
Zara membuka jaket Vir, ia memandanginya sejenak sebelum akhirnya ia bergegas ke belakang untuk mencuci jaket itu.
Di sisi lain, kini Vir telah sampai di bengkel tempat dimana ia bekerja paruh waktu. Disana sudah ada Ken yang sedang duduk merenung dengan tatapannya yang kosong.
"Hei, ada apa? Kenapa kau terus melamun?" Tanya Vir yang langsung duduk di samping Ken sembari menepuk pundaknya.
Saat itu Ken hanya meliriknya secara singkat dan kembali melamun.
"Haha astaga, ada apa denganmu ha? kau nampaknya sangat frustasi ?" Tanya Vir lagi yang nampak begitu terkekeh.
Lagi-lagi Ken menatap Vir dengan tatapan yang tak biasa.
"Dan kau, ada apa denganmu? Kau kelihatannya senang sekali." Ucap Ken.
"Aku? Ah tidak, aku biasa saja." Jawab Vir santai dan terus tersenyum.
"Apa kau mendapat mangsa baru hari ini? Makanya membuatmu terus tersenyum?!" Tanya Ken lagi.
"Mangsa baru ya, emm aku bahkan tidak memikirkannya untuk saat ini. Memangnya kenapa, tumben sekali bertanya kau begitu ketus."
Ken pun menghela nafas kasar.
"Ku dengar hari ini kamu mengantar Zara pulang, apa itu benar?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, sontak membuat Vir jadi gelagapan dan gugup. Bagaimana tidak, Ken adalah sahabatnya dan Vir pun tau jika ternyata Ken memiliki cinta terpendam kepada Zara.
"Oh itu hehehe ka, kau tau dari mana?"
"Beberapa gadis di kampus sedang membicarakan kalian saat aku lewat." Jelas Ken singkat.
"Ja, jadi begini Ken, aku sama sekali tidak berniat untuk merayunya. Aku bahkan tidak berbuat aneh-aneh dengannya, sungguh! Aku hanya mengantarnya pulang karena dia sedang dalam masalah saat itu." Jawab Vir yang jadi merasa sangat tak enak hati pada Ken.
Akhirnya Vir pun kembali menjelaskan secara detail tentang apa yang terjadi pada Zara dan syukurnya Ken mau mengerti.
Namun sekali lagi Ken pun bertanya pada Vir, seolah ingin lebih memastikan jika Vir memang tidak berniat untuk memasukkan Zara ke dalam daftar wanita yang akan di kencaninya.
"Tapi kau sungguh tidak berniat mendekatinya kan?" Tanya Ken.
Pertanyaannya sungguh simple, namun entah kenapa berhasil membuat Vir kembali gugup karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa jika Zara begitu membuatnya penasaran dan ingin mendekatinya. Namun apalah daya, nyatanya sahabatnya Ken telah lebih dulu menyukai Zara, bahkan Ken menyukai Zara sudah sejak lama sekali, hingga membuat Vir tak tega jika harus menikungnya.
"Hahaha bicara apa kau ini? Apa menurutmu lelaki keren seperti aku akan menyukai gadis aneh seperti dia?" Vir balik bertanya sembari terkekeh geli.
Membuat Ken seketika terdiam dan cengengesan, Ken sungguh merasa lega saat mendengar hal itu keluar dari mulut Vir.
"Syukur lah." Ucap Ken tersenyum puas.
"Yang benar saja." Celetuk Vir yang masih terkekeh.
"Iya, iya. Lelaki hidung belang sepertimu memang lebih cocok jika bersama para gadis-gadis sexy yang memiliki body seperti gitar spanyol."
"Itu memang benar." Jawab Vir santai.
Namun entah kenapa, perasaan Vir kala itu seolah bertolak belakang dengan perasaannya yang sesungguhnya.
"Hei Vir, apa mau menolongku?" Tanya Ken secara tiba-tiba.
"Astaga kau ini, apa segitu rendah nilai persahabatan bagimu ha?" Mata Ken pun mulai melotot menatap Vir.
Namun lagi-lagi hal itu justru membuat Vir terus terkekeh geli.
