
Penilaian yang di lakukan oleh dewan juri pada seluruh lukisan milik peserta pun selesai, kini seluruh peserta di harapkan untuk berdiri dengan di dampingi oleh modelnya masing-masing.
"Baiklah, tiba waktunya untuk mengumumkan sepuluh besar yang akan masuk ke babak selanjutnya." Ucap ketua panita yang kembali naik ke atas podium.
"Saat ini, saya sudah memiliki sepuluh nama dari seluruh peserta yang lukisannya sudah di nilai secara langsung oleh ketiga dewan juri kita." Tambahnya lagi sembari mengangkat sebelah tangannya yang kala itu sedang memegang selembar kertas.
"Sekarang juga akan saya umumkan ke sepuluh nama peserta yang sketsa lukisannya di tahap awal, sukses menarik perhatian dewan juri."
Mendengar hal itu, Zara pun dibuat semakin gugup dengan perasaannya yang sangat tak karuan. Ia begitu deg-degan, karena merasa cemas jika lukisannya tidak akan bisa masuk sepuluh besar, mengingat ada begitu banyak peserta yang mengikuti perlombaan itu dari berbagai universitas. Zara yang mulai merasa minder pun akhirnya kembali menundukkan kepalanya sembari kedua tangannya terus saja *******-***** pakaiannya sendiri.
Vir yang berdiri di sisinya, tak sengaja melihat hal itu, lalu ia mulai melirik ke arah wajah Zara yang seolah terus ia sembunyikan,
"Kamu gugup?" Tanyanya dengan suara pelan.
"Sangat!" Jawab Zara tanpa melirik ke arah Vir.
Mendengar jawaban Zara, membuat Vir seketika mendengus lalu tersenyum tipis, tanpa basa basi, ia pun langsung meraih sebelah tangan Zara dan menggenggamnya begitu saja. Perlakuan itu berhasil membuat Zara terkejut, dengan spontan langsung memandangi wajah Vir dengan matanya yang jadi begitu membulat.
Sentuhan Vir pada tangan Zara, tiba-tiba saja membuat Zara kembali terbayang masa lalunya yang suram, saat itu tangannya juga di genggam begitu erat sehingga membuat Zara tak bisa kabur kemana-mana. Zara pun kembali histeris dan secara refleks ingin menarik kembali tangannya. Tapi saat itu Vir seolah sudah bisa membaca reaksi Zara, ia dengan tenang justru semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Zara seakan tidak membiarkan Zara menghindari kontak fisik dengannya.
"Tidak perlu khawatir, biarkan begini saja." Bisik Vir.
Zara pun tertegun, namun dengan perasaannya yang masih sangat cemas, bahkan dahinya pun masih terlihat berkerut seolah begitu takut.
"Beberapa pakar mengatakan, genggaman tangan yang di lakukan dengan tulus, terbukti mampu membuat seseorang yang merasa kecemasan jadi merasa tenang dan seolah bisa 10 kali merasa lebih kuat dalam menghadapi masalah." Tambah Vir lagi.
Mendengar hal itu, perlahan kerutan di dahi Zara pun mulai menghilang, ia pun kembali memandangi tangan Vir yang kala itu begitu erat menggenggam tangannya. Seolah kembali terhipnotis oleh Vir, kini Zara akhirnya melunak, ia luluh dan membiarkan tangannya berada dalam genggaman Vir.
Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya untuk pertama kalinya, Zara kembali merasakan sebuah genggaman yang terasa begitu hangat, kini sama sekali tidak ada lagi rasa takut dan cemas, yang ada hanyalah rasa tenang.
Vir pun kembali tersenyum dan melirik ke arah wajah Zara yang kelihatannya sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Jika dilihat dari wajahmu, bisa ku tebak jika saat ini kamu mulai merasa tenang. Benar begitu?"
Zara pun seketika kembali menundukkan kepalanya karena mulai merasa malu, ia menjawab pertanyaan Vir hanya dengan sebuah anggukan pelan.
"Terima kasih." Ucapnya kemudian dengan suara begitu pelan.
Vir tidak membalas, ia justru hanya bisa semakin melebarkan senyumannya dan kembali fokus pada pengumunan pemenang.
Ketua panitia pun mulai menyebut satu persatu nama beserta nomor peserta yang memasuki sepuluh besar, hingga sudah sampai di delapan besar, nama Zara nampaknya masih belum juga di sebut.
Kini, dalam diam, Vir lah yang mulai merasa cemas, dahinya mulai mengernyit, matanya mulai memicing menantikan dua nama terakhir yang akan masuk ke babak selanjutnya.
"Jika di dua nama terakhir tidak ada nama Zara, maka aku bersumpah akan mematahkan leher ketiga juri itu!" Ketus Vir dalam hati.
