You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Empat Puluh Tiga : Samuel's POV



Gedung yang sudah sepi ini membuat suara dan langkah kaki kami menggema dengan lantang, aku mengejar dan berusaha menangkap tangannya namun dia langsung menepis tanganku "Kamu mau kemana?" Dia menatapku tajam dengan matanya yang memerah karena air mata "Jangan ikuti aku!" Kini dia menatapku dengan tatapan yang penuh luka dan lagi-lagi membuat dada ku berdenyut nyeri. "Aku anterin ya" Lagi-lagi aku menggapai tangannya dan kini dia menatapku tanpa mengatakan apapun, namun tatapannya seolah mengatakan untuk tidak melakukan apapun. Aku menurunkan genggaman ku pada jemarinya dan membuatkan dia melangkah menjauh dari hadapanku.


Dapat aku lihat dari tempatku kini berdiri dia yang menaiki taksi untuk menjauh dari gedung ini, dengan langkah yang cepat aku menuju parkiran untuk berusaha menemuinya kembali. Tidak akan aku biarkan dia meninggalkan ku kembali. Dengan langkah terburu aku berjalan menuju gedung apartemen yang kini dia tempati, aku pikir dia akan menuju kesini untuk pulang namun hingga beberapa saat aku berada disini tidak ada tanda-tanda dia akan pulang dan hal ini cukup membuatku benar-benar ketakutan. Aku merogoh ponsel yang sedari tadi berada dalam saku celana kain ku dan menekan layarnya untuk menyambungkan panggilan pada seseorang "Sayang kamu dimana sih?" Aku bergumam seraya menempelkan ponsel tersebut di telinga menunggu panggilan yang aku lakukan tersambung namun hingga dering nya usai panggilan ku tak kunjung tersambung.


"Ca, Sorry gue ganggu. Bella lagi sama lo?" Belum sempat perempuan diseberang sana menjawab ku, sudah terdengar suara lelaki yang mengambil ponsel nya dari tangan perempuan tersebut "Lo tenang Sam, Bella ada disini" Terdengar sahutan tidak suka dari perempuan tersebut saat Arsen si lelaki menjawab ku dan memberitahukan keberadaan Bella "Oke th-"Helaan napas diseberang sana terdengar kasar "Awas aja lo kesini" Dia menyela perkataan ku dengan kata-katanya yang sangat tajam dan langsung memutuskan sambungan dengan sepihak.


Aku melangkahkan kaki ku menuju tempat dimana perempuan memakai dress floral yang sangat aku cintai berada, aku mengetuk pintu besar yang ada didepanku dengan tidak sabar. "Sam"Seorang lelaki kini membuka pintu yang ada didepanku kini dan menatap ku dan belakang nya bergantian. "Siapa?" Terdengar suara perempuan yang aku ketahui sebagai sahabat Bella kini sedang menatap sengit kearahku. "Gue udah bilang jangan kesini" Dia menatapku dengan sangat tajam seolah dapat melukai siapapun yang ada di hadapannya "Ca, Gue perlu bicara dengan Bella" Aku menatap perempuan tersebut dan lelaki disampingnya bergantian "Lo buat ulah apalagi kali ini?" Kini aku tak dapat mengatakan apapun padanya karena ini semua hanya salah paham, dimana dia datang disaat yang tidak tepat seolah aku melakukan kesalahan yang mengundang pikiran buruk nya. "Bella, kita bicara dulu sebentar ya" Dapat aku lihat perempuan yang sedang aku cari sedang berdiri di belakang pemilik rumah dan membuat pemilik rumah dan kekasihnya menoleh ke belakang dimana dia berada. Kini dia hanya menggeleng dengan wajahnya yang sudah pias dan hidungnya yang memerah karena tangis, aku benar-benar bersalah karena membuatnya sudah seperti ini "Aku mohon, ini salah paham Bella. Kita bicara dulu ya jangan kayak gini" Aku berusaha melangkah mendekatinya dan lagi-lagi dia berjalan mundur dan menggelengkan kepala tanda menolak ajakanku." Aku gamau!" Kepalanya tertunduk dan menjauh dari jangkauan ku. "Tuh dia gamau, mending lo pulang deh!" Perempuan yang sedari tadi menatap ku dengan sengit kini berusaha mengusir ku.


