
Pagi hari yang cerah...
Mata Zara perlahan mulai terbuka, seutas senyuman langsung ia tampilkan sembari mengucek-ngucek matanya. Tidak seperti biasa yang selalu mendapatkan mimpi buruk dan dihantui rasa takut yang selama bertahun-tahun terus mengganggunya setiap akan tidur malam. Kini, ntah kenapa, tidur Zara seakan begitu nyenyak semalam, bahkan paginya ia merasa jika badannya begitu segar dan ringan.
Zara mulai beranjak dari atas ranjang, membuka jendela dan mulai menghirup udara pagi yang segar sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera mandi. Zara merasa tubuhnya 1000 kali lebih bersemangat dari sebelumnya, sepanjang jalan menuju gedung kampus ia lewati dengan senyuman. Tidak ada lagi ketakutan saat melihat seseorang, tidak ada lagi rasa cemas yang berlebihan setiap ingin pergi ke kampus.
"Vir, terima kasih. Dulu aku sangat benci dan takut setiap ingin pergi ke kampus. Tapi sekarang tidak lagi, justru sekarang, kampus adalah satu-satunya tempat yang selalu ingin aku datangi setiap hari. Berkatmu, kampus tidak lagi menyeramkan bagiku, justru jadi begitu berwarna. Terima kasih." Gumam Zara dalam hati sembari terus berjalan santai menuju loby utama gedung kampusnya dengan membawa senyumannya yang seolah tak lekang dari wajahnya.
Zara duduk di ujung anak tangga menunggu kehadiran Vir dengan wajahnya yang hari itu terlihat begitu berbinar. Tak berapa lama, yang di tunggu-tunggu pun tiba, Vir terlihat berjalan lesu menuju loby utama. Zara yang menyadari kedatangan Vir pun seketika melebarkan senyumnya dan bergegas bangkit dari duduknya.
Vir menghentikan sejenak langkahnya saat mendapati Zara yang sudah berdiri menatapnya di ujung tangga. Ia menghela nafas sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dengan santainya.
"Hai, selamat pagi." Sapa Zara dengan wajahnya yang mulai memerah karena malu.
"Pagi." Jawab Vir yang hanya menampilkan senyum tipis.
Zara pun mulai menunduk dengan senyuman, kedua tangannya pun terasa mulai berkeringat saking merasa gugupnya.
"Kenapa berdiri disini?" Tanya Vir dengan wajah datar.
"Ak, aku..." Zara kembali menatap Vir dengan malu, kelihatannya ia masih sangat gugup hingga membuatnya sangat terbata-bata.
"Apa menungguku?" Tanya Vir lagi dengan matanya yang mulai mengecil.
Zara pun mengangguk pelan dan kembali menundukkan kepala dengan masih membawa senyuman manisnya. Vir pun terdiam dengan wajahnya yang masih terlihat datar.
Tidak seperti Vir yang biasanya bersikap sangat ramah dan selalu tersenyum manis, hari ini sikap Vir memang terasa sangat berbeda. Zara yang kembali menatapnya akhirnya mulai menyadari keanehan sikap Vir. Karena merasa tak enak hati dan sangat malu, akhirnya Zara memutuskan untuk masuk ke kelasnya.
"Emm baiklah kalau begitu,,, ak,,, aku masuk kelas duluan." Ucap Zara yang kembali tersenyum singkat dan mulai ingin beranjak.
Baru beberapa langkah meninggalkan Vir yang kala itu masih terpaku, langkahnya Zara seketika terhenti kembali saat Vir memanggilnya.
"Zara." Panggil Vir pelan.
"Ya?" Zara menoleh dan kembali tersenyum penuh harap.
Vir dengan kedua tangan yang kala itu ia masukkan ke dalam saku jaketnya, mulai melangkah santai menghampiri Zara.
"Emm itu,,," Ucap Vir seperti sedikit ragu-ragu."
Zara pun terlihat masih diam menantikan hal yang ingin di ucapkan oleh Vir.
"Kejadian tadi malam,," Ucapnya lagi yang terlihat begitu bingung untuk mengucapkannya.
"Kejadian tadi malam?" Tanya Zara yang kembali tersipu malu dan menunduk.
