
Kali ini dengan napas yang belum beraturan serta detak jantung yang tidak karuan aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam bangunan dimana semua orang akan menitikan air mata, entah itu air mata kesedihan ataupun kebahagiaan namun yang aku tahu jika bangunan ini sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Setelah mengetahui lokasi rumah sakit tempat dimana Samuel berada kini aku sudah berlari tanpa karuan untuk segera melihat wajahnya, dan selalu berharap jika nanti aku melihatnya dia sudah dapat tersenyum melihat kehadiran ku. Namun harapan terkadang hanya sebatas harapan tidak semua harapan akan berjalan seperti yang kita pikirkan, kini yang aku lihat diujung lorong sana terdapat Jordan dan Fabian yang menundukkan kepalanya sebelum kemudian menatap kearah ku "Bel, Sorry ga ngabarin lo langsung gue takut lo kenapa-napa" Beberapa kali aku bertemu secara tidak sengaja saat aku diapartemen Samuel ataupun saat melakukan panggilan Video bersama Samuel dan orang itu aku ketahui namanya sebagai Jordan dan sebagai sekertaris Samuel. Kini aku hanya dapat menitikan air mataku tanpa dapat mengatakan apapun lagi. Kakiku yang sedari tadi berlari kini untuk berdiri pun sudah tidak sanggup lagi "Bel duduk dulu!"Dapat aku rasakan rengkuhan tangan Fabian yang menangkapku saat aku hendak jatuh dan membimbingku untuk duduk dikursi panjang yang sedari tadi mereka duduki "M-mana Sam?" Aku menatap mereka berdua bergantian "Dia ada di dalem, masih diperiksa. Tadi dia sempat sadar terus muntah dan sekarang dia pingsan lagi" Aku menatap ruangan yang tadi ditunjuk oleh Jordan dan tanpa bisa dicegah lagi air mata yang sedari tadi menumpuk di mataku kini sudah berjatuhan.
Setelah beberapa menit duduk dalam diam bersama dengan dua pria di sampingku kini para dokter sudah terlihat saat pintu ruangan itu di geserkan "Gimana keadaannya dok?" Dokter hanya mengangguk dan menarik tangan ku "Dia sudah sadar tapi mungkin akan sulit mengajaknya berbicara karena masih dalam pengaruh obat dan setelah observasi lebih lanjut mungkin kita perlu melakukan rontgen keseluruhan termasuk bagian kepala, untuk wali nya nanti bisa langsung keruangan saya untuk mengetahui lebih detailnya, Saya sarankan untuk jangan terlalu banyak pembesuk dan terlalu berisik karena pasien sedang istirahat total" Aku mengangguk dan tanpa sadar kembali menangis entah tangisan lega atau tangisan khawatir aku tidak tahu yang mana aku rasakan sekarang, Setelah kepergian dokter aku segera membuka kembali pintu yang ada dihadapanku kini dan melangkahkan kaki untuk masuk lebih dalam di ruangan yang dingin dengan bau yang sangat tidak aku sukai. Sejenak aku terdiam menatap orang yang kini sedang tidak sadarkan diri di bankar putih serta berbagai macam selang yang menempel pada tubuhnya.
"Hai, aku udah pulang nih! Maaf ga dateng lebih cepet" Kini aku tidak dapat lagi menahan tangis ku saat aku sudah menggenggam jemari yang biasanya menggenggamku dengan erat kini terasa sangat lemah. "Kamu cepet pulih ya, biar kita bisa pulang. Kamu udah janji loh mau ngajak aku makan ayam sepuasnya" Kudekatkan jemarinya yang terasa dingin tersebut ke bibirku, aku sungguh tidak bisa lagi berbuat apapun saat melihat dia seperti ini. "Bella?" Aku menegakan badanku untuk melihat orang yang ada dibelakang ku kini "Mama" Wanita yang kini berada dihadapanku kini menarikku kedalam pelukannya dengan erat dan mengeluarkan tangisan nya pelan, Wanita yang dulunya selalu aku panggil tante kini sudah berganti panggilan sejak terakhir kali aku ikut makan malam bersama keluarganya "Sam pasti ga akan kenapa-napa, Mama yakin!"Aku hanya dapat menganggukan kepala dan menepuk punggung ringkih wanita ini, aku yakin kini dia pasti lebih hancur dari pada aku dan sekarang kami hanya dapat saling menguatkan dengan pelukan. "Katanya Bella lagi dinas di Semarang?" Aku hanya mengangguk saat lelaki yang ada di sebelahku kini menatapku "Iya Pa, Ini Bella juga baru aja sampai" Aku menatapnya kemudian kembali mengalihkan tatapanku pada orang yang kini terbaring didepan kami "Bella udah makan?" Aku hanya menggeleng dengan lemah tanpa menatap lawan bicaraku, "Ayo kita makan dulu Bel. Sam pasti marah banget kalo tau kamu belum makan sampe sekarang" Kini wanita yang sedari tadi menggenggam jemari orang didepanku sudah beralih menarik lenganku untuk segera bangkit dari duduk ku "Biar Papa aja yang jagain bentar" Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya tanpa. mengatakan apapun.
Terhitung sudah 4 jam aku duduk disampingnya dan menatapnya yang sedang menutup mata, berharap aku tidak melewatkan momen apapun yang akan terjadi diwajahnya kini. "Bella?" Aku mengangkat wajahku yang sempat tertuntuk untuk melihat wajah orang yang menyebut namaku dengan sangat pelan "Hai" Tanpa dapat mengatakan hal lain kini Seperti biasanya dia akan tersenyum menatapku namun sekarang senyum itu terlihat sangat lemah dan mampu membuatku kembali meneteskan air mata "Aku datang" Aku mengangkat jemariku untuk menyapukan rambut-rambut yang berjatuhan di dahinya "Kamu cepet sembuh ya, aku ga akan kemana-mana" Dapat aku lihat dia yang tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati jemariku yang menari di wajahnya. Kini rasanya hatiku yang sedari tadi tidak karuan dan terasa sangat khawatir perlahan sudah tergantikan dengan rasa lega setelah dapat melihat senyumnya yang sesaat itu.
Kini tiba saatnya dimana kami harus menunggu hasil yang sedari kemarin membuat kami cemas dan bertanya-tanya di dalam sana Sam sedang melakukan pemeriksaan secara keseluruhan dan disini kami berdoa semoga semua ke khawatirab kami tidak benar-benar terjadi "Dia pasti gapapa ka Ma?" Mama hanya mengangguk dan menepuk pelan bahuku dengan senyum lemahnya yang mengatakan seolah meyakinkanku "Bisa untuk wali pasien segera ke ruangan saya?" Dokter yang sedari tadi kami tunggu kini sudah berada di hadapan kami, dan dapat kulihat Mama dan Papa kini menatapku dan mengangguk untuk segera berpamitan kepadaku dan mengatakan semua akan baik-baik saja, dan setelahnya kini hanya tertinggal aku sendiri dengan semua pertanyaan serta kemungkinan yang terus menari di otak ku.