You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua Puluh Tiga : Apalagi ini?



Sampai kini entah akan ada berapa banyak lagi kejutan yang akan aku dapatkan, bahwa selama ini dia begitu terluka karenaku, bahwa selama ini dia terlalu banyak berjuang untukku, bahwa dia selama ini selalu berusaha membuatku aman. Kini yang ada di pikiranku hanya bagaimana aku menghadapinya setelah mengetahui semua ini.


"Kamu kenapa sih? dari tadi ngelamun mulu" tangan yang sedari tadi aku letakkan di atas meja kini sudah ditarik pelan olehnya. Aku hanya menggeleng dan menatapnya, semakin menatapnya aku merasa dadaku bergemuruh dan mataku segera ingin mengeluarkan air mata "Ayo pulang!" Setelah tadi Tante Miranti atau Mama Sam pulang kini tempat itu sudah digantikan oleh Samuel yang menatapku penuh dengan khawatir. Aku menarik tangannya pelan untuk segera berdiri, semakin menatapnya semakin membuatku merasa dikungkung oleh rasa bersalah. Kurasakan tarikan pelan di tanganku serta usapan lembutnya yang selalu membuatku nyaman, inilah yang selalu aku sukai darinya. Dia yang meski sangat penasaran dia tidak pernah menuntut apapun dariku dan selalu berusaha mengertikan keadaanku.


"Aku pulang! Kamu hati-hati ya" Setelah sampai di parkiran apartemen ku aku langsung beranjak tanpa menatapnya. "Aku gatau apa yang kamu pikirkan atau apa yang kamu rasakan, tapi aku harap kamu cepat pulih" Saat tanganku hendak membuka pintu kendaraan yang tadi mengantarkan kami dia menatapku dengan tatapan teduhnya, hal itu membuatku sangat-sangat tidak karuan "Aku cinta kamu, sangat!" Aku menariknya kedalam pelukanku dan dapat aku rasakan dia yang menegang kaget, untuk saat ini hanya itu yang ingin aku sampaikan padanya, mungkin hanya itu yang bisa aku sampaikan padanya. Tanpa menunggu dia mengatakan apapun lagi aku segera melanjutkan kegiatanku yang sempat tertunda yaitu berjalan menjauh dan mulai menghilang dari hadapannya.


Aku bahagia, tidak bahkan kata bahagia tidak dapat menggambarkan perasaan ku saat aku dapat menemukan orang seperti dia. Bahkan kini aku menepuk dadaku yang sedari tadi terasa sesak, bagaimana bisa aku membuat orang yang begitu menghargaiku jadi begitu terluka. Belum lama aku menutup pintu dan masuk kedalamnya dapat kudengar suara notifikasi dari ponselku.


Samuel Gavirera G : Selamat tidur dan mimpi indah sayangnya aku.


Tanpa menbalas pesannya aku langsung menutupnya kembali dan membiarkannya, aku benar-benar bersalah pada orang ini. Kembali tangisku tak dapat aku kendalikan, kenapa aku begitu serakah hingga mendapatkan orang ini dan menyia-nyiakannya.


"Sam, kenapa ga bilang kalo kesini?" Kini aku sudah berada tepat didepannya dan menatapnya yang kembali tersenyum dengan sangat sendu "Aku anter ke kantor ya" Aku hanya mengangguk saat dia mulai mengamit tangan ku dan menggenggamnya dengan erat.


"Sam aku boleh minta sesuatu sama kamu?" Kini kami berdua sudah berada diparkiran kantor dimana tempat ku akan bekerja seharian ini. Kulihat dia hanya mengangguk dan tersenyum "Boleh. Asal jangan minta aku buat pergi" Kini dia mengelus puncak kepalaku dengan pelan "Untuk sebentar aja, aku mau sendiri dulu. Sebentar aja! Setelah itu aku bakal nemuin kamu. Aku janji" Kini dia hanya mematung tanpa menjawab ataupun bereaksi apapun. Setelah beberapa saat dia mulai mengangguk dengan senyuman nya yang tidak pernah luntur "Setelah semuanya selesai, kapan pun itu, dimana pun itu aku harap kamu bilang ke aku" Dia memelukku dengan sangat erat seolah aku tidak akan pernah kembali, dan aku mengangguk untuk meyakinkannya.


Tidak, aku bukan ingin menghindar dari masalah atau menjauhinya karena kenyataan yang aku tahu. Aku hanya perlu waktu untuk menyiapkan diri untuk mencintainya dengan sepenuh hati tanpa beban apapun, disaat rasa bersalah terlalu dominan aku tidak dapat menatapnya. Kata-kata dari Tante Miranti pada saat itu terus terngiang ditelingaku dan terus mengalun hingga membuat dadaku terasa terus berdetak dengan kencang saat menatapnya. "Saat itu Sam datang ke Tante dan menangis, untuk pertama kalinya setelah dia dewasa tante lihat dia menangis seperti itu Bel. Dia memohon pada Tante dan Om buat mengembalikan kamu, dia pergi dari rumah berhari-hari buat cari kamu. Saat itu tante sadar kalau tante sudah sangat bersalah pada kalian" Tante Miranti kini menatapku dengan sangat dalam dan dapat aku rasakan bahwa air mata yang sudah aku tahan dari tadi kini runtuh dengan sendirinya "Dia bilang dia sangat bahagia sama kamu, Tante baru tahu dari sekertarisnya jika Sam dekat dengan seseorang dan saat tante tahu itu kamu tante langsung cari kamu. Terimakasih karena kamu kembali Bella" Aku menundukan kepalaku dalam tidak berani menatap wanita yang ada didepanku "Tante Bella minta maaf!" Tanpa dapat aku kendalikan suara ku terasa tercekat "Engga Bella, Tante yang salah. Dan sekarang tante yang berterima kasih sama kamu sudah mengembalikan anak tante seperti dulu. Tante bahagia, dan itu karena kamu" Aku mengangguk dan tidak mengatakan apapun, karena aku tidak tahu apalagi yang harus aku katakan pada orang ini, pada wanita ini.


Sudah hampir 2 minggu, tepatnya 10 hari aku menjalani hari-hariku tanpa kehadirannya, dia yang menghargai keputusan ku dan aku rasa kini aku, hari ini aku akan mengakhiri semuanya. Kini aku sudah berjalan menuju kearahnya dengan jantung yang berdegup kencang, aku menggulir ponsel di tanganku segera menghubunginya. Namun belum sempat aku menekan panggilan kini ponsel yang ada digenggamanku lebih dulu berbunyi dengan nyaring, serasa dejavu aku dengan cepat menekan tombol hijau disana untuk mengangkatnya. Tidak, aku harap bukan apa yang aku pikirkan sedang terjadi. Aku belum menyiapkan apapun untuk ini, dengan hati yang bergemuruh sekuat tenaga aku berlari tanpa sempat melakukan apa yang ingin aku lakukan sebelumnya.


"Halo Bel! Kamu bisa pulang dulu gak?" Cukup satu kata itu dapat membuatku berdiam sejenak dan terus merapalkan segala hal didalam otakku. Jangan sekarang! Aku belum siap untuk ini lagi.