
Ke esokan harinya...
Kontes melukis akhirnya di umumkan secara resmi dan terbuka di mading umum yang terletak di loby utama gedung induk kampus. Banyak mahasiswa yang dibuat tergiur dengan hadiah yang dijanjikan.
"Jika ingin mendaftar, kalian bisa langsung meminta formulir pendaftaran di kantor Bu Ony." Jelas kakak kelas yang bertugas sebagai penempel pengumuman itu.
Para mahasiswa pun berbondong-bondong menuju kantor bu Ony sebagai dosen pembimbing. Tak ketinggalan pula Zara, ia pun kedapatan datang ke kantor bu Ony untuk mengambil formulir.
"Zara, ibu senang kau ikut kontes ini." Celetuk Bu Ony.
Zara hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Lalu, wajah siapa yang kira-kira akan kau lukis?" Tanya bu Ony yang terlihat sangat penasaran.
Zara terdiam sejenak seperti sedang berfikir.
"Ingat Zara, wajah orang yang kau lukis kelak, harus memiliki karakter serta aura yang kuat. Hal itu penting dan menjadi syarat mutlak agar membuat hasil lukisanmu nampak hidup, memiliki nyawa, serta memiliki isi." Jelas bu Ony lagi.
"Baik bu, saya mengerti."
"Berdasarkan apa yang sudah ibu jelaskan barusan, apa kamu sudah memiliki gambaran, siapa yang pantas untuk menjadi objek lukisanmu?"
Kali ini, entah kenapa tiba-tiba saja yang terlintas di benak Zara adalah Virga. Vir nampaknya begitu cocok dengan apa yang barusan di sebutkan oleh bu Ony, mulai dari karakternya yang kuat di kampus, bahkan satu kampus pun begitu mengenalnya. Hingga wajahnya, yang juga memiliki aura yang kuat, hingga membuat setiap gadis seolah tak kuasa menolaknya meski sudah tau keburukannya.
"Zara." Panggil bu Ony lagi.
Zara yang melamun pun seketika tersentak,
"Oh iya bu."
"Haiyo, kenapa kau malah diam saja? Ya sudah lah, kau boleh pergi sekarang dan segera bawa kembali formulir itu jika sudah di isi dan di tandatangani. Ok?"
"Baik bu." Zara pun mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan bu Ony.
Zara memilih untuk pergi ke kantin, melirik ke arah meja yang kosong dan segera duduk disana, ia pun memesan secangkir teh hangat, karena udara pagi itu memang terasa begitu sejuk. Dengan semangat, Zara kembali kembali mengeluarkan formulir yang ia selipkan di antara lembaran bukunya, kembali memandanginya sejenak lalu mulai mengisi data yang dibutuhkan.
Di satu sisi, Vir dan Ken yang baru memasuki loby kampus turut menghentikan langkahnya saat melihat ada kerumunan di mading kampus.
"Hei, ada apa?" Tanya Ken penasaran pada salah satu mahasiswa yang tidak di kenalnya.
"Ada kontes melukis untuk seluruh universitas di kota ini, hadiahnya cukup menggiurkan." Jelas mahasiswa itu.
"Oh ya." Sambung Vir yang sontak langsung menyusup ke dalam kerumunan untuk melihat pengumuman itu secara langsung.
"Uang tunai 25 juta serta dapat kesempatan karyanya di terbitkan di berbagai media cetak" Gumam Vir dalam hati.
"Haish, andai tuhan memberi bakat melukis, sudah pasti aku akan sangat berminat ikut kontes ini." Celetuknya lagi sembari memasang wajah lesu di hadapan Ken.
Ken yang mendengarnya pun seketika mendengus dan terkekeh.
"Berhenti membual, jika kau memiliki bakat lukis, sudah pasti kau akan terus melukis wanita telanjang." Ketus Ken.
Vir pun ikut mendengus dan terkekeh. Lalu mereka melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga untuk menuju kelas.
"Lalu bagaimana dengan pujaan hatimu ha? Apa dia ikut kontes ini?" Tanya Vir yang mencoba mencari tau tentang Zara.
Namun saat itu Vir akhirnya hanya diam dan juga ikut tersenyum, membahas tentang Zara, lagi-lagi membuatnya kembali merasakan tak enak hati.
