Virzara

Virzara
Eps 7



Melihat reaksi pak Han, membuat Vir tertawa sinis.


"Sudah jelas-jelas penakut, tapi masih saja sok mesum pada wanita yang tak berdaya. Sungguh memalukan." Vir pun memelintir tangan pak Han, hingga membuatnya berteriak kesakitan.


Zara yang melihat itu pun semakin dibuat ketakutan, ia begitu syok hingga membuatnya semakin menangis.


"Aaaaghh sakit, tolong lepaskan!" Teriak pak Han.


Vir pun mendorong kasar tubuh pak Han dan melepaskan tangannya.


"Pergi sebelum aku berubah pikiran." Ketus Vir seolah tanpa ada lagi rasa takut apalagi segan terhadap dosennya itu.


"Awas saja kau brandal, lihat apa yang bisa kulakukan untuk menyingkirkan makhluk brandal sepertimu." Ucap pak Han sembari memegangi pergelangan tangannya dan mulai beranjak pergi.


"Aku tidak takut, aku bahkan akan menunggu moment itu tiba." Teriak Vir lagi.


Namun pak Han terus berlari terbirit-birit keluar dari kelas lukis tanpa menggubris ucapan Vir lagi, membuat Vir akhirnya hanya bisa mendengus kesal sembari terus memandangi kepergian pak Han.


"Sudah untung tidak ku potong jari tangannya yang mesum, masih saja sok mengancamku." Celetuk Vir seorang diri.


Tak lama, Vir pun kembali memandang ke arah Zara yang masih terdiam ketakutan dengan wajahnya yang memucat, lalu ia pun perlahan mulai melangkah mendekati Zara dengan keadaan masih memegang pisau di tangannya.


Hal itu semakin membuat Zara ketakutan dan refleks bangkit dari duduknya. Menyadari hal itu, Vir pun langsung melempar pisaunya begitu saja ke lantai.


"Kau ini, kenapa bodoh sekali ha?" Vir pun mulai mengecakkan pinggangnya di hadapan Zara.


Namun Zara masih saja terdiam dan hanya bisa menatapnya dengan ragu-ragu.


"Sudah jelas-jelas dia ingin melecehkanmu, kenapa kau malah diam saja seperti patung?" Tambah Vir lagi yang terus mengomeli Zara.


Zara pun mulai menunduk dan menyeka air matanya yang sejak tadi terus menetes.


"Jika tidak suka, lawan! Kau itu tidak boleh lemah menjadi wanita, apalagi saat menghadapi lelaki hidung belang seperti itu. Mengerti tidak?"


Zara pun mulai memandangi Vir dengan tatapan yang tak biasa, karena baginya, Vir pun juga termasuk ke dalam kategori lelaki hidung belang.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau menilaiku sama seperti lelaki tua itu?" Tanya Vir lagi yang merasa tak terima meskipun ia sendiri tau jika dia memanglah lelaki hidung belang.


"Terima kasih." Ucap Zara akhirnya dengan suara begitu pelan dan kembali menundukkan pandangannya.


"Hah sudah lah, nampaknya aku memang di takdirkan untuk melindungimu hari ini. Jadi tidak perlu berterima kasih." Ucap Vir sembari mendekati canvas milik Zara.


Lagi-lagi Vir dibuat takjub dengan hasil lukisan tangan Zara.


"Wah, apa ini lukisanmu? Apa sungguh kau yang melukisnya?"


Zara hanya mengangguk namun dengan kepalanya yang masih terus menunduk. Karena meski pun kali itu Vir sudah menyelamatkannya dari pelecehan seksual, Namun bagi Zara, Vir tetaplah lelaki yang harus ia takuti karena kelakuannya di kampus.


"Benar-benar sama seperti persis seperti yang patung aslinya." Celetuk Vir lagi.


Meskipun mendapat pujian, namun tak membuat seorang Zara menjadi besar kepala. Ia justru memilih terus diam dan menunduk.


