
WARNING!!!
Ada kesalahan saat mengupload cerita, author minta maaf, sebelum lanjut baca eps ini, di mohon untuk membaca ulang dari eps 45 ya gengs, karena kemarin ada bagian yang terpotong. Terima kasih🙏🏻❤️
*dugdugdug*
"Ayolah tuhan, ku mohon sekali ini saja, setelah itu aku tidak akan meminta apapun lagi. Tolong menangkan wanita yang ku maksud kemarin tuhan, tolong!" Doan Vir dalam hati.
"Yak, dan pemenangnya adalah Zara!!! Yang melukis wajah Virga sebagai objeknya!!!" Ucap ketua panitia dengan sangat lantang,
Hal itu pun sontak di sambut dengan sangat antusias oleh Vir dan kedua temannya. Vir kembali bersorak, merangkul pundak Ken dan mengajaknya berlompat-lompat dengan girangnya. Dan Zara, tentu saja ia pun tak kalah senang, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis karena haru dan sangat tidak menyangka.
"Ya Zara, silahkan naik ke podium dan ambil pialamu." Pinta ketua panitia.
Zara bergegas mengusap air mata bahagianya, lalu mulai melangkah pelan menuju podium. Dengan cepat, salah satu juri langsung mengalungkan sebuah medali di lehernya, serta memberikan piala yang cukup tinggi serta sebuah pamflet yang bertuliskan nilai uang yang akan ia terima.
"Selamat ya Zara, lukisanmu benar-benar terlihat sangat menakjubkan, seperti bernyawa." Ucap dewan juri itu sembari menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zara.
Namun berhubung juri itu seorang lelaki, membuat Zara tidak langsung membalas jabatan tangannya, Zara justru kembali gemetaran, ia terlihat mulai ketakutan sembari terus memandangi tangan yang ada di hadapannya.
Vir yang melihat hal itu juga mulai memicingkan matanya saat menyadari gelagat aneh Zara yang terlihat kembali ketakutan. Saat itu Zara menyempatkan diri untuk melirik ke arah Vir, Vir yang kebetulan juga tengah menatapnya, langsung menganggukan kepalanya sebagai tanda menyuruh Zara untuk membalas jabatan tangan juri itu. Zara menghela nafas panjang, lalu akhirnya dengan sedikit ragu, ia pun membalas jabatan tangan itu dengan keadaan tangannya yang masih gemetaran.
"Zara tolong sampaikan sesuatu atas kemenanganmu ini." Ucap ketua panitia sembari memberikan sebuah microfon padanya.
Zara pun meraihnya dengan ragu dan tangan yang kembali gemetaran.
"Haaaish, aku tak yakin dia bisa melakukannya." Celetuk Siska.
"Kenapa?" Tanya Ken sembari mulai mengerutkan dahinya.
"Ya, apa kau lupa, kemarin saat disuruh membacakan hasil karangannya di depan kelas saja dia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Apalagi sekarang, di depan ribuan orang." Jawab Siska lagi.
"Oh iya, aku ingat kejadian itu." Jawab Ken pelan.
Vir yang mendengar hal itu sontak menyorot tajam ke arah kedua temannya.
"Hei, jangan meremehkannya seperti itu!" Tegas Vir.
"Aku tidak meremehkannya." Jawab Siska.
Lagi-lagi Zara terlihat menghela nafas, lalu perlahan bibirnya mulai bergerak seolah pertanda jika ia mulai ingin berbicara.
"Ak,, aku, eemmm ak,, aku ingin berterima kasih pada orang-orang yang telah mendukungku. Ibuku, ya ibuku tentu menjadi orang yang paling mendukungku selama ini. Beberapa teman yang akhir-akhir ini mau berteman dengan orang aneh sepertiku, terima kasih banyak, terutama Vir." Ucap Zara dengan suaranya yang lembut.
Mendengar namanya di sebut, membuat semua pandangam sontak tertuju pada Vir. Begitu pula dengan Vir yang sontak membulatkan matanya kala mendengar Zara secara khusus menyebut namanya di hadapan orang banyak.
"Vir, terima kasih banyak. Terima kasih sudah mau menjadi objek lukisanku." Tambah Zara lagi yang kemudian langsung menyerahkan kembali microfonnya pada ketua panitia.
Pagi yang cerah...
Zara turun dari bis tepat di depan gerbang kampus, lalu mulai berjalan kaki dengan santai untuk menuju ke loby utama gedung kampus. Saat itu, ada banyak pasang mata yang tertuju padanya, bahkan tak sedikit pula orang-orang yang berpapasan dengannya, mengucapkan selamat atas kemenangannya di ajang lomba melukis antar universitas yang ada di kota itu.
