
Dahi Vir seketika mengkerut saat baru saja memasuki kelas, tidak ada Zara mau pun Ken di dalamnya.
"Apa Zara masih belum baikan juga?" Celetuknya dalam hati sembari terus memandangi kursi Zara yang masih terlihat kosong.
Saat itu, Siska dan dua temannya pun juga sama sekali tidak terlihat di kelas. Membuat kelas yang biasanya terkesan ramai, seolah jadi begitu sepi bagi Vir. Vir yang sudah kehilangan semangat dalam belajar, akhirnya melewati jam pelajarannya dengan terus tertidur hingga kelas selesai.
Kelas selesai, Vir memutuskan untuk kembali ke IGD kampus untuk mencari Ken dan Zara. Tapi sayang, keduanya tak lagi terlihat di IGD yang lagi-lagi membuat dahi Vir mengkerut.
"Hei, kemana orang yang tadi disini?"
"Seperti dia sudah dibawa pulang oleh Ken." Jawab seseorang yang berada di sebelah bilik Zara.
"Oh begitu, ok." Vir pun tersenyum singkat dan langsung beranjak pergi.
Vir mengebutkan motor besarnya keluar dari area kampus untuk menuju ke bengkel. Memilih mengabaikan sejenak Zara dalam pikirannya dan memilih mengalihkan pikirannya dengan cara menyibukkan diri di bengkel.
Lagi-lagi, Ken sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di bengkel, hingga membuat Vir berfikir jika ia mengantar Zara pulang ke rumah dan merawatnya.
"Sepertinya mereka sudah semakin dekat." Guman Vir lirih.
"Tapi baguslah, setidaknya aku sudah berhasil membantu Ken." Tambahnya lagi sembari akhirnya mulai tersenyum tipis dan menghela nafas kasar.
Menghabiskan banyak waktu di bengkel, kini tanpa terasa waktu sudah beranjak malam.
"Hei Vir, sudah malam, bengkel juga sudah tutup, kenapa kau masih belum pulang juga ha?" Tanya paman Roy.
"Tidak apa paman, hanya saja aku merasa tidak tau harus berbuat apa jika pulang sekarang." Jawab Vir yang tak lupa menampilkan senyuman tipisnya.
"Lalu Ken kemana lagi hari ini? Kenapa dia belum juga pulang?"
"Haaish, bukankah dia anakmu? Kenapa malaj bertanya padaku." Ken pun tertawa lirih dan mulai bangkit dari duduknya.
"Emm baiklah, aku jalan dulu paman." Lanjut Vir lagi yang akhirnya beranjak pergi.
Pikiran Vir kala itu terasa begitu kalut, bagaimana tidak, sudah seminggu lamanya Vir sama sekali tidak ada melakukan hubungan intim dengan wanita. Jangankan melakukan hubungan ranjang, mengajak wanita kencan saja pun tidak ada dia lakukan dalam seminggu terakhir. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia begitu malas untuk berkencan, padahal jika ia mau, sudah ada banyak wanita yang seolah tengah menunggu antrian untuk bisa berkencan dengannya.
Tapi kekalutan pikirannya kala itu, tidak serta merta hanya karena gairahnya yang tak tersalurkan seperti biasa, melainkan ia terus memikirkan Ken dan Zara. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi minum di bar, dan kebetulan sekali, begitu masuk, mata tajamnya langsung mendapati seseorang yang sejak di kampus tadi ia cari, yang tak lain ialah Siska.
Saat itu, Siska terlihat tengah duduk sendiri sembari terus menerus menenggak minumannya. Jika di lihat dari gesturnya, ia kelihatannya begitu frustasi. Vir pun mendengus sembari tersenyum sinis, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Siska.
"Berikan aku segelas Whisky lagi." Ucap Siska lesu sembari memberikan gelas yang sudah kosong kepada seorang bartender.
"Hai." Sapa Vir sembari mulai duduk di samping Siska.
Siska menoleh lesu ke arahnya, namun matanya seketika di buat membulat saat menyadari lelaki yang duduk di sampingnya adalah Vir.
"Vir." Ucapnya sembari menegakkan duduknya.
"Aku tidak menyangka, ternyata kamu masih punya rasa iba terhadapnya." Ucap Vir sembari tersenyum tipis.
Namun mendengar hal itu, seketika membuat Siska yang sudah setengah mabuk mulai mendengus.
"Sekali ini mungkin aku bisa menahan amarahku, tapi tidak lain kali. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan kulakukan jika wanita itu masih saja ngotot ingin menyukaimu!" Ketus Siska sembari kembali meneguk minuman yang baru di berikan oleh bartender.
Mendengarnya, mata Vir pun mulai memicing tajam, lalu perlahan mulai mendekat ke arah Siska, lebih tepatnya lagi ia mendekat ke telinga Siska dan kemudian berbisik.
