
Zara berhasil masuk ke sepuluh besar saat melukis sketsa wajah Vir, masih menjadi sketsa, namun aura dari gambar itu memang entah kenapa terasa begitu kuat, bahkan para juri pun mengakui hal itu.
Babak selanjutnya, Zara dan sembilan orang lainnya mulai di tugaskan untuk melanjutkan sketsa itu menjadi sebuah lukisan berwarna, dan hanya diberi waktu satu jam saja.
Di babak kali ini Vir tidak lagi berada di hadapan Zara sebagai model seperti sebelumnya, karena babak kali ini hanya melanjutkan sketsa yang sudah ada. Vir akhirnya bergabung dengan Ken dan Siska yang sejak tadi duduk di kursi penonton.
"Hei bro, selamat ya." Celetuk Ken ketika Vir menghampirinya.
Vir seketika dibuat mendengus sembari tersenyum.
"Kenapa kau malah memberi selamat padaku? Kurasa orang yang saat ini paling pantas mendapatkan ucapan selamat adalah Zara, bukan aku." Jawab Vir dengan tenang sembari langsung duduk tepat di sisi kanan Ken.
"Maksud Ken adalah, selamat atas keberanianmu melawan rasa traumamu Vir." Sela Siska menimpali.
"Bukankah begitu Ken?" Kali ini Siska pun melirik ke arah Ken.
"Iya, tentu saja." Ken pun semakin melebarkan senyumannya.
Vir yang memandangi mereka secara bergantian sontak kembali mendengus sembari terkekeh geli.
"Kenapa tiba-tiba saja aku merasa jika kalian ini sangat cocok bila menjadi pasangan hahaha." Celetuk Vir.
Namun ucapan itu nyatanya berhasil membuat Ken dan juga Siska jadi salah tingkah dan mendadak jadi gugup satu sama lain hingga membuat Vir kembali terkekeh sembari mulai menggelengkan kepalanya.
"Aaaa sudah lah, kenapa harus membahas yang tidak penting, lebih baik kita fokus pada Zara saja. Lihat lah, dia sudah mulai kembali melukis." Ucap Siska yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya benar juga. Tentu saja Zara jauh lebih penting dari pada hubungan asmara kalian." Ungkap Vir lagi yang akhirnya kembali memusatkan pandangannya ke arah Zara.
Saat itu Zara terlihat sedang begitu fokus pada kanvas dan sebuah kuas lukis di tangannya, dan entah kenapa, melihat Zara yang begitu fokus, membuat Vir jadi semakin kagum padanya, tiba-tiba sebuah senyuman muncul begitu saja dari wajah sinis itu.
"Apa kau secara tidak langsung sedang mengakui jika kau memang mulai menyukai Zara?" Bisik Ken saat menyadari ada sebuah tatapan yang berbeda dari Vir saat memandangi Zara.
Vir pun sontak tersentak dari lamunan kekagumannya pada Zara,
"Tidak, bukankah kau pun tau bagaimana busuknya aku? Apa pernah kata cinta ada di dalam hidupku?? Ha? Hahaha."
Vir nampaknya masih begitu sulit mengakui perasaannya pada Ken, entah kenapa rasanya begitu berat untuk mengaku. Namun Vir punya pandangannya sendiri, saat itu ia merasa jika Ken masih menaruh harapan pada Zara, meskipun sebelumnya ia sempat mengatakan jika ia sudah merelakan Zara.
Tak terasa, waktu satu jam berlalu begitu saja, segala aktivitas melukis pun di hentikan oleh ketua panitia. Kini Zara harus kembali merasakan ketegangan karena memasuki babak penyisihan kedua, dimana hanya ada lima orang saja yang akan masuk ke babak selanjutnya.
Tak hanya Zara, Vir pun sama tegangnya dengannya, entah kenapa Vir merasa ia pun tidak akan sanggup jika melihat Zara harus menerima kekelahan.
"Tuhan, sudah lama aku tidak meminta apapun padamu, tapi kali ini aku memiliki satu permintaan, tolong buat langkahnya mudah dalam memenangkan perlombaan ini. Hanya itu." Gumam Vir dalam hati.
