
Selang beberapa saat, Vir dan Ken akhirnya mulai menampakkan batang hidungnya, mereka berdua terlihat tengah berjalan santai ke arah loby, tempat dimana Zara dan Siska terduduk saat itu.
Siska yang menyadari kedatangan mereka lebih dulu, sontak langsung mengembangkan senyumannya sembari menyenggol pelan lengan Zara.
"Hei, lihat siapa yang datang!" Bisik Siska pelan sembari menggerakkan wajahnya ke arah Vir dan Ken yang terus berjalan ke arah mereka.
Zara pun dengan refleks langsung menoleh ke arah yang sesuai dengan arahan Siska, melihat Vir yang kala itu terlihat tengah terkekeh geli saat berbicara dengan Ken, mendadak membuat jiwa Zara menghangat lagi. Zara akhirnya juga mulai ikut tersenyum, meski senyumannya kali itu masih terlihat begitu tipis dan penuh keragu-raguan. Jantungnya juga mulai berdetak hebat disaat Vir sudah berjarak semakin dekat ke arahnya,
"Eh, hai Zara, Siska, selamat pagi." Sapa Ken yang baru sadar jika sudah ada Zara dan Siska yang terduduk di loby.
"Hai, pagi." Jawab Siska dengan senyumannya yang nampak begitu merekah.
"Pagi." Jawab Zara pelan yang kemudian perlahan mulai menundukkan kepalanya.
Saat itu Vir masih diam namun terus memandangi Zara dengan tatapan yang tak biasa. Perlahan tapi pasti, meski dengan langkah yang terlihat ragu-ragu, Vir pun akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Zara dan langsung menjulurkan tangannya sebagai tanda ingin berjabat tangan dengannya.
Zara yang awalnya terus tertunduk, dibuat sedikit terkejut saat melihat sebuah tangan yang menjulur di hadapannya, dengan perlahan, ia pun akhirnya mulai menaikkan pandangannya untuk menatap sang pemilik tangan, yang tak lain ialah Vir.
"Maaf, kemarin aku buru-buru pergi karena ada pekerjaan mendadak, sehingga tidak sempat mengucapkan selamat padamu." Ungkap Vir sembari tersenyum tipis.
Saat itu Zara belum menjawabnya dengan sepatah kata pun, ia justru terlihat masih begitu tercengang dengan sikap Vir.
"Selamat ya!" Tambah Vir lagi dengan senyumannya yang semakin merekah.
Setelah beberapa saat terdiam seperti patung, akhirnya Zara secara perlahan mulai membalas jabatan tangan Vir.
"Terima kasih Vir, terima kasih banyak." Jawab Zara pelan dan terlihat jelas jika ia sangat gugup saat mengatakannya.
Kembali bersentuhan dengan Vir, meski hanya sekedar berjabat tangan, nyatanya sudah cukup membuat Zara menjadi sangat grogi dan gelagapan.
Menyadari Zara yang terlihat sangat gugup dan seperti tidak leluasa, membuat Ken akhirnya merasa, ia merasa jika keberadaannya dan Siska disitu telah membuat Zara semakin canggung hingga jadi banyak diam. Itu lah sebabnya ia pun langsung berinisiatif untuk menarik tangan Siska dan membawanya pergi ke tempat lain, meski tidak tau pasti kemana ia akan membawa Siska, namun yang jelas, ia berusaha membawa Siska untuk menjauh dari Vir dan Zara, demi membuat mereka berdua jadi kembali akrab seperti sedia kala, bahkan ia berharap mereka bisa semakin akrab.
"Heh, kenapa kau menarikku?!! Ada apa memangnya?!" Bentak Siska yang masih belum paham maksud Ken, sembari menghempaskan tangannya hingga membuat tangan Ken pun sontak terlepas.
"Sudah lah, ayo kita pergi sekarang!" Jawab Ken cengengesan sembari kembali menarik lengan Siksa.
"Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?!"
"Agar mereka bisa lebih leluasa untuk mengobrol tanpa ada kita." Bisik Ken pada Siska.
