
Dapat aku rasakan jika dia kembali mendekatkan wajahnya dan dengan sangat perlahan dia dan hati-hati dia mulai merebahkan diriku agar dapat lebih nyaman, tangan yang dari tadi berada di lehernya aku eratkan seolah takut jika hari ini akan segera berakhir. Dia yang menyentuhku dengan hati-hati seolah aku adalah benda yang rentan untuk pecah membuat perasaanku kembali membuncah dan hatiku terasa penuh, setelah kesadaranku kembali aku melonggarkan dekapanku pada dan memanggil namanya dengan pelan dia yang saat ini sedang bermain diceruk leherku segera menatapku dan sedikit menjauhkan dirinya kemudian beringsut untuk kembali duduk dengan benar, sembari membantuku untuk duduk juga disampingnya. "Maaf aku kelewatan ya" kulihat wajahnya yang penuh dengan penyesalan mengenyuhkan hatiku, tanganku yang bebas segera menariknya untuk dapat mendekapnya dan mengusap punggungnya pelan dan dapat kurasakan jika dia mulai mengeratkan pelukannya seolah takut jika aku akan meninggalkannya. "Kamu ga denger, jantung akau rasanya mau copot Sam" setelahnya kudengar tawa kecil darinya dan kembali mengeratkan dekapannya.
Lama kami saling mendekap di sofa yang tadi kami tempati, dan kini kami hanya berdiam diri dengan pikiran masing-masing dan dapat kurasakan jari-jarinya yang memainkan rambutku dengan dia yang mendekapku dari belakang saat kami sama-sama merebahkan diri disofa yang sempit ini. "Sam udah jam 12 nih, aku mau tidur kamu gamau pulang gitu" Setelah sebelumnya diam aku mulai bersuara "Kamu ngusir aku nih?" aku hanya menggelengkan kepala yang sedari tadi dia mainkan, aku berputar dan menghadapnya "Yaudah kalo gamau pulang kita kekamar aja, nanti badan kamu sakit kalo tidur disini" Dia hanya tersenyum dan menarikku untuk segera bangkit dari sofa "Ayok!" Aku menarik tangannya untuk ikut bersamaku "Kamu jangan nawarin siapapun gini selain aku ya" dengan tangannya yang terulur untuk menyambut tanganku dan kekehannya yang khas membuatku tertawa dan menepuk lengannya ringan "Enggak lah gila"dia semakin mengeraskan tawanya dan menggelengkan kepalanya.
Dapat kurasakan hangat dan silau yang berasal dari jendela yang masih tertutup dengan sempurna, lingkaran erat dipinggang terasa semakin mengerat membuatku perlahan membuka mata dan melihat dia sedang menatap kearahku dengan senyum yang sangat cerah bahkan lebih cerah dari matahari pagi ini. "Apaan sih liat liat" aku menutup wajahku untuk menyembunyikan rasa malu yang hinggap "aku seneng banget, bangun tidur bisa liat kamu" dapat terasa jika dia mengeratkan pelukannya untuk kembali mendekatkan dirinya padaku "hmm masa sih" aku merapatkan diri kearahnya untuk kembali menutupkan mata menikmati usapan tangannya yang tidak berhenti dipunggungku. "Sam kamu masih suka pulang ke Bandung?" kurasakan usapan tangannya berhenti sejenak namun kemudian berlanjut lagi "Udah jarang, mama sama papa udah diJakarta semua" Aku mengangguk kan kepala dan tak lama kemudian dapat aku rasakan tangan yang tadi mengusap punggungku sudah menyusup memasuki kaosku dan lanjut mengusapnya disana "Sam tangannya ih"dia hanya tertawa dan tetap melanjutkan kegiatannya "Samuel ih!" Bukannya menghentikan dia malah tertawa semakin kencang "Apa sayang" Kini aku yang terdiam karena ucapannya dan kembali menelusupkan wajahku kedadanya. "Kamu ga laper?" setelah beberapa detik berdiam dan menikmati alunan detak jantungnya dia mulai mengeluarkan suaranya yang hanya aku balas dengan gelengan kepala serta dehaman "Tapi ini udah hampir siang, kamu mau makan apa?" aku hanya mengeratkan pelukanku pada tubuhnya karena enggan untuk menjawab pertanyaannya "Mau Ayam goreng? kita pesen atau drive thru?" karena sedari tadi tidak mendapatkan jawaban dia akhirnya menawarkan hal yang sangat sulit untuk kutolak "Drive thru aja deh" dengan perlahan dia menuntunku untuk segera beranjak dari tempat tidur "Ayok! kamu siap-siap dulu sana aku mandi dikamar mandi luar" tanpa menunggu balasan dariku dia sudah berjalan menuju pintu dan menutup nya rapat. Selesai dengan kegiatan siap-siap dia mengamit tanganku untuk segera keluar dari unit apartemen yang sudah aku tempati 3 tahun belakangan ini.
Setelah meninggalkan restoran cepat saji tempat kami makan pagi sekaligus siang, kini kami sudah berada di salah satu supermarket yang ada didekat apartemenku sesuai dengan perkataanku sebelumnya jika dia akan menemaniku untuk berbelanja. Dengan tangannya yang mendorong troli yang sudah berisikan beberapa perlengkapanku dia terus saja melancarkan gombalan recehnya "Kamu tahu gak, kamu sama coklat ini kalah manisan kamu" tuhkan lagi-lagi dia seperti tidak pernah kehabisan kata-kata "Udah Sam, kamutuh receh banget" Tawa yang sedari tadi tidak berhenti menggema mengundang air diujung mata untuk keluar, sambil mengusap ujung mataku dia sudah akan berkata lagi namun aku berjalan cepat meninggalkanya yang sedari tadi memanggil namaku. "Hai Samuel!" suara seseorang mulai memasuki gendang telingaku dan membuat aku dan Sam segera menatap kearahnya, dan setelahnya aku hanya merapalkan doa kepada tuhan agar kini aku tidak perlu lagi berurusan dengan orang ini.