You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua puluh : ILY 10000



Di minggu siang ini Caca mengusulkan untuk mengajak kami makan siang kesukaannya di restoran grill yang berada di salah satu mall yang tidak jauh dari apartemen "Ca, Ay kalo Sam nyusul kesini gapapa?" setelah menaruh ponsel yang tadinya aku letakan di telinga, karena lelaki tersebut sejak pagi sudah merecoki kami untuk ikut bergabung "Gapapa, yang lainnya juga bakalan kesini kok biar kita bisa makan gratis" Sembari meletakan kaca yang sedari tadi dia gunakan untuk touch up Caca menatapku dan aku hanya mengangguk untuk kemudian mengetikan pesan pada lekaki itu. Setelah menunggu beberapa saat kini makanan yang kami pesan sudah lengkap tersedia didepan kami, Sedangkan Caca dan Ayana sudah disibukan dengan panggangan yang ada di hadapan kami.


Saat hendak memasukan makanan kedalam mulut aku merasakan tepukan pelan di puncak kepalaku "Wah, Curang nih Caca makan kesukaan dia mulu" sesaat setelah menggeserkan kursi yang ada disampingku dia menatap Caca yang masih sibuk dengan daging-dagingnya, Disusul dengan pacar Caca Arsen, Febrian dan Jonathan sudah mengambil posisi di hadapan meja yang sama serta saling menyapa. Kami semua memang sudah berteman sejak kuliah jadi tidak heran jika sekarang kami sudah akrab satu sama lain.


"Gila nih pacar lo Sen, masa makan ginian lagi" Orang yang ada disampingku menatap pada Arsen dan mengangsurkan makanan yang sudah matang padaku "Apaan sih Sam, asal lo tau ya bagi Bella makan-makanan kayak gini tuh anugerah yang patut dia syukurin" Dengan menunjuk berbagai macam frozen food dan seafood yang ada didepan kami dia menatap Sam dengan tak kalah sengit. "Anugerah?Syukurin?" Kembali Sam menatap bingung ke arah Caca "Bella ini dari kecil dilarang makan olahan seafood sama ayah" Kini dapat aku lihat Sam yang sudah menatapku untuk meminta penjelasan dari kata-kata Caca "Waktu kecil dia pernah alergi, lo tahu kenapa dia suka makan ayam waktu kecil dia sempat berapa bulan dilarang makan ayam karena sempat keracunan, mulai sekarang harusnya lo curiga kalo ni anak udah suka banget sama satu hal. Termasuk lo!" Caca dengan tatapan sengitnya bisa membuat siapapun terdiam "Ca! Udah ya kita semua lagi makan ini" Aku berusaha untuk menghentikan dan menenangkan Caca, dan dapat kulihat juga Arsen yang melakukan hal yang sama dengan mengelus punggungnya pelan. Kini Sam sudah menatapku dalam dan sempat membuatku takut untuk melihat matanya "Aku gapapa! ayo makan abis ini kita bicara ya" Dengan pelan aku menenangkan Sam yang hendak mengatakan sesuatu padaku, aku menggenggam jamarinya yang ada di bawah meja, Selama kegiatan makan kami dia hanya diam dan sesekali menyauti perkataan temannya namun tidak ada lagi senyum yang biasanya aku lihat di wajahnya hanya tatapan sendu yang sangat tidak aku sukai. Aku tidak tahu harus menjelaskan apa padanya karena aku hanya merasa itu sudah tidak penting lagi, aku tidak apa-apa sekarang jadi apa masalahnya.


"Bell, Kamu tahu waktu itu kamu bisa aja kenapa masalah gara-gara aku, kenapa sih kamu ga mikirin itu?" Aku tidak tahu jika dia akan semarah ini hanya gara-gara seafood, terdengar kekanakan tapi memang saat itu aku sangat penasaran dengan rasa dari makanan laut tersebut yang dari kecil tidak pernah lagi aku sentuh dan hingga kini tidak anggota keluarga yang tahu jika aku sudah kembali makan-makanan itu "Sam lihat aku, aku beneran gapapa? aku minta maaf karena waktu itu sangat kekanakan udah nyepelein hal ini" aku menarik wajahnya untuk menatap ke arahku "Apa lagi yang kamu sembunyiin dari aku?" kini dia menatapku dengan datar yang dapat membuatku merinding, tatapan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya kini aku mulai takut melihatnya seperti ini "Sam, dari awal aku gapernah mau nyembunyiin ini dari kamu tapi kamu sendiri yang ga pernah tanya aku, tapi kamu harus janji jangan marah" Kini dia hanya mengangguk dan kembali menatapku "Dulu mama kamu pernah nemuin aku" kini tatapan kaget tidak dapat ditutupi wajahnya "Dia bilang kalo hubungan kita ga akan pernah berhasil. Engga, aku ga marah sama mama kamu karena dia memang benar. Saat itu kamu terlalu fokus pada aku dan aku ngerti keluarga mana yang mau anaknya melupakan masa depannya hanya gara-gara perempuan yang kehidupannya ga jelas kaya aku" Dia menggenggam tanganku dengan erat dan menatapku dengan tatapan yang bersalah "Kamu tahu sendiri gimana keadaan aku saat itu Sam, tapi saat aku ketemu kamu lagi gini aku seneng setidaknya keputusan aku saat itu benar dan kamu ga ngecewain aku hingga kini. Makasih Sam" Kini dia menarikku kedalam rengkuhannya yang sangat erat dan terus merapalkan kata maaf pada ku "Jadi aku kamu tahu kan kenapa aku sesuka itu sama kamu, dan untuk kali ini aku gaakan ngelepasin kamu lagi Sam" Dapat terasa jika sekarang dia menitikan air matanya dipundakku. Ya, untuk kali ini tuhan tidak berniat untuk memisahkan kami lagi, karena demi apapun aku hanya butuh dia. "Gimana pun aku sekarang, aku harap kamu ga keberatan buat nerima aku. Kamu mau kan nerima aku?" Aku menjauhkan tubuhnya agar dapat melihat wajahnya yang memerah, kini dia mengangguk dan kembali memelukku erat "I love you 10000, Bella Renjani. I love you more and more".