You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua Puluh Empat : Samuel's POV



Saat dia menatapku dan mengatakan untuk selalu bersamaku seakan aku melupakan semua amarah yang dari tadi terus bercokol di kepalaku. Tadinya yang aku kira aku tahu semua hal tentang dia kini aku sadar jika aku terlalu serakah akan hal itu, aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang dia. Namun ketika dia memilihku, ketika dia menatapku mulai saat itu aku bersumpah akan terus menggenggam tangan ini untuk selamanya. Aku bahagia, sangat bahagia. Saat aku dapat melihatnya secara dekat, menyentuhnya dengan nyata dan melindunginya membuatku merasa cukup akan semua hal.


Aku tahu jika dulu dia meninggalkan ku karena adanya pilihan yang membuatnya begitu, namun kini aku pastikan jika tidak akan pernah ada lagi pilihan yang membuatnya meninggalkan ku. Dulu aku tahu jika pilihan itu muncul karena aku sendiri yang membuatnya, entah siapa yang harus aku benci disini, entah dia, Mama atau bahkan diriku sendiri. Sehari sebelum dia memutuskan untuk mengusirku dari hidupnya aku tahu jika itu karena permintaan dari orang yang sangat aku sayangi, orang seperti Bella tidak mungkin bisa menolak apapun yang akan Ibuku katakan padanya. Karena dari dulu setiap kali aku bercerita tentang Mama dialah yang akan selalu berbinar hingga dia mengatakan bahwa dia sangat mengagumi Mama seperti hal nya aku. Aku tidak mengerti kenapa saat itu Mama bisa melakukan itu padanya, yang salah aku jelas itu aku.


"Mama bilang apa ke Bella?" Dapat aku lihat wanita dan pria yang ada didepanku kini terlonjak kaget saat melihatku sudah berada didepan mereka. "Kenapa Bella bisa pergi ninggalin aku Ma?" Mereka yang ada didepanku kini hanya menatapku tanpa mengatakan sepatah katapun "Bella ga salah Ma! Sam yang memutuskan untuk ga pergi sesuai kemauan kalian" Mama mulai beranjak dari duduknya dan berjalan kearahku "Sam Mama lakuin ini demi masa depan kamu, kalau Bella memang jodoh kamu dia gaakan kemana-mana" Aku menepis tangan yang akan memelukku "Sam jangan kurang ajar!" Kini lelaki yang ada didepanku, yang aku sebut Papa mulai memberiku peringatan "Masa depan apa Ma? Gimana Mama tega buat melakukan ini pada Bella Ma? Bahkan Bella sangat mengagumi Mama dan selalu menyuruhku berada di pihak Mama saat aku merasa sangat membenci kalian" Wanita yang ada didepanku kini menatapku dalam tanpa mengatakan apapun "Aku Bahagia Ma saat bersama Bella" Aku menepuk pelan dada ku yang terasa sangat sesak "Tahu apa kamh soal bahagia Samuel, kamu bisa temukan perempuan manapun nanti jika kamu sukses. Jangan terlalu terpaku pada satu hal yang membuat kamu hancur" Terlihat lelaki yang ada didepanku mulai berjalan kearah ku dan menepuk punggungku "Ma,Pa tolong kembalikan Bella sama Sam, Sam akan lakukan apapun itu yang kalian minta" Lelaki tersebut terdiam dari langkahnya dan menatapku dengan sangat dalam begitupun dengan Mama, merasa tidak akan mendapatkan apapun dari mereka berdua aku beranjak untuk meninggalkan tempat itu dan melangkan dengan dada yang terasa sangat sesak.


Beberapa bulan kepergiannya aku tahu sekarang jika dia sudah berpindah kota, dari kejauhan dapat aku lihat tatapan sendunya sama seperti terakhir kali aku melihatnya pada malam itu. Tatapan kosong tanpa melakukan apapun, Setelah wisuda kami merencanakan untuk masa depan kami dan terus bersama. Namun semua hal itu harus gagal dimana saat orang tuaku memutuskan agar aku melanjutkan pendidikanku ke luar negeri dan merasa jika aku terus bersamanya dapat membuatku terpengaruh akan masa depanku. Setelah beberapa hari melihatnya hanya membuatku kesal dan terluka hingga membuatku sampai pada keputusan jika aku akan mengikuti kemauan orang tuaku dan pulang dengan secepat mungkin, dan setiap kali ada kesempatan tanpa orang tua ku ketahui aku akan pulang hanya untuk melihatnya dari kejauhan. Tapi hingga kini 6 tahun aku masih belum sanggup untuk menemuinya secara langsung dan hanya mampu untuk melihatnya dari jauh.


Hingga saat aku merasa ada kesempatan dimana dia akan ke Bandung aku memantapkan hatiku agar kembali berjuang untuknya. Serasa merasakan dejavu aku kembali dilanda ketakutan yang luar biasa.


Setiap hariku tanpanya hanya terasa kacau dan berantakan, Setiap harinya aku mengirimkan pesan singkat tanpa dibalas olehnya, setiap harinya aku akan melihatkan dari kejauhan seperti yang biasanya aku lakukan. Ingin rasanya aku menariknya kedalam pelukanku saat aku lihat dia berjalan dengan wajah tertunduk tanpa adanya senyuman yang selalu dia perlihatkan pada dunia. Seakan benar kehilangan itu akan terjadi, aku benar-benar tidak dapat melihatnya dimana pun seperti biasanya, aku benar-benar merasa kacau. "June lo gatau Bella kemana?" Diseberang sana hanya terdengar decakan kasar karena sudah lelah menanggapi hal yang sama "Gue benar-benar gatau Sam. Tadi pagi dia cuma bilang bakalan ga masuk, waktu gue tanya kenapa handphone nya ga aktif lagi. Bella kemarin ga kaya biasanya, kalaupun izin dia itu pasti bakalan bilang dari jauh hari, ini mendadak gini. gue juga gatau Sam" Merasa tidak akan mendapatkan jawaban yang aku mau, aku hanya mematikan ponsel ku dengan kasar.


"Halo Sam, Tumben telpon Mama. Ada apa?" diseberang sana terdengar suara lembut yang selama ini aku kagumi "Apa ga boleh buat aku bahagia Ma?" aku membuang napasku dengan kasar "Maksud kamu apa?" setelah berdiam beberapa saat dapat aku dengar helaan napas kasar dari orang yang ada diseberang sana "Mama bilang apa ke Bella? Bella pergi Ma. Sam ga bisa nemuin dia dimana-mana" air mata yang sudah aku tahan mulai turun dengan sendirinya. Tanpa mau mendengar penjelasan darinya lagi aku kembali mematikan panggilanku dengan sepihak. Kini aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan, kemana aku harus mencarinya. Semuanya Buntu.


Dengan gontai kakiku melangkah untuk berjalan menuju kearah dimana kami selalu bersama dan tertawa. Aku berharap saat aku kesini aku dapat melihatnya yang berjalan pulang dan aku akan memeluknya tanpa melepaskannya lagi, Aku benar-benar takut akan kehilangannya. 4 jam sudah aku berdiri disini hari yang tadinya terang kini hanya tersisa gelap yang menyelimuti, sampai kini aku merasa jika ponsel yang tadi aku genggam terasa bergetar dan dapat aku lihat dilayar pipih ini menampilkan nama orang yang sudah aku tunggu beberapa hari ini akan menghubungiku.


"Sam, kamu kenapa nelpon aku dari tadi?" suara yang aku rindukan, panggilan yang selalu aku tunggu kini aku dapatkan. Dengan sekuat tenaga aku berlari dan akan aku genggam dia dengan erat setelah ini.