You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Tiga Puluh Lima : Ayo Kita Nikah



"Ayo kita nikah!" Kini aku sudah benar-benar menatap matanya apa yang sekarang ini dia benar-benar serius dengan perkataannya atau kali ini hanya bercanda. Sejak kami kembali bertemu hingga hari ini dia ataupun aku tidak pernah membicarakan mengenai pernikahan seperti ini, bukan karena aku tidak ingin memiliki masa depan bersamanya hanya saja aku masih terlalu berkecil hati untuk menganggap nya akan mau dimasa depanku. "Sam, kamu tuh apaan sih. Kalau mau bercanda itu cari topik yang lain aja!" Aku hanya menatapnya sebentar kemudian berlalu untuk segera menyiapkan makanan yang hampir jadi "Apa aku terlihat lagi bercanda, look at me Bel!" Mau tidak mau kini aku sudah menatap dalam matanya yang kini sangat serius tanpa adanya senyuman yang biasanya dia tunjukan pada ku "Apa selama ini kamu ga pernah mikirin buat ke langkah ini Bel?" Seolah membeku karena tatapannya aku benar-benar tidak dapat mengatakan apapun lagi saat ini "Saat kemarin aku terbaring di rumah sakit hanya ini yang aku pikirkan Bel, aku ga akan sanggup kalau harus kehilangan kamu karena saat dalam keadaan seperti itu hanya wajah kamu yang aku lihat" Kini kedua jemarinya sudah merangkum wajahku dan menatapku dengan sangat tulus yang mampu nembuatku kembali menitikan air mata ku "Kamu kalau ngelamar tuh yang niat dong!" kini wajah yang ada didepanku kini sudah menunjukan senyumannya kembali dan membuatku menghembuskan napas dengan pelan "Masa didapur terus aku lagi jelek gini sih, ngerusakin ekspektasi aku aja" Kini tawa dari bibirnya sudah terngiang ditelinga ku dan tangan yang tadi berada di wajahku sudah menepuk pelan kepalaku "Cantik gini" Kembali dia menundukan tatapan nya untuk menatap ke mata ku yang mampu membuat debaran jantungku kini sudah menggila "Apaan sih" Dia kembali tertawa dengan keras saat aku sudah menepuk pinggangnya dengan pelan. Tawa yang saat itu aku nantikan kini dapat aku lihat dengan sepuasnya membuat perasaanku sangat penuh dan debaran yang kini tidak dapat lagi aku kendalikan. Setelah aku bertemu kembali dengannya bukan tidak mungkin aku selalu memikirkan tentang masa depan ku yang akan selalu bersamanya, namun seperti yang selalu aku katakan bahwa aku terlalu tidak percaya diri untuk membayangkannya karena dari awal memang kami sudah berbeda, berbeda dalam segala hal.


Bahkan sudah berjam-jam dari perkataannya mengenai pernikahan tersebut namun efeknya hingga kini yang masih membuatku merasa campur aduk, salah tingkah dan debaran itu masih sangat menggila. Dentingan dari ponsel ku yang berada di atas meja mengalihkan tatapanku dari tayangan yang ada di layar kaca yang kini menyala "Sam tolong dong ambilin handphone aku" Aku menunjuk ponsel yang berada lebih dekat dengan lelaki itu, Tanpa menjauhkan dirinya dari ku yang saat ini sedang bersandar padanya, dia mengangkat lengannya untuk menggapai benda pipih tersebut. "Kenapa?" Dapat aku lihat dari ekor mataku jika saat ini lelaki yang ada disamping ku kini tengah menatapku saat aku masih belum mengalihkan tatapanku dari ponsel ku "Oh ini Caca sama Aya mau liburan ke Bali" Aku bergerak untuk mematikan ponsel genggamku dan menatapnya, dan kini dia hanya dapat mengangguk "Kayaknya penting deh sayang" Aku mengalihkan tatapanku untuk kembali menatap ke arah ponselku yang berada di dekatku "Biarin aja, Mereka emang berisik" Seolah tidak percaya akan perkataanku dia kembali menatapku dengan tajam "Yakin?" Aku hanya dapat mengangguk dan kembali meyakinkannya jika itu bukan masalah besar.


"Yaudah kalau mau kerja, kerjanya disini aja" Saat ini kami sudah berada di kamarnya setelah sebelumnya dia memaksaku untuk tidur disini dan dia akan melakukan pekerjaannya di ruangan kerja nya " Iya-iya, tapi kamu tidur"Dia menatapku dan mulai mendudukan dirinya di sebelahku. Terdengar kembali dentingan ponsel yang mengalihkan tatapan ku darinya dan mulai menggapai ponsel yang sedari tadi berada di meja yang ada disampingku. "Udah jangan liat handphone terus" Kini tangan besarnya sudah menutup mataku dan kini hanya nyaman yang aku rasakan yang segera mengundang rasa kantuk.


"Kamu udah mau ke kantor?" Pagi ini saat aku bangun aku sudah melihat dia yang berpakaian rapi "Iya aku ada meeting pagi ini, kamu lanjut tidur lagi aja" Tanpa mengindahkan perkataannya aku kini sudah beringsut untuk duduk dan menatapnya "Terus aku ngapain kalau kamu kekantor?"Kini dia berjalan mendekat dan mencium pipiku singkat "Hari ini sabtu sayang kamu istirahat aja disini aku bakalan cepet kok" Aku hanya mendengus pasrah dan kembali merebahkan diri sebentar untuk kemudian mengikutinya berjalan keluar kamar "Gajadi tidur?" dia sudah membalikan tubuhnya dan membuatku menghentikan langkahku mendadak "Aku laper" Kini dia hanya tersenyum dan menggiringku ke meja pantry "Toast bread?"Dia mengangkat roti yang dia ambil ke arahku dan aku hanya dapah mengangguk dan melihatnya dari kejauhan yang kini sedang menyiapkan makanan untukku. "Kayaknya kamu udah sehat banget ya, sampe nyiapin makanan buat aku" melihatnya yang kini mengangsurkan sepiring roti dan susu kehadapanku dia hanya terkekeh singkat "Sayang, aku minta maaf kalau aku udah lancang tapi aku udah pesenin tiket buat kamu nyusul Caca ke Bali nanti malem" Dengan susah payah aku menelan roti yang baru aku kunyah didalam mulut ku, dan menatapnya yang kini sudah menatapku "Sam! aku kan udah bilang gamau" Aku menghembuskan napasku dan menundukan pandanganku kearah roti bakar yang ada di tanganku "Mana bisa aku liburan kalau aku cuma nge khawatirin kamu disini" Aku menatapnya dan dia hanya diam tanpa mengatakan apapun "Hei, seperti yang kamu lihat aku udah bener-bener sehat sayang" Entahlah apa yang ada di pikiran ku sekarang atau apa yang dipikirannya sekarang hanya saja aku terasa berat untuk meninggalkannya dengan keadaanya seperti ini, jika kata orang dia yang sangat membutuhkan ku berada disampingnya mungkin sekarang aku akan mengatakan nya sekarang bahwa sebenarnya aku lah yang sangat membutuhkan orang ini untuk terus berada dalam jangkauanku.