
Tepukan ringan dipunggungku malam ini adalah hal terbaik yang aku terima seumur hidupku, dia yang tidak mengatakan apa-apa namun sangat berarti bagiku. Kini dia menjauhkan tubuhku untuk menatap wajahku dan mengusap sisi-sisi wajahku dengan ibu jarinya, "Ayah akan lebih sedih kalau kamu terus terluka sendirian seperti ini, setiap orang punya kemampuannya masing-masing termasuk ingatannya. Ingatan manusia punya batasnya masing-masing sayang, ayah pasti ngerti" Dia menatapku sangat dalam namun teduh yang dapat menenangkanku "Mau aku temenin ketempat ayah?" Aku menggeleng dan menunduk "Aku tadi udah kesana" kembali dia menarikku kedalam dekapannya "Lain kali kamu ajak aku yah" Aku mengangguk dan tersenyum dibalik pelukannya dan kembali mengeratkan pelukan yang menenangkan ini.
Setelah makan malam singkat yang kami lakukan beberapa menit yang lalu, kini kami duduk bersandar di sofa yang memang selalu kami tempati dengan televisi yang menampilkan gambar-gambar serta aktor-aktris yang melakukan perannya dan kami yang hanya terdiam menonton dengan tautan jemari yang tidak pernah terlepas. "Aku seharian telepon kamu, telponin Caca, teleponin Aya bahkan aku telpon Arjune" Aku menatapnya dengan membulatkan mata kaget "Sampe Arjune ikutan panik sama marah juga, aku udah rencana mau telpon Ibu kali aja kamu pulang ke Jogja. Terus barusan sebelum kamu datang aku udah mau kerumah temen-temen kamu tapi keburu kamu dateng" Aku menghembuskan napas pelan saat mendengar perkataannya "Arjune itu atasan aku loh Sam" Aku menatapnya dia hanya tersenyum "Tapi Arjune itu temen aku, dan kamu pacar aku" Aku hanya menggelengkan kepala saat mendengar jawabannya, jika ada predika bucin di dunia ini mungkin orang ini akan masuk dalam nominasi.
"Bel lo kemarin kemana? Sam neror gue banget anjir" Siang ini Caca menelponku untuk mengajakku makan bersama, Saat ini Caca bekerja di kantor yang sama tempat dimana Arsen bekerja hingga saat hari kerja kami akan jarang bertemu. "Gue ke Bandung" dengan tangan yang mengangkat minuman yang ada di hadapanku aku menatap Caca "Kemarin ulang tahun Ayah" tanpa menatap Caca aku menjawabnya "Bel, Apapun itu, gimana pun itu lo harus berusaha buat terbuka sama kita-kita. Udah 6 tahun lo selalu aja bilang gapapa dan ngelaluin ini sendiri terus" Kini Caca sudah menatapku dan aku mengangkat wajahku untuk dapat melihatnya "Ini udah lama banget Ca, Gue ga enak harus ngebebani orang dengan masalah yang bahkan semua orang udah lupa" Caca menatapku dengan tajam seakan menerkam ku "Selama apapun itu Bel, kalau nyatanya lo belum sembuh itu masih penting. Tiap orang punya saat pulihnya masing-masing Bel, dan gue mau jadi temen yang nemenin lo saat dimana lo pulih" Aku menatap Caca dengan perasaan yang benar-benar tidak enak. Inilah kenapa aku memilih kota ini sebagai pelarianku, karena disini ada dia. Dia yang selalu saja mendukung ku tanpa mengatakan apapun,sekali lagi aku sangat bersyukur karena tuhan memberiku orang-orang seperti Caca yang sudah memberiku sedikit harapan untuk bisa kuat dalam setiap langkahku.
Disinilah aku sekarang disalah satu Coffee shop yang terkenal diberbagai negara, di tempat dimana biasanya para remaja untuk duduk bersama teman-temannya dan bercerita segala hal. Namun kini aku duduk di hadapan orang yang sangat berarti bagi orang yang sangat berarti untukku, Kulihat wanita itu berjalan mendekat kearahku dengan senyumannya jantungku seakan berdetak tanpa aturan dan hatiku yang sangat gelisah, selama bertemu dengannya saat inilah yang paling aku takuti terjadi namun dari awal aku sudah tahu jika saat ini pasti akan terjadi padaku. "Udah nunggu lama Bel?" Dengan senyum yang belum luntur dari bibirnya, kini aku tahu dari mana Sam mendapatkan senyum yang begitu indah. Aku menggeleng dan mempersilahkan dia untuk duduk "Kamu apa kabar Bel?" dengan merapihkan pakaian dan duduk dengan nyaman dia mulai berkata dengan menatapku "Aku baik tan. Tante sendiri?" Dia mengangguk "Baguslah, Seperti yang kamu lihat. Tante sangat baik" Kini aku yang mengangguk dan tersenyum canggung padanya. "Sebelumnya tante mau minta maaf sama kamu Bel" Aku menatapnya kaget seakan meminta kelanjutan dari kata-katanya " Buat yang tante lakukan ke kamu terakhir kali kita ketemu. Tante ga tau kalau akan berakibat begitu besar buat kalian apalagi kamu" Orang diseberangku menatapku dalam dan sendu, dia yang dipanggil 'Mama' oleh Sam kini sedang meminta maaf kepadaku yang bahkan aku tidak tahu apa yang harus di maafkan. Bagiku orang tua memiliki haknya sendiri atas anaknya, jadi hal itu tidak dapat disebutkan sebagai kesalahan. "Tante, Bella ga pernah marah soal itu. Bella tau tante punya alasannya sendiri karena melakukan itu, kalau Bella diposisi tante juga pasti akan melakukan hal yang sama. Gapapa tante gausah dipikirin" Kini wanita yang ada didepaku sudah berusaha menggapai tanganku dan menariknya pelan kedalam genggamannya "Saat itu tante benar-benar merasa bersalah, setelah melihat Sam yang memohon pada tante karena dia pikir tante tahu kemana kamu pergi. Melihat itu tante hancur Bel" Senyuman yang tadinya merekah kini menyusut dan meninggalkan tatapan yang sendu membuat hatiku kembali terenyuh. "Setelah kamu pergi Sam mau buat mengikuti kemauan tante buat kuliah di Aussie, tapi tanpa tante tahu dia selalu pulang ke indonesia cuma buat lihat kamu" Kini aku yang mendengar pernyataan itu kembali menatap orang yang ada didepanku dengan kaget. Kenyataan apa lagi yang kini harus aku terima, jika ternyata Sam sudah tahu kemana aku pergi selama ini dan dia selalu ada diantara bayang-bayang ku. Entah bagaimana aku harus menjelaskan ini dan menghadapinya nanti.