Ketua panitia sekali lagi mulai mengumumkan nama-nama yang berhasil lolos ke babak penyisihan berikutnya. Dan syukur lah, nama Zara ternyata masuk ke dalam lima nama yang bisa maju ke babak final. Zara yang sebelumnya sangat tegang, akhirnya sekali lagi bisa menghela nafas kelegaan ketika mendengar namanya di panggil. Ia pun akhirnya bisa tersenyum sebelum akhirnya mulai melangkah untuk kembali naik ke podium.
Vir, Ken, dan juga Siska, kembali bersorak girang kala mendengar nama Zara kembali di sebut saat pengumuman lima besar.
"Yeaaahh." Teriak Vir girang.
Zara tentu mendengar hal itu, ia pun mulai menatap Vir sembari tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu penuh makna. Vir, adalah lelaki pertama yang mendapatkan senyuman ketulusan dari Zara.
"Vir, terima kasih." Gumam Zara dalam hati.
Vir yang mulai menyadari jika saat itu Zara terus tersenyum menatapnya, perlahan mulai menghentikan aksinya, lalu ia pun membalas senyuman Zara dengan senyuman yang tak kalah bermakna. Tatapan Vir saat itu, benar-benar lembut menatap Zara, gadis yang tanpa ia sadari, sudah mencuri hatinya.
"Selamat." Ucap Vir tanpa mengeluarkan suaranya, hanya gerakan mulut.
Meski jarak di antara keduanya cukup jauh, namun ternyata Zara pun dapat memahami apa yang dikatakan Vir hanya dengan melihat dari gerakan mulutnya saja.
Zara pun mengangguk dan semakin melebarkan senyumannya,
"Terima kasih." Jawabnya yang juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Vir, berbicara tanpa mengeluarkan suara.
Vir pun ikut melebarkan senyumannya, hingga tanpa ia sadari, Ken yang berada di sebelahnya, mulai menyadari gelagat anehnya itu.
"Heh, ada apa denganmu? Kenapa senyumanmu terlihat sangat menggelikan seperti itu?" Tanya Ken sembari menyenggol pundak Vir.
Hal itu membuat Vir sedikit terkejut, dan gelagapan.
"Hah, eem tidak ada, siapa yang sedang tersenyum." Jawab Vir yang mencoba berdalih.
Ken pun langsung melirik ke arah Zara, ternyata benar dugaannya, saat itu Zara masih terlihat terus memandanginya dengan senyuman yang tak biasa.
"Haiss, sudah ku duga." Celetuk Ken sembari tersenyum.
"Apa?!" Tanya Vir.
"Ternyata sejak tadi ada yang saling melempar senyuman satu sama lain ya." Bisik Ken yang mulai menggoda Vir.
Vir kembali melirik sesaat ke arah Zara yang saat itu terlihat tersipu malu, ia yang seolah tak bisa mengelak lagi dari Ken, akhinya hanya bisa mengusap-usap tengkuknya sembari cengengesan yang tidak jelas.
"Astaga Vir, lihat lah dirimu! Kau benar-benar seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Benar-benar menggelikan." Ujar Ken yang terus memandangi Vir dengan tatapan yang seolah tak percaya dengan sikap Vir yang tidak seperti biasanya.
"Berhenti mengejekku! Yang kau katakan itu sangat berlebihan."
"Hah?! Berlebihan katamu?"
"Ya. Karena aku merasa sikapku biasa saja, masih sama seperti kemarin-kemarin, bahkan saat aku belum bertemu dengan Zara.
"Hahaha itu tidak benar! Vir yang sebelum mengenal Zara, tidak begini!! Yang ku tahu, dulu kau itu tidak pernah tersenyum seperti ini pada wanita mana pun, kecuali senyuman mesum." Ungkap Ken sembari terkekeh kecil.
Vir pun hanya ikut tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia sendiri pun tak tau harus mengelak bagaimana lagi.
...Bersambung......