You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua Puluh Tujuh : Aku tidak Marah tapi Aku Kecewa



Di keluarga ku tidak mengherankankan jika akan ada saat dimana kami bertengkar dan tidak saling menyapa. Setelah pertengkaran ku dan Abang terakhir kali di taman rumah sakit hingga kini kami masih saling mendiamkan, saat sampai dirumah dan kini kami duduk berhadapan di meja makan tidak ada pembicaran diantara kami. Hanya terdengar suara celotehan dari Aiden, Sam dan Ibu yang saling menyahuti satu sama lain. "Om, Aiden sekalang udah bisa naik sepeda. Kata oma Aiden pintel" Dengan suaranya yang cadel sedari tadi Aiden terus mengisi ruangan ini dengan gembira. "Gitu ya, Hebat dong! Kalo gitu nanti Om kasih hadiah deh. Aiden mau hadiah apa?" Selama yang aku tahu Aiden ini bukanlah tipe anak yang mudah akrab dengan orang asing, namun kini melihat nya begitu akrab dengan Samuel membuat kami semua heran dan kaget.


"Jadi kalian mau pulang nanti malem?" Kini Ibu yang sudah selesai dengan makanan dihadapannya mulai membuka pembicaraan kepada ku "Iya jadi Bu, penerbangan kita jam 9 nanti" Sembari membereskan makanan dan piring-piring yang selesai di gunakan aku menimpali Ibu seadanya "Yaudah abis makan ini, kamu ajak dulu Sam keliling Jogja. Masa udah sampe sini ga kemana-mana" Ibu tersenyum kearah ku dan Sam dengan bergantian, Kini aku hanya dapat mengangguk dan berdeham singkat sebagai jawaban untuk Ibu. "Aiden ikut ya Om!" dapat ku lihat Aiden yang lebih bersemangat dengan matanya yang berbinar membuatku merasa sangat gemas melihatnya.


Sore ini dengan matahari yang terasa hangat kami memutuskan untuk berkeliling kota dengan mengendarai mobil Abang. Hanya kami bertiga aku, Sam dan Aiden. Dengan ditemani celotehan Aiden yang tidak berhenti sedari tadi kami sama-sama menikmati perjalanan kali ini "Tante,Aiden boleh minta es krim?" dengan jemari kecilnya dia menunjuk kearah penjual es yang ada dipinggir jalan, dia menatapku dengan begitu cerahnya serta senyuman yang membuatku untuk segera mencium pipinya "Boleh tapi cium tante dulu" aku menunjuk kearah pipi kiriku dan dia langsung menciumku tanpa berhenti dan membuat Sam ikut tertawa geli "Tante, aku juga mau eskrim ya" Aku menepuk lengannya dan kemudian terdengar suara tawanya yang mengisi seluruh ruangan kendaraan yang dia kendarai. Dan kini tangan yang menepuk lengannya sudah dia genggam dengan sangat eratnya dan menatapku untuk beberapa saat.


Setelah puas berkeliling di perkotaan kini kami sudah duduk disalah satu kursi taman yang terkenal dengan pohon pinusnya yang sangat sejuk dengan Aiden yang berlari kesana kesini dengan sangat riang. "Tiket buat nanti malem udah kamu pesen?" dengan jemari yang bertaut kini aku menghadapkan diriku padanya dan aku lihat dia hanya. mengangguk kan kepalanya "Maaf ya karena aku kerjaan kamu dijakarta pasti berantakan, juga ngerepotin kamu sampe dateng kesini" kini tatapanku sudah beralih untuk melihat dimana Aiden berada "Saat kamu bilang mau sendiri, aku sangat takut jika itu artinya kamu mau pergi lagi. Tapi saat aku gabisa nemuin kamu dimana-mana aku lebih takut lagi sampai dimana kamu telepon aku malam itu akh benar-benar lega. Seandainya kamu ga suruh aku kesini malam itu, aku akan tetap datang kesini" genggamannya terasa mengerat dan ibu jarinya bergerak pelan dengan sangat menenangkan. "Sam waktu itu tante Miranti nemuin aku" gerakan ibu jarinya dipunggung tanganku mendadak berhenti, aku menundukan kepalaku dalam tidak sanggup mengatakan apapun padanya, namun kini aku mengalihkan tatapanku dari Aiden untuk sekilas menghadapnya "Maaf karena selama ini aku sudah melukai kamu" Aku menarik napasku dalam untuk meredakan debaran jantung ku yang mendadak tidak dapat aku kendalikan "Kenapa kamu ga bilang kalau kamu udah tahu dari lama aku ada di Jogja dan udah ngikutin aku dari lama?" Dapat aku lihat tatapannya yang membeku dan terdiam "Bel, aku ga bermaksud buat kamu ga nyaman. Cuma aku sulit ngendaliin perasaan aku ke kamu" Tatapannya yang panik saat ini membuatku menepuk pelan lengannya "Engga, bukan itu masalahnya. Selama beberapa hari ini aku selalu mikir apa aku yang seperti ini pantas buat kamu, dan apa aku yang selalu menyakiti kamu masih boleh memperjuangkan kamu?" Aku kembali menatapnya lama dan kini dia menundukan kepalanya dalam "Sam mulai sekarang biarin aku ikut berjuang buat hubungan kita" Kini dia ikut menatap mataku, tepat dalam mataku dengan sangat teduh dan hanya ada rasa nyaman yang aku dapatkan "Bella, aku gatau lagi gimana harus bilangnya kalau saat ini aku sangat bahagia" senyumannya terbit di wajahnya hingga matanya pun ikut tersenyum "Yah gabisa peluk nih!" Dia berseru dengan nyaring dan membuatku menolehkan ke kanan dan kiriku melihat keadaan sekitar kemudian kembali menepuk kuat lengannya yang hanya ditanggapi dengan tawanya yang tak kalah nyaring mengisi gendang telinga ku.


"Hati-hati dijalan ya! maaf Ibu ga bisa ikut nganterin soalnya Aiden udah tidur" setelah makan malam dan bercengkrama sebentar kini sudah saatnya kami untuk beranjak dari kota ini dan kembali kerutinitas kami seperti biasanya. "Iya gapapa bu, Bella sama Sam pamit ya. Ibu jaga kesehatan kalau ada apa-apa langsung telpon Bella" Aku mencium tangan Ibu dan mencium pipinya untuk segara pamit "Sam pamit juga ya Bu" kini giliran Sam yang mencium punggung tangan Ibu "Ibu titip Bella ya nak Sam" kulihat lelaki tersebut hanya tersenyum dan mengangguk pada Ibu, kami pun lanjut untuk melangkah ke arah mobil.


Kali ini aku dan Sam di antarkan oleh Abang untuk sampai ke Bandara, dan hingga kini belum ada yang memulai pembicaraan antara aku dan dia. Aku tidak menbencinya sungguh, tapi aku hanya kecewa dengan semua tindakannya yang membuatku merasa tidak dihargai. bagaimana dia yang selalu menganggapku tidak apa-apa dengan semua hal yang dia anggap benar, terkadang hal itu selalu saja membuatku terluka. "Bel, Kamu bicara dulu ya sama Abang jangan diem-dieman mulu" Kini saat Abang dan istrinya sedang memarkirkan kendaraannya hanya tinggal aku berdua dengan Sam dia mulai merasa serba salah atas sikap kami berdua. Sam sudah tahu jika aku marah karena Abang mengambil keputusan sendiri atas rumah yang ada di Bandung tapi untuk beberapa saat dia tidak ada niatan untuk segera meminta maaf padaku, jadi untuk apa aku berbicara dengan dia?