Di sudut lain aula, nampak Ken dan Siska yang juga nampak tegang karena belum juga mendengar nama Zara di sebut.
"Haiss, seingatku wanita aneh itu begitu handal dalam melukis, kenapa hingga 8 besar namanya belum juga ku dengar?" Gumam Siska yang nampak begitu gelisah.
"Apa sekarang kamu mulai mengkhawatirkan Zara?" Tanya Ken yang seketika mendengus.
Siska pun terdiam.
"Ti,, tidak! Hanya heran saja." Jawab Siska berkilah.
"Jika cemas, katakan saja cemas! Karena, aku pun sama, aku juga sedang mencemaskannya." Ungkap Ken dengan tenang.
Siska pun mulai memicingkan matanya pada Ken.
"Heh, apa kau masih menyukainya?" Tanya Siska yang mulai menyelidik.
"Perasaan suka ku padanya sudah bertahan selama bertahun-tahun, kalau pun aku memutuskan untuk melupakannya, maka perasaan itu tidak bisa hilang dalam waktu singkat. Kecuali..."
"Kecuali ada seseorang yang membantuku untuk melupakannya, mungkin saja bisa lebih cepat." Jawab Vir yang akhirnya kembali memandangi ke arah Vir dan Zara.
Siska pun terdiam, namun tiba-tiba saja ada senyuman tipis yang muncul begitu saja dari bibirnya.
"Eem baik lah, aku mengerti." Celetuk Siska sembari terus tersenyum dan ikut kembali memandangi Zara dan Vir.
Ini adalah detik-detik paling menegangkan, dimana hanya tersisa satu nama saja lagi yang belum di panggil, satu nama berarti tersisa satu kesempatan untuk menuju babak selanjutnya. Zara mulai memejamkan matanya, tanpa ia sadar, tangannya kini semakin erat menggenggam tangan Vir. Vir kembali memandanginya, dan semakin tak tega padanya jika ia benar-benar tidak masuk sepuluh besar.
Vir pun menghela nafas panjang untuk mempersiapkan batinnya menantikan ketua panitia menyebutkan nama terakhir.
"Dan yang terakhir yang berhasil masuk ke babak selanjutnya adalah...."
Zara semakin menegang, tangannya pun semakin kuat menggenggam tangan Vir, begitu juga sebaliknya dengan Vir.
"Zara!" Ucap ketua panitia.
Mendengar namanya disebut, membuat Zara seketika membuka matanya, ia masih tercengang seperti orang bingung. Sementara Vir langsung sumringah saat mendengar jika nama terakhir adalah nama Zara, begitu pula dengan Ken dan Siska yang akhirnya ikut senang.
Tanpa sadar mereka pun berpelukan sembari terus melompat-lompat karena jagoan mereka akhirnya masuk sepuluh besar.
"Ak, aku? Apa barusan sungguh namaku?"
"Iya, kamu berhasil masuk sepuluh besar." Jawab Vir.
Zara akhirnya mulai tersenyum lega.
"Lalu apalagi yang kamu tunggu?" Tanya Vir sembari mengernyitkan dahinya.
"Ha?!" Tanya Zara yang nampaknya masih seperti orang linglung.
"Ayo cepat naik ke podium, bergabung lah bersama yang lain."
Zara pun akhirnya tersadar, ia semakin melebarkan senyumannya dan bergegas naik ke atas podium bersama ke sepuluh rekan seperjuangannya yang lain.
Vir melepas kepergian Zara dengan tepukan tangannya yang terlihat paling bersemangat di antara lain.
"Uuuuu go Zara go Zara go." Sorak Vir yang terlihat begitu girang.
Zara pun akhirnya berdiri di urutan kesepuluh di atas podium, dengan sebuah senyuman yang sejak tadi tak lekang dari wajahnya.
"Dan inilah dia sepuluh besar yang akan maju ke babak selanjutnya. Congratulations guys."
Suara tepuk tangan pun kembali menggema di aula yang megah itu.
"Yeay, hidup Zaraaa." Sorak Vir lagi yang merasa sangat puas dengan penilaian dewan juri.
Siska dan Ken pun akhirnya seolah tersadar dan langsung melepaskan tautan tubuh mereka dengan wajah yang terlihat mulai gugup.
"Beraninya kau memelukku." Ketus Siska sembari membenahi rambutnya,
"Haais, kau juga memelukku."
Siska pun hanya memutarkan bola matanya, lalu memilih memandangi ke arah Zara dan Vir.
"Haiish lihat lah si brengsek itu, kelihatannya dia menjadi orang yang paling bahagia dengan terpilihnya Zara di sepuluh besar." Gumam Siska lagi.
"Hei, bukankah kau sudah memutuskan merelakan Vir? Kenapa masih saja tidak terima.
"Eeemm ya ya ya."
...Bersambung......