
Setelah kemarin aku kembali dari kota yang selama ini selalu aku hindari, hari ini aku akan memulai kembali pagi hariku di kota yang beberapa tahun ini sudah kutempati, pagi ini aku akan kembali menjalani rutinitasku seperti biasa dengan perasaan yang kosong.
"Bel lu udah buka grup kantor belum?" Entah apa yang merasuki Jena Rahayu salah satu teman divisiku, dia yang tiba-tiba menelponku dipagi hari dengan suara yang panik. "Belum Jen, Kenapa?"Dengan tangan yang masih memasukan perlengkapan yang akan ku bawa ke kantor serta ponsel yang aku apit diantara bahu dan telinga. "Gue kan ambil cuti nih hari ini, terus ternyata pak Arjune bilang kalau hari ini ada meeting client sama divisi kita Bel, dan harusnya gue yang dateng. Gimana sih pak Arjune tega banget!" Suara perempuan diseberang sana seakan menahan emosi dan dapat dipastikan wajahnya sekarang pasti sudah memerah karena menahan amarahnya. "Bel kalau gue ngajuin lo buat gantiin gue, lo gapapa?" Aku menghela napas ku sejenak dan tersenyum "Iya Jen gapapa, coba lo bilang dulu sama pak Arjune boleh ga?" Seakan sedang menerima hadiah besar dia langsung bersorak dan mengucapkan terimakasih dengan berulang ulang sembari menutup panggilannya.
Disinilah aku sekarang dihadapan meja yang ukurannya cukup besar dengan beberapa kursi di sekelilingnya, serta tak lupa dengan layar proyektor yang menyala menampilkan materi-materi yang akan dipresentasikan nanti. Masih dengan menunggu kedatangan klien memeriksa kembali poin-poin yang akan dibahas nantinya, sampai kemudian suara ketukan sepatu seseorang serta diiringi dengan pintu yang bergerak untuk terbuka aku mendongakan kepalaku dan setelah melihat siapa yang ada didepanku yang berdiri disamping direktur utama pak Arjune Sentono saat ini aku mengerti jika keputusan yang aku buat pagi ini untuk membantu Jena adalah keputusan yang benar-benar salah.
Serasa bebas dari jeratan yang sedari tadi mengikatku akhirnya aku dapat menghembuskan napas dengan lega setelah sampai di tempat seharusnya aku bekerja. "Gimana Bel rapatnya lancar?" Belum sempat aku mendaratkan bokongku dikursi Beno rekab kerja ku sudah memburuku dengan pertanyaan yang tidak mau aku bicarakan. "Iya Ben.Lancar!"Aku hanya menjawab seadanya kemudian menyandarkan punggungku dikursi yang biasanya aku gunakan. "Kenapa lo kayak abis perang aja? tapi bagus deh kalo semuanya lancar"Beno kembali bersuara dengan suara yang diselingi senyuman jahilnya seperti biasa dan aku hanya kembali mengangguk dan kembali bersiap untuk melanjutkan pekerjaanku yang lainnya. Dengan terus berharap semoga tidak akan ada kebetulan kebetulan lainnya untuk hari ini saja aku ingin bernapas dengan tenang.
Setelah hari ini dimana aku bertemu dengannya kini aku berjalan gontai di trotoar jalanan yang masih ramai lalu lalang orang-orang. Inilah kenapa aku lebih memilih untuk tinggal di apartemen yang sangat dekat dengan kantor karena aku tidak akan tahan jika harus berlama-lama dijalan dengan jalanan Jakarta yang terkenal sangat padat pengendara, dan aku akan lebih menikmati euforia berjalan dengan santai saat pulang kerja untuk sejenak melepaskan penat dari semua pekerjaan yang memusingkan. Suara dering ponsel terdengar dari genggamanku menandakan ada seseorang yang melakukan panggilan saat melihat lagi kontak si pemanggil aku menghela napak sejenak dan menggeser ikon hijau disana. "Halo, Kenapa bu?" Aku membuka suara saat setelah menempelkan benda tersebut di telinga "Halo Bel, gapapa ibu cuma kangen aja, kamu lagi dimana?"Suara wanita diseberang sana seolah dapat menghilangkan semua penat yang tadinya bercokol di hatiku "Oh iya bu, Bella juga kangen. Ini Bella masih dijalan pulang bu" Dengan langkah yang memelan aku menikmati udara disekitar dengan diiringi suara dari orang yang sangat aku sayangi.