You'Re My Special Thing Thank You!

You'Re My Special Thing Thank You!
Dua Belas : Maafkan Aku!



Setelah semalam aku tidak dapat memejamkan mataku karena debaran jantungku yang tidak dapat aku kendalikan lagi. Hingga kini tidak ada kabar lagi darinya, aku tidak tahu apalagi yang akan menjadi alasannya kini. Seharian ini aku berpikir apakah akan selalu seperti ini? dia yang selalu menghilang, lagipula apa yang bisa aku harapkan dari manusia. Mana ada manusia di bumi ini yang dapat berubah, kemarin aku hanya terlalu bahagia dapat melihatnya lagi setelah sekian lama hingga aku lupa jika hal seperti sekarang ini akan sangat mungkin aku alami lagi dan harusnya aku tidak perlu merasa begitu kecewa, lagipula dia sama sekali tidak punya kewajiban untuk memberiku kabar.


"Bella laporan yang gue minta minggu lalu udah selesai?" Tepukan di bahuku mengalihkan perhatianku untuk melihat siapa yang melakukannya, dapat ku lihat Beno menatapku dengan menautkan alisnya seolah meminta jawaban "Kenapa Ben?" Tanyaku kembali untuk memastikan apa yang dia katakan sebelumnya "Masih pagi juga udah bengong aja lo, gue bilang laporan yang gue minta minggu lalu udah selesai belum? soalnya gue mau follow up ke pak Arjune" Aku hanya menganggukan kepala seraya tanganku yang membolak balikan berkas-berkas yang ada di meja ku "Nih, tapi tolong lo cek lagi biar ga kena semprot pak Arjune" Aku menyerahkan map berwarna hijau kearah Beno yang berisikan berkas yang dia minta, Beno hanya menganggukan kepala dan berjalan menuju kearah meja kerjanya.


Malam ini aku berjalan gontai menuju kearah apartemenku berharap dapat sampai lebih cepat karena entah kenapa hari ini aku merasa benar-benar tidak merasakan apapun. Belum sempat kakiku menginjakan ke arah lift apartemen yang akan mengantarkanku ke lantai 16 dimana unitku terletak, deringan ponsel yang sedari tadi aku letakan di tas ku terdengar membuatku refleks menggapainya, setelah dapat dan kulihat siapa penelpon tersebut menbuatku berpikir ulang untuk mengangkatnya, namun belum sempat jariku menggeser ikon hijau di layar ponselku panggilan tersebut sudah berakhir. Diiringi dengan berakhirnya deringan ponsel tersebut digantikan dentingan notifikasi yang menandakan ada pesan yang masuk dari orang yang sama.


Samuel Gavirera G: Bella maaf aku ga sempet ngehubungin kamu lagi semalem, aku tiba tiba ga enak badan


Bella Renjani : Kamu sakit?


Bella Renjani : Udah minum obat?


Samuel Gavirera G : cuma flu biasa sih, tp tadi udah minum obat kok


Bella Renjani : Udah makan?


Bella Renjani : Coba sharelock Sam


Samuel Gavirera G : 📍Share Location


Bella Renjani : Oke tunggu ya, gausah pesen apapun dulu


Samuel Gavirera G : Oke


Entah apa yang aku pikirkan hingga aku bisa sampai disini dengan menjinjing satu bungkus makanan. Mungkin karena aku tahu jika sakit sendirian itu sangat menyusahkan dan menyesakan atau memang aku yang terlalu khawatir dengan nya atau mungkin aku hanya merasa perlu membalas budi atas apa yang telah dia perbuat untukku selama ini? yang pasti aku tidak mungkin mengurungkan niatan awalku karena sekarang aku sudah berdiri didepan pintu apartemennya. Dengan menghembuskan nafas dalam untuk meyakinkan kembali diriku aku menekan bel yang ada didekatku dengan tanganku yang bebas, tanpa menunggu lama dapat aku lihat pintu yang tadinya tertutup rapat sudah perlahan bergerak untuk memperlihatkan apa yang ada dibaliknya. "Bella!" Dia menyebutkan namaku saat pintu tersebut sudah benar-benar terbuka "Kamu ngapain kesini?Masuk-masuk" aku tersenyum dan mengangkat tanganku yang membawa plastik makanan,sambil menyingkirkan badannya untuk mempersilahkan aku masuk dia menggiring aku untuk duduk di sofa berwarna abu-abu yang terletak di tengah-tengah ruangan, ruangan yang berwarna abu dengan campuran putih yang mewah serta beberapa figuran foto yang bersusun rapih di dinding serta televisi membuat ruangan ini benar-benar terasa nyaman namun kosong. "kamu duduk dulu, aku ambilin minum" belum sempat dia melangkah pergi aku lebih dahulu menahannya dengan menarik lengannya untuk ikut duduk bersamaku, dari dekat dapat aku lihat wajahnya yang pucat serta hidungnya yang memerah dan tangan yang sedari tadi aku pegang terasa hangat. "Kamu masih demam, kamu duduk aja dulu disini terus kamu arahin aja kemana dapurnya biar aku ambil sendiri" aku meletakan telapak tanganku kedahinya dan dapat aku rasakan jika dahinya sangat hangat, kulihat dia memejamkan matanya dan mengangguk "jadi dapurnya dimana?"Dia hanya menunjukan arah dimana letak dapur yang terlihat dari tempat aku duduk sekarang ini "oke, gapapakan kalo aku kesana?" kulihat dia hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah melihat dia menghabiskan makanan yang kubawa dan meminum obatnya, kini dia telah memejamkan matanya dengan tanganku yang terus mengompreskan handuk didahinya. Kualihkan mataku untuk melihat jam yang ada di dinding kamarnya, waktu sudah menunjukan pukul 11.30 malam dan setelah yakin jika hangat yag tadi terasa di dahinya sudah tidak terasa lagi kini aku memutuskan untuk segera pulang. Dalam perjalan menuju kearah apartemenku yang hanya terpisahkan oleh beberapa gedung tower saja aku berpikir lagi apa yang sebenarnya sedang aku lakukan ini, apakah dia kembali hanya untuk membalas atas apa yang sudah aku lakukan padanya dulu, atau memang semua nya sudah berubah. Ditengah-tengah pelukan angin dingin malam ini aku tiba-tiba merasa takut jika semua dugaan dan prasangkaku akan benar, apakah untuk kali ini aku akan sanggup kehilangan dia lagi? saat dia menghilang tadi saja aku sudah ketakutan setengah mati, saat tahu dia sakit aku langsung berlari kearahnya apakah aku akan sanggup menghadapinya jika terjadi hal lebih dari ini padanya? aku harap setelah ini aku bisa selalu ada disisinya disetiap momen yang ada. Dan sekali lagi tuhan aku mau dia, dan maafkan aku yang sudah menyia-nyiakan dia dulu.