
Panggilannya malam ini terasa begitu membuatku berdebaran tak karuan, aku benar-benar takut akan hal buruk terjadi pada kami. Siapa yang tidak mengenal Sekar sejak kami kuliah, dia yang memiliki tubuh yang proporsional serta wajah yang akan membuat siapapun menoleh dua kali saat melihatnya, dia yang semasa kuliah juga sangat terkenal karena kecantikannya hingga menduduki kursi duta kampus sedangkan aku yang hanya seorang introvert tidak dikenal oleh banyak orang, tidak suka dengan sorotan orang-orang membuatku begitu teralingkan di masyarakat. "Kamu kok nanya gitu?" Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan balik darinya yang tak dapat menjawab pertanyaan ku sebelumnya "Iya, Sekar emang udah lama kerja di kantor aku tapi kita ga terlalu sering ketemu" Entahlah malam ini untuk pertama kalinya setelah bertemu dengannya lagi aku merasa perkataannya tidak dapat aku percayai, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku "Yaudah kalo gitu"Untuk menyudahi pikiran buruk ku yang terus berdatangan aku hanya dapat menelan semua prasangka yang muncul dikepala ku.
"Bella lo kenapa sih dari tadi diem mulu, sini kita foto dulu" Caca mencoel lenganku saat kini aku hanya duduk dan menatap layar ponselku "Gapapa Ca" perempuan tersebut hanya mengangguk dan tersenyum melihat ku yang sudah beringsut untuk bergabung bersama mereka dan berpose didepan kamera dengan begitu banyak ornamen bridal shower yang sudah di siap kan oleh Caca. Pesan yang aku dapatkan tadi pagi dari nomor yang tidak dikenal membuat semua prasangka ku seolah terjadi dan menjadi kenyataan. Namun seolah menolak semua bukti dan kenyataan aku memutar tubuhkan seolah tidak melihat apapun dari ponselku, jika dia tidak akan mengatakan apapun maka aku juga tidak akan mengetahui apapun. Jikapun dia harus berbohong aku harap dia melakukannya hingga akhir aku tidak sanggup jika harus merasa kehilangan lagi untuk orang yang begitu berharga. Dentingan ponselku mengalihkan lamunanku yang sedari tadi hanya menatap kosong pemandangan yang ada didepanku kini
Samuel🤍 : Sayang, kok aku telpon ga diangkat sih? kamu lagi sibuk?
Tanpa membalas pesannya aku kembali menutup layar ponselku dan mengalihkan perhatian ku saat Ayana kini memanggilku untuk mendekat.
Aku memilih untuk mematikan panggilan dan mengiriminya pesan agar tidak menelponku dulu, saat ini aku belum siap memutuskan apapun padanya, pada kebohongannya, dia yang mengatakan bahwa mereka jarang bertemu namun apa yang aku lihat difoto tersebut tidak menunjukan apa yang dia katakan. Di foto tersebut dia berdampingan dengan perempuan itu, dan dengan senyum perempuan itu yang sangat merekah dibibirnya. Membuat kepercayaan diriku yang hanya tinggal sedikit ini sudah benar-benar tidak bersisa lagi.
Hari ini tiba saatnya aku untuk kembali ke Jakarta dan melakukan aktifitasku kembali, setelah beberapa hari hanya di hantui rasa takut dan khawatir kini aku harus bertemu lagi dengan orang itu. "Bel, lo kenapa sih abis liburan bukannya seneng malah suram gini" Ayana kini menatapku saat aku hendak melangkah untuk bergegas keluar dari area bandara, aku hanya dapat tersenyum padanya "Perasaan lo aja kali, gue emang lagi cape aja" Dia hanya mengangguk dan menepuk pelan bahuku "Kalau ada apa-apa lo bisa cerita ke gue Bel" Kini aku hanya dapat mengangguk dan tersenyum pada nya, sebelum kemudian dentingan ponselku mengalihkan tatapan kami "Mas bucin tuh udah chat" Aku hanya tertawa saat kini Aya menatap ponselku yang sedari tadi terus berbunyi, Setelah tadi Caca,Aya dan Saskia sudah berpamitan karena mereka sudah di jemput kini hanya tinggal aku sendiri yang masih duduk di kursi tunggu untuk menunggu orang yang akan menjemputku.
Setelah beberapa saat kini aku dapat melihat orang sedari tadi aku tunggu, yang sebelumnya mengatakan akan datang menjemputku saat ini sudah berjalan kearahku dan tersenyum seperti biasanya "Maaf ya kamu pasti nunggu lama" Aku menggeleng kepadanya dan membalas senyumannya saat kini dia sudah berada dekat dengan jangkauanku. "Aduh kangen banget"Kini dia sudah menarikku dan memasukanku kedalam rengkuhan nya yang sangat erat, aku semakin menenggelamkan diriku padanya untuk menghilangkan kegusaran yang aku rasakan beberapa hari ini padanya "Kenapa sih aku telponin dari kemarin ga diangkat-angkat?" Dia menjauhkan tubuhku dan menatap kedalam mataku yang dapat membuatku hanya menundukkan tatapan tidak berani untuk balas menatapnya "Ada masalah?" Saat ini aku tidak bisa untuk mengatakan apapun padanya dan hanya dapat menggelengkan kepalaku "Yaudah kita pulang yuk" Dia menarik jemariku dengan sangat pelan dan mengambil alih koper bawaan ku ketangannya, "Kamu udah makan?"Berjalan beriringan dengannya saat ini membuat perasaan kacau yang aku rasakan kemarin sedikit berkurang namun tidak juga menghilang, tetap saja ketakutan itu jelas terasa dihati ku "Kita makan ayam ya" dengan tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menatapku dengan senyuman yang selalu saja membuat perasaanku nyaman seolah dapat menular pada siapapun yang melihatnya, tanpa menunggu jawaban dari ku dia hanya menarik pelan tanganku untuk ikut bersamanya.