Mendengar hal itu, Siska pun sontak terdiam, lalu kemudian melirik ke arah Zara dan Vir secara bergantian, hingga membuatnya langsung tersenyum serta mulai terkekeh geli.
"Eeemm ya, ya, ya, aku paham!!!." Celetuk Siska yang akhirnya dengan berat hati ia mulai melangkah pergi mengikuti Ken.
"Ya sudah kami masuk kelas duluan ya, daaahh." Ucap Siska sembari mulai melambaikan tangannya pada Vir dan Zara.
Vir pun terkejut, dan langsung bertanya.
"Heh, ka,,, kalian mau kemana?" Tanya Vir yang terlihat bingung.
"Tidak penting kami kemana, yang jelas kau dan Zara sepertinya memang perlu waktu untuk bicara berdua." Jawab Ken yang masih tersenyum tenang.
"Hei Zara, ingat janji mu tadi, ok?! Awas saja kalau ingkar!" Siska pun mulai melotot ke arah Zara.
Siska akhirnya ikut pergi bersama Ken, mereka terus melangkah dengan tenang menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.
Tapi Vir, yang mendengar dan menyaksikan hal itu, sontak dibuat semakin penasaran dengan hal apa yang di janjikan oleh Zara padanya,
"Ada apa denganmu dan Siska? Kenapa mendadak kalian terlihat kompak? Dan tadi, dia bilang tentang janji?? Apa yang kamu janjikan padanya?" Tanya Vir yang kembali menatap Zara.
Zara pun kembali tersenyum tipis sembari menatap lagi punggung Siska yang semakin menjauh dari mereka.
"Tidak, bukan apa-apa." Zara pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Aku merasakan jika belakangan ini, Siska mulai berubah, sikapnya jadi sedikit lebih ramah padaku." Jawab Zara lagi dengan sikap tenang.
"Haaaiissh yang benar saja." Vir pun mendengus sembari memiringkan senyumannya.
"Memang benar, walau pun dia masih sering berkata ketus padaku, tapi bisa kurasakan, jika dia sudah tidak memiliki niat untuk berbuat jahat padaku lagi."
"Heeemm entah itu memang benar, atau kau yang begitu polos, entah lah, tapi ku harap semoga saja memang benar sesuai dugaanmu."
Zara pun mengangguk, sementara Vir, ia kembali terdiam, mendadak ia pun kembali merasa canggung karena kehabisan topik pembahasan di hadapan Zara. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi pada seorang Virga, lelaki yang biasanya tak pernah kehabisan bahan obrolan jika sedang berhadapan pada seorang wanita. Namun di hadapan Zara, ia seperti sangat berhati-hati untuk berucap, tidak seperti Virga yang di kenal suka membahas hal-hal mesum dan suka menggombal.
"Vir." Panggil Zara pelan.
Kali ini Zara kembali menatap Vir dengan tatapannya yang begitu lekat. Vir yang awalnya tengah tertunduk saat memainkan kakinya ke lantai, seketika kembali menatap wajahnya.
"Eeemm." Jawabnya.
"Kenapa kamu bersedia melakukannya untukku?"
"Melakukan apa?" Ucap Vir seolah tak mengerti.
"Aku yakin kamu tau ke arah mana pembicaraanku." Jawab Zara.
Vir terdiam sejenak, lalu mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.
"Eemm,, aku terpaksa melakukannya karena Ken yang memaksaku." Jawab Vir berbohong.
"Anak itu sejak dulu memang selalu suka membuatku berada di posisi yang ekstrem, huh! Sungguh menyebalkan! Untung dia satu-satunya sahabatku, jika tidak maka sudah ku patahkan lehernya sejak dulu." Tambah Vir seolah ngedumel sendiri.
"Emm ya, aku percaya."
"Ya, syukurlah jika kamu percaya." Jawab Vir tersenyum tipis.
"Ya, aku percaya jika yang kamu katakan adalah bohong."
Vir lagi-lagi terdiam dan kembali menatap Zara.
"Ken bahkan juga terlihat terkejut saat mengetahui kamu bersedia menjadi modelku di perlombaan itu." Tambah Zara lagi.
...Bersambung......