Virzara

Virzara
Eps 42



Vir pun kembali menatap Zara, sikapnya saat itu seolah seperti tidak terjadi apapun, benar-benar sangat tenang seakan tanpa beban. Tidak terlihat takut maupun tegang.


"Anggap saja, hal ini kulakukan karena aku ingin menebus kesalahan temanku padamu karena ia tidak bisa datang karena sedang dirawat di rumah sakit sekarang." Jawab Vir akhirnya.


"Ouh" Zara pun kembali menunduk.


"Jika kamu melakukan hal ini hanya karena merasa bersalah atau semacamnya, maka semua itu tidak perlu. Aku tidak apa, aku siap jika harus di diskualifikasi dari perlombaan ini." Ucap Zara pelan.


Vir pun mendengus dan melebarkan senyumannya.


"Tidak perlu, lagi pula sudah terlanjur aku duduk disini, rasanya sangat malas jika harus kembali bangkit." Jawab Vir santai.


Beberapa menit pun berlalu, kini ketua panitia kembali naik ke atas podium dan secara resmi memulai perlombaan itu.


Saat itu, begitu banyak pasang mata yang memandangi ke arah Zara dan Vir, terutama Ken dan Siska yang lagi-lagi di buat begitu terperangah saat menyaksikan aksi Vir yang dengan nekat menjadi model bagi Zara.


"Apa aku sedang tidak berhalusinasi saat ini?" Tanya Siska yang seolah masih tak menyangka saat mengetahui Vir bersedia menjadi model untuk di lukis.


"Tolong pukul aku dengan keras, apa yang ku lihat ini sungguh nyata?" Gumam Ken yang juga terus tercengang memandangi Vir.


Tanpa pikir panjang, Siska pun langsung menampar Ken dengan keras.


"Aaagh." Pekik Ken yang langsung memegangi sebelah pipinya yang jadi sedikit memerah.


"Apa kau sudah gila ha? Kenapa tiba-tiba menamparku?" Keluh Ken sembari terus mengusap-usap pipinya yang terasa begitu pedas akibat tamparan keras dari Siska.


"Bukankah kau yang memintaku untuk memukulmu?" Jawab Siska yang terlihat santai seakan tidak merasa bersalah sama sekali.


"Iya! Ta,, pi tidakk..."


"Tidak apa?!" Siska pun seketika melotot sembari mengecakkan pinggang.


Membuat nyali Ken pun akhirnya menciut karena nampaknya Siska lebih garang dari pada dirinya.


"Sudah lah, lupakan saja!" Ketus Ken yang kembali memilih memandangi Vir dan juga Zara.


Tidak hanya Ken dan Siska, bahkan beberapa peserta yang sebelumnya meminta Vir untuk menjadi modelnya pun ikut terperangah dan mulai merasa kesal sekaligus iri pada Zara yang bisa membuat Vir secara suka rela mau menjadi modelnya,


Zara, saat itu sudah mempersiapkan segala peralatan perangnya di atas meja miliknya, ia pun meraih pensil yang sebelumnya sudah ia raut terlebih dulu, lalu mulai menatap wajah Vir dengan begitu lekat.


Berkali-kali Zara harus menghela nafas panjang saat menatap mata Vir yang kala itu memang terlihat sangat tajam menyorot dirinya, bagaikan mata elang. Membuat Zara menjadi sangat gugup, hingga cukup sulit baginya untuk mengatur nafas dan ritme detakan jantungnya yang jadi tak beraturan.


Menghela nafas panjang untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya ia pun perlahan mulai menarik garis tepi wajah Vir pada kanvasnya. Matanya begitu tajam memicing ke arah tepi wajah Vir, seolah tak ingin salah sedikit pun dalam membentuk wajah lelaki yang ia sukai di dalam sebuah lukisannya.


"Apa kamu sudah memulainya?" Tanya Vir nampak bingung.


"Eemm," Jawab Zara mengangguk, namun terlihat begitu fokus pada pensil dan kanvasnya.


"Aku bahkan sudah mulai menarik garis untuk melukis tepi wajahmu." Tambahnya lagi yang mulai terlihat begitu fokus.


"Hais benarkah? Astaga, kenapa tidak bilang dari tadi? Lalu, sekarang aku harus bagaimana ini ha?" Vir pun nampaknya semakin bingung.


