You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Empat Puluh Dua : Samuel's POV



Ini semua kesalahan, seharusnya saat dia memberikan alasan untuk mengajak ku ke club malam hingga menawarkanku untuk minum aku menolaknya dengan lebih tegas, hingga pagi ini Jordan mengatakan hal yang terjadi semalam membuatku benar-benar marah. Aku tidak menyangka jika perempuan itu akan begitu licik hingga memberikanku begitu banyak alkohol dengan alasan pekerjaan. Apa yang harus aku katakan pada Bella mengenai hal ini, dia pasti akan sangat kecewa padaku. Hingga saat aku kembali keJakarta dan kini aku sudah duduk di hadapan Bella semuanya terasa berat untukku, bahkan bibirku tidak sanggup untuk mengatakan jika kemarin aku bersama orang yang dia khawatirkan, Tidak aku tidak akan tergoda oleh perempuan ular itu hanya saja aku tidak bisa untuk langsung mendepaknya dari hadapanku dan aku juga tidak bisa membuat Bella kecewa karena hal ini.


Rasa bersalah dan kekacauan di depanku kini benar-benar menyita banyak waktuku, bahkan untuk menemui perempuan yang sangat aku cintai pun aku tidak bisa, alih-alih menemui Bella kini aku selalu saja di gelayuti oleh perempuan ular yang sangat mengganggu. Beberapa hari ini aku benar-benar sibuk dengan urusan proyek dan saham yang sedang kacau karena banyaknya pemegang saham yang ingin menarik sahamnya dari perusahaan. Setelah berjibaku dengan seluruh permasalahan kantor kini aku harus segera mendepak wanita yang ada didepanku ini agar tidak terus mengganggu "Saya harap anda bisa sedikit profesional ibu Sekar" Perempuan tersebut hanya tersenyum dan berjalan mendekat kearah ku "Oke, Give me a gift karena udah bantu Gumawan buat dapetin tender besar kemarin" jemari perempuan itu kini merangkum wajahku, demi apapun kini aku sudah benar-benar muak dengan perilaku ularnya ini "Terakhir kali bapak sudah sangat mengecewakan saya" perlahan ibu jari perempuan itu bergerak pelan di wajahku "Saya bisa laporkan anda atas pelecehan jika anda melewati batas" Aku menepis tangannya dan menatapnya tajam "Oh wow, i can't wait Samuel. Nyatanya kamu ga akan bisa nolak aku" Kini dia sudah menempelkan bibirnya di bibirku dan membuatku benar-benar kaget akan tindakan nekatnya ini. Amarahku sudah benar-benar di ubun-ubun sesaat kemudian aku melihat dibelakang sana terdapat tatapan terluka dari seseorang yang sangat aku cintai, dan spontang memanggil namanya, Aku mendorong wanita yang ada didepanku kini hingga dia tersungkur dan segera berlari menghampiri wanita yang kini memakai dress floral berwarna peach dengan cardigan senada yang membuat penampilannya sangat manis, namun kini aku sudah membuatnya terluka."Sayang" Aku mencoba menggapai tangannya namun kini dia berjalan mundur menjuhiku dan menatap tanganku yang masih menggantung diudara "Ini ga seperti yang kamu lihat Bel" Aku mencoba untuk menjelaskan padanya namun kini dia hanya menatap orang yang ada dibelakangku "Bisa kamu suruh pergi dulu orang itu? we need to talk about somethin, right?" Tanpa menatap orang yang ada di belakangku aku sudah tahu siapa orangnya "Bisa lo keluar sekarang!" Aku menatap kepergiannya dan ikut berjalan untuk mengunci rapat ruangan ini. "Sam kalau kamu bosan sama aku, kamu bisa bilang tapi ga kaya gini caranya" Sesaat setelah aku berada di hadapannya dia mulai menunduk dan menitikan air matanya"Ini ga seperti yang kamu pikir" Aku mencoba menggapai jemarinya namun lagi-lagi dia menepis tangan ku "Jadi ini alasan kamu berubah akhir-akhir ini?" Dia menatapku dalam dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya kini sudah mengalir disisi wajahnya.


"Apa juga yang aku punya sampai aku terlalu berani buat berpikir kalau kamu serius sama aku"Senyuman sinis keluar dari bibirnya serta air mata yang terus mengalir membuat hatiku terasa teriris dan berdenyut "Sayang, kamu jangan ngomong gitu. Ini semua salah paham" Aku berusaha untuk menariknya lebih dekat namun dia terus berjalan mundur menjauhiku "Oh jadi ini alasannya kenapa kamu ga pernah bahas hubungan kita, karena memang aku ga pernah ada dalam rencana masa depan kamu?" Demi tuhan dan demi apapun hanya dia yang aku harapkan ada di masa depanku, dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya membuatku merasa hancur melihatnya seperti ini. "Sam beberapa waktu lalu aku berpikir kalau kamu beda, saat kamu bilang aku masa depan kamu aku sempat berpikir kalau mungkin akan ada kesempatan aku berharap kalau kamu mau serius sama aku" Dia menatapku dengan sangat dalam dan mata yang selalu aku sukai kini tengah menatapku dengan tajam seolah mampu melukai siapapun "Apa yang dia punya tapi aku ga punya? are u slept with her?" Aku terluka saat dia berpikir aku melakukan itu, tapi melihat dia yang seperti sekarang ini membuatku merasa sesak, seolah ada batu yang menghantam dadaku hingga aku sulit untuk mengambil oksigen.


Aku menggenggam tangannya yang sedang menarik setengah cardigannya dan menatap kedalam matanya yang memerah, sejenak kami terdiam seolah dapat mendengar detak jantung kami masing-masing hingga dia menundukkan kepalanya sebentar dan menatapku dengan kekehannya yang membuat jantungku berhenti berdetak "Bahkan kamu ga mau nerima aku" Air matanya kembali mengalir deras dan dia kini terduduk dan menelungkupkan wajahnya diantara lipatan kakinya, aku memeluk punggung yang kini sesenggukan karena ulahku, karena kesalah pahaman yang tidak dapat aku hindari "Dengar semua yang kamu pikirkan dan kamu anggap benar ga bisa selalu benar Sayang, kamu cukup percaya aku. Apa itu terlalu sulit?" Dia melepaskan pelukanku dan berdiri dengan cepat membuatku juga ikut berdiri bersamanya, dia menatapku tanpa mengatakan apapun lagi sebelum benar-benar melangkah menjauh dari ruangan ini, dari penglihatanku. Kini hanya rasa takut ku yang tertinggal tanpa bersisa apapun lagi.