Setengah jam berlalu, Zara bergegas kembali menuju ke ruangan bu Ony untuk mengantarkan kembali formulir miliknya. Tapi langkahnya seketika terhenti saat ia baru saja sampai di pertengahan jalan, langkahnya terhenti bukan tanpa alasan, hal itu terjadi karena ia tak sengaja melihat Vir dan Ken yang sedang berjalan santai menuju kelas.
Namun tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang terlihat menghampiri Vir, melihat hal itu membuat Zara yang melihatnya mulai mengerutkan dahinya. Ia pun berjalan pelan menuju sebuah pilar yang berukuran cukup lebar yang terletak di sepanjang balkon kampus, lalu mulai berdiri di balik pilar itu demi bisa mendengar percakapan Vir dan mahasiswa yang berada di kelas lukis yang sama dengannya.
"Vir," panggil mahasiswa itu.
"Kau memanggilku?" Tanya Vir memastikan.
"Emm." Mahasiswa itu pun mengangguk.
"Ada apa?" Tanya Vir santai.
"Apa satu tingkat di atasmu, apa kau mengenalku?" Tanya mahasiswa itu.
Hal itu sontak membuat Vir jadi memandanginya dari ujung kaki hingga ujung rambut, lalu ia pun seketika mendengus dan terkekeh.
"Hah, kenapa aku harus mengenalmu? Apa ada untungnya bagi hidupku?" Tanya Vir yang terus terkekeh.
Ken yang mendengarnya hanya bisa menahan senyumannya, namun kemudian ia pun langsung menyenggol lengan Vir seolah menyuruhnya untuk berhenti tertawa. Vir pun perlahan mulai menahan tawanya, dan kembali menatap mahasiswa itu dengan ramah.
"Emm baiklah kakak tingkat, ada apa memanggilku?" Tanya Vir lagi.
"Kalau begitu, aku akan mengenalkan diriku terlebih dulu, aku Ega, kebetulan aku juga mengikuti sanggar lukis, dan saat ini aku sedang mengikuti kontes melukis yang di umumkan di mading."
"Haha lalu? Kenapa kau malah melapor padaku?" Vir pun kembali terkekeh geli.
"Vir, jangan terus tertawa, dengarkan saja dulu." Bisik Ken.
"Eemm baik-baik." Jawab Vir yang lagi-lagi berusaha menahan tawanya.
"Lalu bagaimana?" Tanya Vir lagi.
"Emm begini Vir, ku perhatikan kamu cukup populer di kampus ini, banyak wanita yang menggilaimu. Setelah ku selidiki sendiri, kurasa kau memang memiliki aura yang berbeda, auramu begitu kuat, dan raut wajahmu cukup memiliki karakter kuat."
"Lalu??" Tanya Vir yang ingin kembali terkekeh.
"Aku ingin meminjam wajahmu Vir, untuk dijadikan sebagai objek lukisku, ku yakin aku pasti bisa menang bila berhasil melukismu." Ungkap mahasiswa itu dengan raut wajah penuh harap.
Mendengar hal itu, kedua mata Zara seketika membulat sempurna, ia merasa jika saat itu ia sudah kehilangan kesempatan dan sama sekali tidak memiliki harapan lagi untuk melukis Vir.
Namun berbeda halnya dengan reaksi Vir kala itu, Vir yang sebelumnya selelu terkekeh, sontak langsung menatap tajam ke arah wajah mahasiswa itu saat ia baru saja mengungkapkan keinginannya.
"Apa katamu?!" Tanya Vir datar dengan suaranya yang pelan namun dengan tatapannya yang begitu tajam.
"Biarkan aku melukis wajahmu Vir,"
"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Vir lagi yang semakin memicingkan matanya.
"Tidak Vir, ku yakin kau akan puas dengan hasil lukisanku. Jika aku menang, maka lukisanku akan di muat di berbagai media dan lukisanku pun akan di pajang di berbagai galery, itu juga akan menguntungkan bagimu karena wajahmu akan terpampang dimana-mana dan kau akan semakin terkenal." Jelas mahasiswa itu dengan begitu percaya diri.
...Bersambung......