"Jika itu terjadi, maka aku akan membunuhmu." Bisik Vir dengan wajah datar.
Bukannya takut, Siska justru seketika terkekeh mendengarnya, ia pun kembali menatap Vir dan kembali mendengus.
"Aku, benar-benar, akan, membunuhmu!" Ucap Vir lagi yang kali ini menatap Siska dengan wajah yang begitu serius.
Hal itu sontak membuat Siska mulai merinding, ia pun jadi terdiam sembari memandangi Vir dengan penuh rasa takut.
"Kau akan tau ini hanya gertakan atau tidak jika kau bersedia untuk membuktikannya sendiri, maka lakukan saja jika kau memang sudah bosan hidup." Bisik Vir lagi yang kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.
Meninggalkan Siska yang masih memandanginya dengan raut wajah sendu bercampur dengan rasa kesal dan sakit hati yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Siska yang kesal pun hanya bisa menggeram sembari menghentakkan kuat tangannya ke meja bar. Lalu ia kembali menangis dan menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangannya yang ia lipat di atas meja.
Kini jarum jam telah menunjuk ke arah pukul 22.10 malam, Vir kembali melajukan motornya meninggalkan bar, melihat Siska seketika menghilangkan hasrat ingin minumnya disana. Vir terus melamun di sepanjang jalan, hingga entah bagaimana bisa terjadi, tanpa sadar ia telah berada di jalan menuju rumah Zara.
Vir pun seketika menghentikan laju motornya saat ia tepat berada di depan rumah Zara, ia yang kelihatan bingung pun seketika membuka helmnya dan mulai bertanya-tanya.
"Kenapa aku bisa kemari?" Celetuknya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Kala itu, Zara yang ternyata belum tidur, tengah melamun sembari terus memandangi langit-langit kamarnya. Namun suara motor Vir yang begitu gahar, membuat lamunannya seketika buyar. Ia sontak bergegas beranjak dari ranjangnya menuju jendela kamarnya untuk mellihat apakah benar yang di dengarnya adalah suara motor Vir.
Dan benar, senyum di wajahnya seketika merekah begitu saja saat mendapati Vir yang sudah terduduk di atas motornya.
"Vir." Ucapnya yang langsung sumringah.
Tanpa berfikir panjang, Zara pun bergegas turun ke bawah, ia keluar rumah untuk menemui Vir. Saat itu Vir hampir saja ingin beranjak pergi karena berfikir tidak ada guna kedatangannya kala itu. Namun seketika suara Zara menghentikannya.
"Vir." Panggil Zara dengan lembut.
Vir seketika menoleh ke arahnya,
"Oh hai, bagaimana keadaanmu?" Vir pun langsung mencagakkan kembali motornya, dan mulai melangkah menghampiri Zara.
"Sudah membaik." Jawab Zara dengan suara yang pelan seperti biasa.
"Ah syukur lah, aku cukup lega mendengarnya." Vir pun mulai tersenyum kikuk.
Entah kenapa saat itu ia merasa begitu tidak percaya diri dan grogi saat berhadapan dengan Zara.
"Oh ya itu, emm bagaimana bisa kamu tau aku kesini?" Tanya Vir yang terlihat sedikit kikuk.
"Ya, kebetulan aku belum tidur dan mendengar suara motormu." Jawab Zara pelan yang mulai menatap Vir dengan ragu-ragu.
"Oh begitu rupanya." Vir pun akhirnya hanya bisa tersenyum tipis.
"Apa yang membawamu kesini?" Tanya Zara lagi.
"Sebenarnya, aku sendiri juga tidak tau kenapa tiba-tiba aku kesini. Seingatku, aku terus melamun saat di jalan, dan kurasa motor ini yang sengaja menggerakkannya kesini hehehe." Jawab Vir yang kemudian mulai cengengesan.
"Jawabanmu terdengar sangat aneh, tapi,,, entah kenapa aku percaya dengan ucapanmu." Zara pun tersenyum dan kembali menunduk.
"Ah tidak, jangan percaya padaku." Vir pun terkekeh lirih.
"Kenapa?" Zara mulai menatap Vir dengan dahinya yang mengkerut.
"Bajingan sepertiku tidak pantas untuk di percaya, yang ada kamu malah akan kecewa sendiri jika percaya." Vir terlihat begitu santai saat mengucapkannya.
"Tidak, itu tidak benar." Zara pun mulai menatap lekat ke arah Vir.
"Haha tidak benar apanya, kamu sendiri tau aku adalah bajingan yang memerlukan banyak wanita cantik di hidupku. Apa kamu yakin akan mempercayai tipe lelaki seperti aku ha? Hahaha." Vir kembali terkekeh, namun kala itu, entah kenapa Zara melihat ada kesedihan di balik wajah ceria yang ia tampilkan.
...Bersambung......