You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Enam Belas : Makan Bersama



Sudah seminggu Samuel terus mendatangi kantor ku bahkan dapat kulihat dia sudah begitu akrab dengan satpam yang bertugas di lobby kantor, seperti biasanya dia akan datang menjemputku dengan alasan menemani dia makan malam, dan untuk malam ini aku mengajaknya untuk makan malam di apartemenku saja karena aku tidak tega jika dia harus bolak balik hanya untuk makan malam. Kemarin aku sudah membeli bahan-bahan apa saja yang aku perlukan untuk memasak hari ini melalui online. Dari kejauhan dapat kulihat lagi-lagi dia sedang menghisap gulungan berbahaya itu yang ia selipkan diantara jari tengah dan jari telunjuknya, hari ini dia mengenakan kemeja biru laut yang cerah yang lengannya sudah tergulung serta rambutnya yang sudah acak-acakan namun hal itu membuatnya sepuluh kali lebih tampan. "Kamu udah lama nunggu?" dia menoleh dan segera membuang puntung rokoknya tak lupa dengan senyum yang selalu dia perlihatkan, aku sampai heran apakah dia akan terus tersenyum seperti ini pada orang-orang, kenapa bisa semenawan ini. "lumayan" dengan tangannya yang bebas dia meraih totebag yang tadi aku bawa untuk beralih ke tangannya, love language nya memang senatural itu "Makanya aku bilang kamu langsung aja ke apartemen, lagian apartemen aku juga deket banget" dia tersenyum saat aku meraih tangannya untuk aku genggam "Gapapa, aku seneng kok nunggu kamu" dengan mengeratkan genggamannya kami berjalan menuju dimana mobilnya terparkir.


"Hah tumben ga ada ayamnya?" saat aku mengeluarkan bahan-bahan masakan dia yang sedari tadi mengikuti ku mulai memilah-milah bahan yang aku letakan di atas meja pantry "Kamu pasti bosen makan ayam terus, makanya aku beli ikan" kulihat dia hanya mengangguk dan mulai bersiap membersihkab bahan bahan yang ada "Eh kamu mau ngapain? kamu duduk aja, biar aku yg masak" dia berputar dan menghadap ke arahku "Kita kan makannya bareng jadi harus dikerjain bareng-bareng juga" tanpa bisa menjawab lagi dia lebih dulu mengambil bagian yang ingin dia kerjakan, mungkin karena lama berada di negeri orang hingga dapat kulihat dia begitu telaten dalam melakukan pekerjaannya. Apakah adil jika tuhan menciptakan dia tanpa kekurangan seperti ini? bahkan sampai hari ini aku tidak melihat kekurangan yang mendasar dari dirinya bisa dikatakan dia ahli dalam segala hal, untuk kesekian kalinya aku akan mengaguminya.


Setelah selesai dengan kegiatan mengisi perut kini kami sedang bermain game online disofa dengan dia yang memelukku erat dari belakang. "Udah kalo sekali lagi defeat aku udahan, Masa iya aku turun terus sih" suara kekehan dari nya terdengar dan aku menepuk lengannya hingga dia mengaduh dan meminta maaf "Biar nanti aku aja yang mainin sekali, biar ga turun kejauhan" aku hanya menggumam sebagai balasan atas usulannya. Saat ini dengan posisi yang sama namun kini hanya dia yang bermain game di ponselku seperti usulannya sebelumnya, dan aku hanya mengotak atikan ponselnya untuk membuka sosial media ku. Tak lama kemudian terdengar bahwa permainan gamenya sudah selesai dan dia memenangkannya, dia menyerahkan ponselku dengan senyum penuh arti kepadaku, aku menerima ponselku dengan girang sambil mengucapkan terimakasih kepada nya. "Hadiah mana nih?" Dia tersenyum dan meraih ponselnya kembali "Hah peritungan amat jadi orang" mendengar gerutuan ku dia hanya tertawa dengan kencang dan membuatku sekali lagi menepuk tangannya namun lebih kuat dari sebelumnya. Melihat tawanya yang begitu lepas membuatku lagi- lagi tersihir akan pesonanya dengan sisa keberanianku aku mendekatkan bibirku ke wajahnya yang sukses membuatnya berhenti tertawa dan menatapku dengan terkejut "Apaan cuma sebelah" setelah dapat mengendalikan rasa terkejutnya dia kembali menunjuk pipi sebelahnya dengan jari telunjuknya dan aku tidak tahu bagaimana rupa muka ku sekarang yang pasti wajahku terasa terbakar karena menahan malu "Yaudah kalo kamu gamau, aku aja ambil hadiahku sendiri" dengan tangannya yang menyentuh pipiku serta ibu jarinya yang mengusap lembut membuatku memejamkan mata dan menikmati sensasi tersebut di bawah tangannya yang dingin terasa sangat kontras dengan pipiku yang hangat. Tak lama kemudian aku dapat merasakan benda lembab yang sudah menyentuh bibirku lama sebelum kini sudah bergerak dengan sangat pelan, aku bahkan tidak berani untuk membuka mataku melihat apa yang dia lakukan sekarang ini. Lama kelamaan gerakan bibir yang tadinya bergerak pelan kini sudah menambah kecepatannya, namun tanpa menggebu dan aku mulai menenggerkan tanganku untuk berada di lehernya. Dia mengangkat tubuhku untuk duduk diatas pahanya dengan kaki ku yang melingkar disekeliling tubuhnya, dapat kurasakan tangannya yang mulai bergerak naik turun di punggungku membuat bulu kudukku mulai berdiri."Look at me" dia menghentikan kegiatannya dan memintaku untuk segera membuka mata. Pandangan yanng pertama kali aku lihat setelah membuka mata adalah senyumnya yang sangat indah dan matanya yang sendu, melihatnya dari dekat seperti ini membuatku sadar bahwa benar tuhan menciptakan dia dengan begitu sempurna, mata yang menatap tajam, hidung bangir yang sangat sempurna serta bibir tebal yang sangat menawan dia seperti pahatan yang dibuat dengan begitu sempurna dan indah.