"Iya, ma,, maksudku begini, saat aku di luar negeri, terkadang hal semacam itu sering di lakukan hanya untuk menyampaikan ucapan selamat malam, tidak ada yang serius." Jelas Vir dengan wajahnya yang terkesan jadi begitu dingin.
Mendengar hal itu membuat Zara perlahan mulai mengangkat kepalanya dan menatap Vir dengan matanya yang mulai sedikit berkaca.
"Jadi ku harap, kamu agar tidak terlalu memasukkannya ke..."
"Ke hati maksudmu?!" Ucap Zara yang langsung memotong ucapan Vir.
"Iya, benar." Vir pun tersenyum.
"Oh tenang saja, aku juga tidak memikirkannya lagi. Ku anggap itu semua hanyalah bercandaan mu saja seperti yang kau lakukan dengan para wanita sebelum aku." Jawab Zara yang tetap bersikap tenang di hadapan Vir.
"Emm bagus jika kamu mengerti hal itu."
"Baiklah jika hanya itu, aku masuk duluan." Zara tersenyum tipis dan langsung beranjak pergi begitu saja.
Zara terus melangkah membawa perasaanya yang kembali dibuat hancur berkeping. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan, kini seolah tertumpah begitu saja membasahi kedua belah pipinya. Ucapan Vir benar-benar menyakitkan baginya, baru pertama merasakan benih cinta, kini seolah benih itu tak dibiarkan untuk tumbuh dan bersemi.
Sementara Vir hanya bisa terdiam, menatap lirih punggung Zara yang semakin jauh darinya.
"Maafkan aku Zara, terpaksa harus bersikap begini agar kamu menjauh dariku. Selain untuk melindungimu dari Siska, juga demi menjaga perasaan Ken. Maaf." Gumamnya lirih dalam hati.
Sepanjang pelajaran, Zara terus diam, sedikit pun ia tak ingin melirik ke arah Vir. Ken yang menyadari hal itu pun akhirnya mulai merasa penasaran dan curiga pada Vir dan Zara yang seolah saling diam.
"Vir," panggil Ken.
"Emm." Jawab Vir tanpa menoleh ke arah Ken.
"Ada apa antara kau dan Zara? Apa terjadi sesuatu?"
"Hahaha kenapa bertanya seolah aku ada hubungan dengannya ha?" Vir yang terus memainkan game di ponselnya pun seketika di buat terkekeh.
"Sejak tadi ku perhatikan kalian saling diam, sikapmu juga tidak seperti biasa, ada apa?" Tanya Ken lagi.
Tapi Vir seolah tak bergeming, ia sama sekali tak menjawab pertanyaan dari Ken dan memilih untuk terus fokus bermain game di ponselnya.
"Sudah jelas-jelas saling suka kenapa masih saja terus menutupinya dariku?" Ken pun menyenggol lengan Vir.
"Aaaagh, jadi kalah." Keluh Vir yang terlihat melesu.
"Gara-gara kau aku jadi tidak bisa membuat rekor baru." Ketus Vir lagi yang langsung melototi Ken.
Ken pun hanya tersenyum sekaligus mendengus lalu mulai menggeleng-gelengkan kepalanya memandangi tingkah laku Vir yang seolah sengaja bersikap seperti itu demi menutupi perasaannya.
"Kau menyukainya juga kan Vir? Ayo jujur saja." Tanya Ken lagi.
"Menyukai siapa? Bukankah kau tau aku memang menyukai hampir seluruh manusia yang berkelamin wanita." Vir kembali terkekeh.
"Berhenti bersikap seolah kau tidak mengerti apa maksud pertanyaanku."
Vir pun memilih mendengus dan sekali lagi membuatnya terkekeh saja.
"Zara sudah mengakuinya langsung jika dia suka padamu Vir." Ucap Ken lagi yang mulai menatap Vir dengan serius.
Membuat Vir seketika mendelik dan terdiam memandangi Ken.
"Apa katamu?" Tanyanya dengan suara pelan.
"Ya, zara menyukaimu Vir!" Tegas Ken lagi.
Setelah beberapa saat tercengang, akhirnya Vir memilih untuk kembali terkekeh di hadapan Ken. Vir tertawa hingga terbahak-bahak sembari mulai memegangi perutnya.
...Bersambung......