"Tapi patung apa ini? Kenapa dosen mengambil patung ini sebagai objek untuk di lukis. Bukankah wajahnya sangat menyeramkan dan sangar?" Tanya Vir lagi.


"Dia adalah dewa perang yang memiliki energi berwarna Merah yang dilambangkan sebagai pemberani. Meski pun dari luar dia terlihat begitu perkasa dan banyak di takuti, namun di sisi lain, ada kisah kelam dan sedih yang disimpannya."


"Begitu kah? Benar-benar dewa perang yang malang." Celetuk Vir sembari memandangi patung yang ada di hadapannya.


Zara pun tak lama seolah tersentak, ia pun seketika kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan bergegas pergi. Vir yang melihat hal itu kembali memanggilnya.


"Hei tunggu!"


"Ini lukisanmu ku kembalikan." Ucap Vir sembari memberikan selembar kertas.


Zara dengan ragu meraihnya, lalu memandangi lukisan seorang ibu dan bayi lelaki yang pernah ia lukis. Zara pun menghela nafas, lalu mengembalikan kertas itu pada Vir.


"Buang saja." Ucapnya pelan.


"Apa?! Buang? Ta, tapi kenapa di buang? Lukisan ini sangat bagus dan penuh makna."


"Tidak apa."


"Kalau begitu, apa boleh lukisan ini untukku?" Tanya Vir sembari tersenyum memandangi lukisan di tangannya.


Zara dengan perlahan kembali menatap Vir.


"Itu hanyalah sketsa, jika kau mau, aku akan melukisnya di canvas." Ucap Zara pelan.


"Ha?! Benarkah? Apa itu gratis?" Wajah Vir nampak begitu berbinar.


Zara pun mengangguk pelan.


"Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihku." Jawab Zara kemudian.


"Ah baiklah kalau begitu, aku akan menunggu hingga lukisan itu jadi. Dan mulai sekarang, aku akan jadi bodyguard mu hehehe, dan tenang saja, jasaku juga gratis tidak di pungut biaya." Vir pun kembali cengengesan.


Namun saat itu Zara hanya diam saja dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Hei." Panggil Vir lagi.


Membuat Zara lagi-lagi harus menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?" Tanya Zara pelan.


"Ini milikmu." Ucap Vir sembari melempar suatu benda ke arah Zara.


Zara pun dengan refleks menangkapnya, lalu memandangi benda yang di lemparkan oleh Vir.


"Sesuai janjiku, aku kembalikan dua kali lipat." Tambah Vir lagi sembari tersenyum dan kemudian pergi begitu saja melewati Zara.


Zara pun memandangi uang yang telah bertambah menjadi 200 ribu dalam keadaan digulung dan di ikat dengan ikat rambut milik Zara yang sebelumnya juga di pinjam oleh Vir.


Vir terus berjalan santai menuju parkiran tempat dimana sepeda motornya ia parkirkan, tak sedikit pula ia berpapasan dengan para wanita yang pernah ia kencani, dan anehnya Vir justru memilih bersikap cuek seolah tidak tertarik lagi pada para wanita yang pernah dicicipinya.


"Wah Vir, apa itu motor barumu?" Tanya salah seorang wanita yang tengah nongkrong tak jauh dari motornya.


Vir hanya tersenyum sembari meraih helm nya.


"Keren sekali, bolehkah beri aku tumpangan?" Wanita seksi itu pun mulai melangkah mendekati Vir.


"Maaf Hana aku harus ke bengkel,"


"Hana siapa yang kamu maksud Vir? Aku Helena, semudah itukah kamu melupakanku setelah apa yang pernah kita lakukan di tempat tinggalmu?"


"Oh hahaha astaga maaf Helena, aku sungguh lupa."


Bagaimana tidak, wanita yang pernah di ajak kencan dan di tiduri olehnya ada begitu banyak , dia bahkan tak bisa mengingat berupa jumlah wanita yang sudah ia nodai hingga ia tak bisa mengingat satu persatu namanya. Karena bagi Vir, semua wanita yang datang padanya pada masa itu hanyalah untuk kesenangan sesaat.


...Bersambung......