Kini aku sudah duduk di ruang tengah rumah ini setelah tadi pemilik rumah mengajak Bella untuk naik ke kamarnya dan kekasih nya yang sedari tadi hanya diam kini mengajakku untuk duduk disini. "Gue ga tau apa masalah lo kali ini, tapi gue harap ini memang salah paham Sam" Aku menatap lelaki yang kini mengangkat gelas teh yang sedari tadi ada didepan kami "Gue ga mungkin ngekhianatin dia Sen, lo tau sendiri perjuangan gue gimana sampai bisa dititik ini" Lelaki tersebut hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun lagi. Lelaki yang ada disamping ku kini dialah salah satu orang yang sangat tahu bagaimana aku kemarin saat kehilangan dia. Bagaimana aku yang sangat hancur dan bagaimana aku yang berusaha mendekatinya, dia yang paling tahu. "Besok. Besok gue bakalan bujuk Caca buat bicara dengan Bella"Aku mengangguk dan menyesap minuman yang ada didepanku seraya menenangkan kepala ku untuk berhenti berdenyut "Mending lo pulang dulu, dan tenangin diri lo" Aku menggeleng dan menatap orang yang ada disampingku kini "Gue pastikan dia ga akan kemana-mana lagi, lo bakalan bikin dia makin ga nyaman kalo terus disini dan Caca makin marah sama lo" Sejenak aku terdiam dan memikirkan kata-kata lelaki tersebut "Oke gue bakalan kesini lagi besok pagi, gue pegang kata-kata lo. Makasih banyak" Aku beranjak dari dudukku dan menepuk singkat punggung lelaki tersebut.


Pukul 7.00 malam. Hingga kini belum ada satupun pesan yang di baca olehnya, Malam ini aku memutuskan untuk mengunjunginya jika masih belum ada kepastian darinya. Kesabaran ku sudah benar-benar habis. Belum sempat aku menekan nomor yang akan aku hubungi kembali kini terdapat panggilan dari perempuan yang kini menjadi sahabat dari Bella "Kenapa Ay" Helaan napas kasar terdengar dari seberang sana "Gue pikir lo harus tau, tadi tiba-tiba aja alergi Bella kambuh Sam" Mendadak napasku tercekat mendengar kata-kata nya yang mengalun ditelingaku, kini mengetahui jika perempuan yang sangat aku cintai berada dalam bahaya makin membuat dadaku benar-benar kesulitan untuk bernapas seolah ada batu besar yang menghantam dadaku, kini aku benar-benar ketakutan.


Setelah mengetahui dimana Bella berada kini kakiku terayun dengan cepat menuju ketempat dia berada. "Gimana Bella?" Aku menatap dua perempuan yang kini berada didepanku bergantian "Dia masih didalam, tadi sempat sesak napas makanya langsung dibawa ke igd" Aku menatap tajam perempuan yang berada didepanku yang sedang menjelaskan keadaan dari perempuan yang ku cintai "Kok bisa tiba-tiba kambuh sih?" Aku mengacak rambutku meredakan kepala yang terasa akan pecah "Dia makan abis makan kepiting asam pedas, gue udah bilang buat jangan makan kepiting tapi dia ngotot pengen makan itu" Aku menghembuskan napas pelan dan menutup mata sejenak, yang aku tahu selama ini Bella tidak pernah memakan kepiting tanpa diolah menjadi frozen food, mungkin saja hal itu dapat terjadi karena memang selama ini dia hanya alergi makanan itu. Aku menoleh saat pintu yang sedari tadi tertutup kini sudah terbuka lebar menampakan seorang pria berjas putih yang kini menatap kami bergantian "Gimana dia dok?" Aku menatap dokter didepanku dan meminta penjelasan darinya "Sekarang dia sudah lebih baik, tapi karena tadi tenggorokannya sempat membengkak mungkin nanti dia akan sedikit kesulitan untuk berbicara" Aku hanya mengangguk saat kini dokter yang ada didepanku sudah berpamitan untuk pergi dari hadapan kami, dan mengijinkan kami untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


Setelah pintu ruangan itu terbuka sepenuhnya dapat aku lihat perempuan yang sedari kemarin memporak porandakan hatiku sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku mendekatinya dengan perasaan campur aduk, kali ini aku gagal menjaga nya ku genggam tangan yang selalu menjadi favorit ku dan ku dekatkan dengan bibirku kuhirup dalam-dalam aromanya yang selalu menjadi candu ku. "Maaf" Hanya itu yang kini dapat aku katakan padanya untuk sekedar meredakan denyutan jantungku yang menggila didalam sana.