Virzara

Virzara
Eps 52



Pelajaran dimulai tanpa menimbulkan masalah yang berarti, hingga beberapa jam berlalu, kelas untuk hari ini pun berakhir.


Tanpa ingin membuang waktu lebih lama, Zara langsung keluar dari kelas begitu kelas selesai, Siska menyaksikan hal itu, namun tidak berusaha menghalanginya seperti dulu.


Dengan menaiki bis yang menuju sesuai alamat yang diberikan oleh Siska, menempuh perjalanan setengah jam lamanya, akhirnya Zara pun tiba di sebuah persimpangan jalan, tak begitu jauh dari persimpangan itu, sudah terlihat sebuah ruko yang tak lain ialah bengkel milik keluarga Kenzo.


Dengan sedikit ragu, setelah menghela nafas panjang, akhirnya Zara pun memberanikan diri untuk melanjutkan langkahnya mendekati bengkel yang tentu ia tau, ada banyak lelaki disana. Sepanjang langkahnya, Zara terus menggenggam erat tali tasnya karena tangannya mulai gemetaran.


Zara pun menghentikan langkahnya saat ia tepat berada di depan ruko bengkel tersebut, tatapan mata yang penuh keragu-raguan serta kecemasan, terus menatap ke arah bengkel itu untuk mencari sosok yang ingin ia temui.


Dan kebetulan, tanpa membutuhkan waktu lama, sosok yang tengah ia cari akhirnya menampakan dirinya.


Saat itu Vir terlihat cukup kotor dengan berbagai peralatan bengkel yang ada di tangan dan di sekitarnya. Saat itu Vir masih belum menyadari kehadiran Zara, karena ia begitu fokus pada sebuah mobil rusak yang sedang ia tangani.


Namun kehadiran seorang wanita berwajah lembut namun dengan penampilan yang aneh, cukup menyita perhatian banyak pasang mata yang melihat kedatangannya. Hingga tak sedikit dari mereka yang seolah berbisik-bisik untuk menanyakan siapa gerangan gadis aneh yang datang, namun hanya terus berdiri di depan bengkel itu.


Bagaimana tidak di sebut aneh, sehari-hari Zara memang terus memakai syal di lehernya, meskipun dalam cuaca panas sekalipun, memakai kaus kaki serta jaket yang cukup tebal dan bisa menutupi seluruh lengannya, seolah sudah jadi kebiasaannya semenjak kejadian yang membuatnya trauma.


"Wajahnya sangat menarik, tapi sayang penampilannya begitu aneh." Bisik salah satu klien bengkel yang sedang terduduk dengan senyuman seolah mengejek ke arah Zara.


"Kau benar, andai dia memakai pakaian yang sedikit lebih terbuka, kurasa dia bisa membuatku hornii seketika hahaha."


"Hahaha masih begitu saja, wajahnya sudah membuat horniii, apalagi jika memakai pakaian yang lebih menunjukkan bentuk tubuhnya hahaha."


Secara tak sengaja, Vir yang berada tak jauh dari mereka pun bisa mendengarkan obrolan mesum itu dan hal itu cukup mengganggu baginya. Vir pun secara refleks menoleh ke arah sekelompok klien lelaki itu, saat itu mereka terlihat tengah begitu fokus menatap ke satu arah, yaitu di depan bengkel.


Hal itu membuat Vir jadi latah dan ikut menatap ke arah yang sama, dan yaaa, betapa terkejutnya Vir saat menyadari siapa wanita yang sejak tadi dibicarakan oleh tiga orang lelaki mesum itu.


Kedua mata Vir sontak dibuat terbelalak saat mendapati Zara yang telah berdiri di hadapannya. Saat itu, Zara terlihat sangat canggung, seperti sangat takut, namun ia tetap berdiri diam di tempatnya.


Vir yang saat itu cukup terlihat syok, tanpa sadar menjatuhkan peralatan bengkel yang saat itu ia pegang ke lantai.


"Zara??!!!" Gumam Vir dalam hati dengan tatapan yang masih seolah tidak menyangka.


"Apa aku tidak salah! Sedang apa dia disini?" Tanyanya lagi.


