuk menarik napas karena dadaku yang kini terasa amat berat.
"Bella" Kulihat dia sudah menjauhkan perempuan itu darinya hingga perempuan tersebut jatuh kelantai, kulihat mereka bergantian dan menatap matanya meminta jawaban atas apa yang kini aku lihat "Sayang" Kini dia mendekat kearahku dan menggapi lenganku, seolah tahu akan keadaan ini kaki ku secara tiba-tiba berjalan mundur menjauh darinya menjauh dari jangkauannya hingga tangan yang tadinya ingin menggapai lenganku turun dan mengurungkan niatnya, "Ini ga seperti yang kamu lihat Bel" Saat ini aku tidak tahu harus mengatakan apa pun padanya selain mencoba untuk menarik napas dalam dan menahan debaran serta nyeri yang ada didada ku kini "Bisa kamu suruh pergi dulu orang itu? we need to talk about somethin, right?" Aku menatapnya dan menunjuk wanita yang ada dibelakangnya sebentar "Bisa lo keluar sekarang!" Tanpa menatap orang yang ada dibelakangnya dia mengeluarkan bentakannya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, kulihat wanita itu berjalan melewati kami tanpa mengatakan apapun dengan Sam yang menggiringnya kemudian mengunci pintu itu dengan rapat "Sam kalau kamu bosan sama aku, kamu bisa bilang tapi ga kaya gini caranya" Dia menggeleng dan kembali menggapai jemariku yang langsung aku tepis "Ini ga seperti yang kamu pikir" Elakannya kali ini membuatku merasa muak dan rasa sesak itu kembali terasa jelas didadaku "Jadi ini alasan kamu berubah akhir-akhir ini?" Aku menatapnya dalam dan tidak terasa air mata yang sedari tadi aku tahan kini sudah meleleh dengan sendirinya.
"Sayang, kamu jangan ngomong gitu. Ini semua salah paham" Aku sudah tidak sanggup lagi menatap matanya, mata yang dulu selalu aku suka, senyum yang selalu menenangkan kini terasa menyesakkan "Oh jadi ini alasannya kenapa kamu ga pernah bahas hubungan kita, karena memang aku ga pernah ada dalam rencana masa depan kamu?" Kata-kata Caca beberapa waktu lalu kembali terngiang saat dia mempertanyakan kenapa tidak pernah ada obrolan mengenai masa depan saat kami menjalin hubungan diusia sekarang. "Sam beberapa waktu lalu aku berpikir kalau kamu beda, saat kamu bilang aku masa depan kamu aku sempat berpikir kalau mungkin akan ada kesempatan aku berharap kalau kamu mau serius sama aku"Aku menatap kedalam matanya yang kini sudah menggenang air disana "Apa yang dia punya tapi aku ga punya? are u slept with her?" Suaraku seakan tercekat mengucapkannya, mengetahui jika apa yang aku pikirkan kini terasa sangat menyakitkan.