Wajar saja, karena itu adalah hal pertama baginya, pertama kali dalam hidupnya. Dan hal itu bersedia ia lakukan hanya demi Zara, benar-benar karena Zara.


"Oh tidak, tidak perlu melakukan apapun, kamu hanya perlu duduk diam saja disitu."


"Oh tidak!! Biar begitu saja, ja,, jangan membukanya!" Tegas Zara yang mendadak kembali menjadi gugup.


"Ah sayang sekali, padahal akan lebih bagus jika tubuh sixpact ku kelihatan." Celetuk Vir yang sontak terlihat seolah tak bersemangat dan langsung menyandarkan tubuhnya dengan lesu ke sandaran kursi miliknya.


"Tolong jangan banyak bergerak, aku sedikit kesulitan membentuk rahangmu." Keluh Zara.


Mendengar hal itu Vir pun seketika mendengus dan terkekeh lirih.


"Astaga, aku ini manusia, bukan patung gips yang biasa kamu lukis di sanggar lukis. Mana bisa aku terus diam seperti patung." Jawab Vir dengan begitu santainya.


Membuat Zara yang memandanginya hanya bisa menghela nafas dan terdiam.


"Hehe, iya-iya, akan ku coba untuk diam." Vir kembali terkekeh dan berdiam diri.


Membuat Zara akhirnya tak mampu lagi untuk menahan senyumannya dan ia pun membiarkan senyuman itu lolos begitu saja menghiasi wajahnya yang sejak tadi terlihat begitu sendu.


Vir, saat itu seolah dibuat begitu tertegun saat memandangi senyuman Zara, sudah lama sekali ia tidak melihat Zara tersenyum di hadapannya. Kini, senyuman itu kembali ia saksikan dan berhasil membuat jiwanya menghangat dan hatinya terasa teduh.


"Apa, aku baru saja membuatnya tersenyum? Apa, senyuma itu untukku?" Gumam Vir dalam hati yang ikut


Beberapa menit berlalu, beberapa dewan juri pun perlahan mulai bangkit dari tempat duduk mereka, lalu mulai berpencar dan memeriksa satu persatu peserta yang kala itu terlihat begitu fokus pada lukisannya masing-masing.


Saat itu, Zara nampaknya sudah hampir selesai membuat sketsa wajah Vir. Semakin lama, Vir nampaknya semakin Terlihat tegang, tidak ada lagi candaan seperti sebelumnya serta tidak ada lagi tawa. Kini, hanya ada perasaan was-was yang membuatnya mulai berkeringat dingin dan gemetaran,


"Seperti apa jadinya wajahku nanti? Apakah, aku akan siap melihat hasilnya?" Tanya Vir dalam hati.


Zara yang menyadari gelagat aneh Vir, mulai memicingkan matanya dan bertanya,


"Vir, kamu tidak apa-apa?" Tanya Zara memastikan yang sedikit merasa cemas.


"Ya, ak,, aku, aku tidak apa-apa, lanjutkan saja." Jawab Vir yang seakan langsung tersentak dari lamunan.


"Kamu yakin?"


Vir pun hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Zara tidak punya pilihan lain selain hanya diam, meski saat itu ia begitu tau jika Vir berbohong dan masih berusaha menutupinya rasa traumanya.


Detik demi detik berlalu seakan sangat lambat bagi Vir, peluhnya juga perlahan mulai bercucuran, entah kenapa bisa begitu, namun yang jelas saat itu Vir mulai merasa takut meski dia belum melihat hasil lukisan Zara.


"Zara." Panggil Vir pelan.


"Ya?" Zara pun melirik singkat ke arah Vir.


"Apa,,, ini masih lama?"


"Astaga Vir, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba wajahmu tampak pucat?" Zara pun mulai cemas.


"Tidak, aku tidak apa-apa, tolong cepat lanjutkan saja." Jawab Vir dengan wajahnya yang mulai memerah dan terlihat begitu tegang.


Zara pun hanya bisa mengangguk dan patuh, lalu memilih untuk kembali fokus pada lukisannya.


"Vir, tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu di masa lalu, tapi aku sungguh melihatmu seperti sedang menahan rasa ketakutan yang begitu mengganggumu saat ini." Gumam Zara lirih dalam hati.


...Bersambung......