"Hei bung, ada apa denganmu? Kenapa kau nampak begitu terkejut saat melihat wanita aneh itu? Apa kau pun sudah mulai merangsang hanya dengan melihat wajahnya? Hahaha" ucap salah seorang klien sembari tertawa geli.


Perkataan itu, membuat Vir cukup tersulut emosi, dia bisa saja langsung menghajar lelaki yang memiliki tubuh yang lebih kecil darinya itu, tapi memikirkan bagaimana ruginya keluarga Ken jika ia membuat keributan dengan klien, membuatnya mengurungkan niat itu dan memilih diam.


Sembari terus membersihkan tangannya yang kotor dengan sebuah kain, ia pun mulai melangkah pelan untuk menghampiri Zara.


"Zara?!" Ucapnya.


"Hei, kenapa kamu kesini ha? Ada apa?" Tanya Vir seolah masih tak menyangka.


Saat itu, suasana di bengkel memang cukup ramai dan berisik, bahkan saat melihat Zara yang datang untuk mengunjungi Vir, tak sedikit pula rekan-rekan se profesinya yang mulai ikut menggoda.


"Hei Vir, siapa lagi kali ini Vir?" Tanya salah satu teman kerjanya.


"Iya Vir, wanita polos mana lagi kali ini yang akan kau nodai? Hahaha" timpal seseorang lagi.


"Hahaha ayo lah Vir, kali ini berikan kesempatan pada kami, jangan rusak semua populasi wanita di kota ini Vir." Suara celotehan pun semakin ramai terdengar seolah terus menerus menggoda Vir.


"Heh diam lah!" Ketus Vir.


"Waah apa kau mulai takut rahasia kebinalanmu terungkap? Hahaha."


"Hei nona, jangan mau dengan Vir, Vir itu penjahat kelamin hahaha."


"Aku sama sekali tidak takut! Dia bahkan sudah tau belangku! Tapi sayangnya, wanita yang ada di hadapanku saat ini, dia bukan salah satu dari daftar wanita yang ingin rusak, dia tidak sama!" Tegas Vir pada teman-temannya.


Sontak hal itu membuat teman-temannya mulai terdiam dan merasa terheran-heran.


"Astaga Zara, kenapa kamu datang kesini? Tempat ini tidak aman untuk wanita sepertimu." Keluh Vir yang kembali menatap Zara dengan sedikit cemas.


"Ak,,, aku..." Zara yang ketakutan dengan banyaknya para lelaki yang menatap ke arahnya, sontak dibuat seolah tak kuasa untuk berbicara.


"Ayo, kita bicara di tempat lain saja!" Ucap Vir pelan yang kemudian langsung menarik tangan Zara begitu saja.


Seolah seperti sudah terbiasa bersentuhan dengan Vir, Zara yang biasanya sangat panik dan takut ketika ada lelaki yang ingin menyentuhnya, kali ini bersikap seolah tak terjadi apapun. Tak ada lagi rasa takut, panik, bahkan kecemasan berlebih saat seorang Vir menyentuhnya, yang ada justru perasaan aman dan nyaman.


Vir menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada cukup jauh dari bengkel, kebetulan di belakang gedung bengkel, ada sebuah pohon yang sangat rindang dan terdapat sebuah kursi panjang di bawahnya, tempat yang jauh lebih tenang. Vir yang baru menyadari jika sejak tadi tangannya memegang erat tangan Zara, seketika langsung melepaskannya dan mulai terlihat segan.


"Oh astaga, ma,,, maaf! Aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud untuk..."


"Tidak apa!" Jawab Zara yang langsung memotong perkataan Vir.


Jawaban itu pun sontak membuat Vir terdiam dan lagi-lagi tercengang. Wajar saja jika Vir bersikap sepanik itu, karena yang ia tau, Zara sangat tidak mau jika di sentuh oleh lelaki mana pun.


"Sungguh tidak apa?" Tanya Vir seolah masih tak percaya jika Zara sama sekali tidak keberatan dengan hal yang sebelumnya sangat membuatnya histeris.


...Bersambung......