You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua Puluh Sembilan : Samuel's POV



Saat kini untuk kedua kalinya aku merasa begitu takut untuk hal yang sama, saat dia mengatakan untuk mengambil waktu untuk dirinya dengan tatapan yang dulu pernah dia perlihatkan saat dia meninggalkan ku, dan saat aku tahu bisa saja hal yang sama akan terulang sekarang. Sekarang dengan tanpa arah aku berlari sekuat tenaga untuk segera menuju kearahnya tanpa menoleh kebelakang lagi, aku benar benar takut akan kehilangannya lagi


"Jo pesenin gue tiket ke Jogja sekarang, gue udah jalan ke bandara!" Saat terdengar sahutan dari orang yang ada diseberang sana dan tanpa sempat mendapat jawaban atau sapaan aku langsung beringsut untuk mencapai ketempat nya lebih cepat. "Sam udah gue pesenin, Kode Booking nya gue kirim di chat!" Jordan atau yang sekarang menjabat sebagai sekertaris ku kini kembali menelponku "Oke sekarang atau besok lo urus mobil gue di bandara!" kini kakiku sudah melesat untuk segera meninggalkan area parkiran. Jika hal itu menyangkut dia aku hanya akan kehilangan kendali entah apa yang sudah dia lakukan hingga membuatku begitu jatuh padanya, setiap tindakan yang dia lakukan selalu berarti untuk ku.


"Bella!" Dia yang ku ketahui jika sedang berada di rumah sakit kini tanpa sengaja aku dapat melihatnya tengah berdiri membelakangi di area taman rumah sakit, dan saat aku memanggilnya dia kini menatapku dengan tidak percaya jika aku sudah di hadapannya, Sejenak aku dapat menghembuskan napas dengan kasar melihatnya ada didepanku sekarang membuatku lega, sangat lega!. Tanpa mengatakan apapun lagi aku menariknya kedalam pelukan ku, aku benar-benar merindukan orang ini tuhan. Jika boleh menukar apapun yang ada didunia ini untuk terus bersamanya aku tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya, aku ingin terus bersamanya untuk waktu yang lama.


Kini aku sudah berada didekatnya dan berada di lingkungan dimana aku yang dulunya hanya dapat melihat dari jauh, lingkungan dimana dia tinggal dan lingkungan dimana dia tumbuh dengan dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berada didekatnya, aku sangat merasa beruntung karena ini. Sejak aku mengenalkan diriku pada keluarganya aku merasa nyaman berada dilingkungannya berada disekelilingnya, Keluarganya terasa hangat dan sangat menerimaku berada disini. Waktu yang berputar begitu cepat disini dan tibalah saatnya aku harus kembali dan menjalani kembali hari-hari ku. Namun seakan belum cukup untuk mengejutkan ku pagi-pagi sekali Bella sudah berkata jika Mama ingin mengajak kami untuk pergi kerumah, ada sedikit rasa khawatir dihatiku karena hal ini. Aku hanya terus bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Mama dan apa yang akan dikatakan Mama padanya?.


"Sam nanti aja pulangnya ih" saat sudah mengantarny sampai pada unit apartemennya kini dia menarik lenganku untuk duduk kembali disofa yang sudah ku duduki sejak 20 menit yang lalu, "Tapi cium dulu!" Aku menunjuk pipi sebelah kananku dan menatap kearahnya, dan tanpa menunggu dia langsung menyetujui permintaanku, dan tanpa menunggu lagi dengan cepat aku menarik tengkuknya dan kini dapat aku rasakan napas hangatnya berhembus diwajahku yang kini sangat terasa dekat. Kudekatkan kini wajah kami dan menatap wajahnya seolah meminta persetujuan darinya, dan kini dapat ku lihat dia yang tersenyum kearahku dan lebih dulu mendekatkan bibirnya ke bibirku. Sejenak kami terdiam dan hanya memejamkan mata sebelum kemudian aku yang lebih dulu menggerakan nya dengan lembut dan tangannya yang sudah merengkuhku dengan erat membuatku semakin melambung tinggi. Tangan yang sedari tadi berada di paha nya kini beralih kepunggungnya dan menggerakannya naik turun, setelah beberapa waktu menikmati pangutan ini aku merasa harus segera menghentikan nya jika tidak ingin hal ini dapat menyakitinya kelak. Perlahan ku jauhkan wajahnya dan menatap dalam ke matanya yang bening dengan senyuman yang selalu dia tunjukan, aku sudah bertekat dari awal jika aku akan selalu menjaganya dan membuat nya nyaman didekatku. Kutarik pelan tubuhnya kedalam dekapanku untuk dapat menikmati degupan jantung yang sudah menggila didalam sana.


"Kamu beneran ga jadi pulang kan?" setelah berdiam beberapa saat dia kembali bersuara dengan suaranya yang sangat menggemaskan "Iya sayang"Sifatnya yang seperti inilah yang membuatku terus menyukainya tanpa henti dimana didepan orang lain dia akan menjadi manusia yang paling mandiri, namun di depanku dia akan begitu bergantung padaku. "Kamu mandi dulu sana" aku melepaskan pelukanku namun kurasakan dia kembali mengeratkan pelukannya di tubuhku "Nanti aku mandi kamu pergi kayak waktu itu" Dulu aku sempat pergi saat dia mandi karena tiba-tiba jordan menelpon jika terjadi masalah dikantor, tidak kukira jika dia akan terus mengungkitnya "Waktu itu ada masalah dikantor Sayang, bukan sengaja ninggalin kamu" Kini dia melepaskan pelukannya dan tertawa kearahku "Oke oke aku mandi, aku cuma bercanda" dapat aku lihat dia yang sudah berjalan menjauh kearah kamarnya.