"Lagi pula, bukankah tempo hari kau pernah mengatakan jika kau sangat ingin melihatku mengencani wanita?"
"Emm langsung to the point saja, apa yang kau harapkan dariku ha?" Tanya Vir dengan tenang sembari tersenyum tipis.
"Aku ingin mengajak Zara nonton bioskop, tolong aturkan bagaimana caranya agar dia mau." Ucap Ken yang terlihat begitu bersemangat saat mengutarakan keinginannya di hadapan Vir.
Namun lain halnya dengan Vir yang mendengarnya, seketika darahnya seolah berdesir saat mendengar Ken yang ingin pergi berkencan dengan Zara. Di satu sisi ia seperti merasa tidak terima, namun di sisi lain ia sangat ingin membantu Ken sahabatnya.
"Hei Vir, kenapa diam saja? Ayo lakukan sesuatu untukku." Ucap Ken lagi sembari menyenggol lengan Vir yang terlihat seolah melamun.
"Tapi, bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku jika Zara sangat takut dengan lelaki? Bagaimana mungkin aku bisa membantumu?"
"Sebelumnya memang sepertinya mustahil untuk mengajak Zara pergi apalagi nonton bioskop, tapi setelah mengetahui jika Zara mulai ingin berboncengan dengan lelaki, apalagi lelaki itu adalah kau, kurasa dia akan mau." Jawab Ken yang terus tersenyum riang.
Vir pun terdiam sejenak seolah tengah berfikir keras.
"Kau bisa kan menolongku? Ayo lah Vir." Rengek Ken.
"Baiklah." Jawab Vir akhirnya dengan wajah lesunya.
"Benarkah? Kau yakin? Kau yakin bisa membujuknya agar mau berkencan denganku?" Ken terlihat semakin sumringah.
"Akan ku coba, tapi jika dia tidak mau, tentu aku takkan mungkin memaksanya."
"Baiklah, kau tidak perlu memaksanya. Tapi ku yakin kau dengan segala caramu yang mampu menaklukkan wanita, ku yakin kau pasti bisa membujuknya."
"Emm." Jawab Vir datar dan memilih untuk beralih pada pekerjaannya.
Ke esokan harinya...
Pagi itu, langit seolah terlihat begitu cerah, sinar mentari pagi seolah menyapa Zara lewat sengatan hangatnya pada permukaan kulit Zara yang putih.
Saat itu, Zara sedang berdiri di depan cermin sembari menyisir rambutnya dengan pelan. Entah kenapa, wajah Vir yang begitu kharismatik mulai sering terlintas begitu saja di benaknya. Mulai dari cara Vir tersenyum padanya, cara bicara Vir saat menggodanya, hingga saat sikap berani Vir pada dosen mereka demi untuk melindungi Zara, semuanya terus menerus terbayang olehnya hingga tanpa sadar, sebuah senyuman tipis muncul begitu saja dari bibir mungilnya.
Zara yang tadinya ingin mengikat rambut panjangnya seperti biasanya, kini tiba-tiba saja mengurungkan niatnya saat ia kembali terbayang ketika Vir menarik ikat rambutnya begitu saja hingga membuat rambutnya terurai, dan kala itu Vir pun memujinya cantik.
Zara perlahan menggerai kembali rambut hitamnya yang begitu lurus dan panjang, ia kembali menyisirnya dengan rapi dan kini ia pun bersiap untuk berangkat ke kampus. Zara keluar dari kamarnya, dengan membawa jaket Vir yang telah ia cuci dan di masukkan ke dalam paperbag.
"Bu, aku berangkat." Ucapnya pelan saat pamit pada ibunya yang tengah terduduk di meja makan.
"Ayo makan lah dulu, ibu sudah menyiapkan sarapan."
Zara pun mengangguk patuh dan akhirnya ia pun duduk di hadapan ibunya untuk mulai menyantap nasi goreng buatan ibunya.
"Wah, apa kau sungguh akan pergi ke kampus dengan menggerai rambut seperti ini?" Tanya Nany yang merasa heran.
...Bersambung......