"Kau Zara yang berhasil melukis wajah Vir kan? Wah selamat ya atas kemenanganmu, lukisanmu begitu nyata." Celetuk salah satu mahasiswa yang saat itu tak sengaja berpapasan dengannya.
Saat itu, Zara seketika langsung menundukkan kepalanya di hadapan lelaki yang sama sekali tidak ia kenal.
"Terima kasih banyak." Jawab Zara yang terlihat sedikit ketakutan.
"Aku sungguh tidak menyangka, gadis aneh sepertimu, memiliki bakat terpendam yang luar biasa hahaha."
"Baik lah, kalau begitu aku duluan ya." Ucap lelaki itu sembari menepuk-nepuk pelan pundak Zara dan langsung berlalu pergi begitu saja.
Meski kejadian itu begitu singkat dan di anggap tidak berarti bagi lelaki itu, tapi itu tidak untuk Zara. Zara tetap lah Zara, yang masih menyimpan rasa trauma yang begitu mendalam akibat kejadian beberapa tahun yang lalu. Mendapati pundaknya yang secara tiba-tiba disentuh oleh lelaki asing, sontak membuat Zara shock bukan kepalang hingga membuatnya terperanjat histeris.
"Hei, ada apa denganmu?" Tanya lelaki itu yang terlihat kebingungan.
Zara tidak menjawab dan langsung berlari pergi begitu saja dengan membawa rasa takutnya yang kembali memuncak kala itu. Sedangkan lelaki itu, lelaki itu terlihat sangat tercengang melihat reaksi Zara yang menurutnya sangat lah berlebihan.
"Tidak kah itu sangat berlebihan?? Huh benar-benar perempuan aneh!!" Gumam lelaki itu seorang diri dan kemudian melanjutkan langkahnya.
Zara akhirnya tiba di loby utama dengan nafasnya yang begitu tersengal-sengal akibat terus berlari dari dekat gerbang utama. Yang dimana jarak dari gerbang menuju loby utama itu cukup jauh bila dilalui dengan berjalan kaki.
"Huh,,huh,,huh,," Zara terduduk lesu di anak tangga untuk menenangkan kembali detak jantungnya yang jadi tak beraturan.
Dan kebetulan, saat itu Siska juga terlihat baru tiba di loby dengan gaya dan penampilannya yang seksi seperti biasa. Mata Siska sontak memicing, saat berhasil menangkap sosok Zara yang terduduk di tangga dengan gelagatnya yang aneh.
"Zara??? Ada apalagi dengan wanita itu?!" Tanya Siska dalam hati sembari mulai kembali melangkah untuk mendekati Zara.
"Heh!" Panggil Siska yang saat itu sudah berdiri di hadapan Zara.
Zara pun sontak mengangkat kepalanya dan langsung menatap wajah Siska yang saat itu terlihat sudah tersenyum sinis padanya.
"Heh, apa yang kau lakukan disini?!" Tanya Siska dengan tenang,
"Oh ti,,. Tidak Siska, tidak ada apa-apa." Jawab Zara dengan suara pelan sembari kembali menundukkan kepalanya.
"Lalu, ada apa dengan gelagat anehmu ini ha?" Tanya Siska lagi dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap di dada.
"Ak,,. Aku..."
"Apa kau mulai terserang star syndrom? Karena memenangkan hadiah yang cukup besar dari ajang lomba lukis."
"Tidak!" Zara pun menggelengkan cepat kepalanya.
"Benarkah tidak?!" Siska sontak mendengus dan di iringi dengan kedua alisnya yang terlihat terangkat.
"Lagi pula, aku belum mendapatkan hadiahnya." Jawab Zara yang masih terlihat lesu.
"Hah?! Jadi belum?"
Zara pun menggeleng pelan.
"Oh sayang sekali."
"Ya, memerlukan waktu beberapa hari untuk panitia memberikan hadiahnya."
"Eemm baik lah, berhubung kemarin aku sudah menjadi salah satu orang yang ikut serta menyemangatimu, jadi kau harus janji saat sudah menerima hadiahnya, kau harus mentraktirku makan enak!" Tegas Siska seolah tanpa segan.
Zara pun akhirnya tersenyum tipis, lalu mulai menganggukkan kepalanya.
"Baik lah, aku akan mentraktirmu hehehe. Dan terima kasih Siska, aku sangat tidak menyangka kau bersedia mendukung dan menyemangatiku seperti kemarin."
Ucapan Zara pun lagi-lagi membuat Siska mendengus sembari tersenyum tipis.
"Jangan berlebihan, hal itu kulakukan karena terpaksa!" Jawab Siska berbohong dan masih merasa gengsi mengakui jika ia sudah mulai ingin berdamai dengan Zara.
...Bersambung......