You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Tiga Puluh Tujuh : Resiko



Suara deringan yang berasal dari ponsel ku kini mengalihkan perhatianku yang tadinya sedang menata pakaianku yang masih berada didalam koper "Halo" Kini ponsel tersebut sudah beralih dan menempel di telingaku "Sayang maaf aku baru sempet telpon, tadi aku abis dari kantor lagi" Kini terdengar suara merdu lelaki yang ada diseberang sana, kini aku hanya mengangguk meski tidak dapat dia lihat dan aku berdeham sebelum kemudian beranjak dari tempatku saat ini untuk duduk di kasur yang disediakan di penginapan ini "Iya gapapa, ini aku juga abis makan malam sama yang lain. Kamu udah makan?" Terdengar dehaman diseberang sana tanda menyetujui perkataan ku "Kamu jangan lupa istirahat, jangan terlalu dipaksa" Helaan napas panjang terdengar sesaat setelah aku mengatakan hal tersebut "Sayang kayaknya aku gabisa nyusulin kamu deh, Aku harus mantau proyek di surabaya besok" mendengar suara lemahnya membuatku hanya dapat tersenyum "Aku juga mau bilang itu. Gapapa kalau kamu gabisa kesini, Si Caca juga bisa marah kalo kamu kesini katanya ini liburan buat cewe aja" Tawa dari seberang sana seolah dapat menyebar hingga ke bibirku "Caca tuh ya ada ada aja" Kekehannya membuatku serasa dapat melihatnya kini "Kamu udah pulang?" dehaman dari sana sudah dapat memberikan jawaban dari pertanyaan ku barusan "Kamu baru abis sakit, jadi ga boleh begadang terus. Tidur sana!" Dengan helaan napas beratnya dan terpaksa dia kini hendak pamit menutup panggilannya setelah mengeluarkan kata-kata gombalnya yang mampu membuat ku tersipu dan salah tingkah "Good night and i love you more and more more" Aku tidak dapat menahan tawa saat terdengar suara kecupan diseberang sana "Nite too and love you 10000" Kali ini aku benar-benar sudah menutup panggilannya agar dia dapat segera beristirahat dan menyusun mimpinya.


"Ca lo nanti nikahannya jadi di Bandung?" Kini kami berempat sudah berkumpul di meja makan dengan berbagai macam makanan sudah ada didepan kamu, pagi ini sebelum kami menikmati liburan Aya mengajak kami untuk mengisi perut terlebih dahulu "Jadi lah Bel, Keluarga gue kan di Bandung semua" Aku hanya mengangguk dan kembali menggapai roti bakar yang ada didepanku dan menikmatinya "Kalo lo Bel kapan mau ke pelaminan?" perkataan Aya barusan mampu membuatku tersedak roti coklat yang baru saja aku masukan ke tenggorokanku seolah ingin melompat keluar "Sam masih juga belum ngomongin itu?"Kini Caca dan Aya sudah menatapku dengan penuh selidik dan aku kini sudah menatap Salsa yang berada tepat di depanku untuk meminta pertolongan darinya namun dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Gaya nya aja kayak udah serius banget" Dengan tangannya yang menyuapkan nasi gorengnya Caca kini menatapku dengan sinis dengan cibirannya yang pedas, tanpa dapat mengatakan apapun aku hanya dapat menyengir karena aku tidak tahu harus memberikan pembelaan semacam apa pada mereka. Memang kemarin Sam sudah membicarakan itu padaku namun aku juga tidak tahu perkataannya sore itu serius atau hanya bercanda, aku begitu takut berharap terlalu banyak dan bergantung pada harapan.


"Kamu jadi ke Surabaya?"Ponsel yang sedari tadi aku genggam kini sudah menampilkan sosok lelaki didalamnya "Jadi, ini masih nungguin taksi buat ke bandara" Aku hanya mengangguk dan menatapnya yang kini sedang berada di depan apartemennya "Kamu lagi ngapain?" Aku menarik napas dan tersenyum padanya "Tadi abis sarapan terus sekarang lagi nungguin yang lain siap-siap" Aku kini menyandarkan tubuhku di sofa yang kini aku duduki dengan kamera dan layar ponsel masih mengarah ke wajahku "Emang mau kemana?" Sejenak aku terdiam "Mau ke pantai dulu, mumpung belum terlalu panas" Kini orang yang ada diseberang sana hanya mengangguk padaku "Hati-hati ya, kalau ada apa-apa kabarin aku"Aku melihat dia yang kini sudah beranjak untuk segera masuk kedalam taksi yang kini sudah tiba di hadapannya.


betul sifat dia dan dia ga akan nyerah sampai apa yang dia mau bisa di dapetin. Lo tahu bahkan dia berusaha mati-matian buat bisa kerja di Gumawan Grup" Seolah perkataanku selanjutnya tercekat hingga beberapa saat aku hanya dapat bengong dan menatap perempuan ini dengan kaget.


Setelah pembicaraan ku dan Saskia tadi hingga kini aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya tidak menyangka jika Sekar hingga kini tetap menyukai Sam setelah sekian lama dan kini seperti kata-kata saskia aku jadi sangat takut. hingga deringan ponselku kini sudah terdengar nyaring di telinga ku, aku hanya menatapnya sebentar untuk kemudian melangkah mendekati benda tersebut yang saat ini tergeletak diatas meja "Halo" Sapaan dari seberang sana terdengar dan memecahkan lamunan ku "Iya" Hanya itu yang dapat aku katakan kini padanya "Sam aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" terdengar dehaman halus dari seberang sana "Sekar sekarang kerja di kantor kamu ya?" lama berdiam dan hanya terdengar langkah kaki dari orang itu "Bentar ya sayang, aku ambil makanan dulu" setelahnya terdengar pintu yang dibuka lalu tertutup kembali "Gimana sayang?" Aku paling tidak suka jika harus mengulang pertanyaan yang membuatku harus kembali mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya "Sayang?" Setelah beberapa detik aku hanya menghela napas pelan dan mengatur kembali debaran jantungku "Sekar kerja di kantor kamu ya? kok kamu ga pernah bilang ini ke aku?" Aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan yang sudah aku susun di kepala ku, aku benar-benar takut menghadapi kenyataan semacam ini. Aku tahu jika aku berani untuk mencintai seorang Gumawan aku juga harus siap menghadapi konsekuensi seperti ini, namun entahlah kini semua kepercayaan diriku perlahan hilang jika untuk disandingkan dengan orang yang berbeda tempat dengan ku.