Virzara

Virzara
Eps 58



Tanpa menggubris celotehan Vir saat itu, Zara pun langsung saja berusaha membantu Vir untuk berdiri. Saat itu tubuh Vir terasa panas, entah karena ia sakit akibat habis dipukuli oleh Ken, entah pula karena efek alkohol yang ia minum sebelumnya.


"Tubuhmu panas Vir," Ucap Zara yang terlihat semakin panik.


"Kamu kenapa sebenarnya?" Tanya Zara lagi yang masih merasa sangat penasaran.


"Ak,, aku tidak apa-apa, karena mabuk, jadinya aku terjatuh dari motorku."


"Astaga!" Zara pun mulai memapah tubuh tegap Vir, menuju rumahnya.


"Ka,, kamu mau bawa aku kemana Zara? Aku bisa pulang sendiri!" Ucap Vir dengan suara sangat pelan.


Bisa terlihat dengan jelas jika saat itu tubuh Vir nampak semakin melemah. Hal itu membuat Zara semakin tidak tega dan tentu tidak membiarkannya pulang seorang diri apalagi situasinya sudah malam.


"Untuk kali ini, tolong ikuti saja!" Tegas Zara yang terus melangkah dan memapah tubuh Vir.


Dengan pelan, Zara membuka pintu rumahnya, kala itu ia benar-benar telah mengumpulkan rasa beraninya untuk membawa Vir, yakni seorang lelaki yang tidak memiliki ikatan apapun dengannya, masuk ke dalam rumah.


"Tolong jangan bersuara, ok! Aku tidak mau ibuku sampai bangun." Bisik Zara pelan.


Mendengar hal itu, Vir pun mendengus pelan dan anehnya ia pun masih sanggup tersenyum.


Dengan sekuat tenaga, Zara membantu Vir untuk menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu. Hal itu terpaksa Zara lakukan, karena tidak ada kamar kosong lainnya di rumahnya. Sebenarnya rumahnya memiliki tiga kamar, namun kamar yang satunya lagi sudah lama tidak terpakai hingga kini dijadikan gudang oleh Nany.


Dan juga, Zara yang mengetahui jika Nany tidak menyukai Vir karena penampilannya yang terkesan mirip brandalan, dan hal itu tentu membuatnya tidak membiarkan Vir untuk berbaring di sofa ruang tamu. Maka itulah sebabnya, cara satu-satunya adalah dengan membawa Vir masuk dan menyembunyikannya di kamarnya sendiri.


"Ayo, masuk." Ucap Zara pelan, sembari mulai membuka pintu kamarnya.


Dengan sangat hati-hati, Zara pun membantu Vir untuk duduk di atas ranjangnya yang hanya berukuran 160x200 cm itu. Vir langsung tersandar lemas di kepala tempat tidur sembari memegangi perutnya yang semakin bertambah sakit apalagi ketika batuk.


Zara kembali berdiri tegak di hadapannya, memandanginya sejenak dengan tatapan sendu, dengan rasa penasaran yang juga semakin memuncak di kepalanya. Zara pun akhirnya menghela nafas pelan, lalu mulai ingin beranjak pergi.


"Ka,, kamu mau kemana?" Tanya Vir lirih.


"Tunggu sebentar, aku mau kebawah mengambil sesuatu." Jawab Zara pelan, yang kemudian langsung melangkah pergi.


Saat itu Vir pun hanya terdiam, lalu mulai memejamkan kedua matanya karena menahan rasa sakit dari perutnya. Bagaimana perutnya tidak bertambah sakit, setelah mendapat serangan pukulan beberapa kali dari Ken, nyatanya Vir masih saja sanggup menuba lambungnya yang belum menerima makanan, dengan lima gelas cocktail berukuran besar.


"Aaaggh." Ringis Vir pelan.


Tak lama, Zara pun kembali dengan sudah membawa sebuah wadah dengan berisikan air hangat, handuk kecil, serta obat-obatan.


Dengan sigap, Zara mulai membersihkan luka di bagian ujung bibir Vir, lalu meneteskan obat demi membuat lukanya cepat kering. Tak lupa pula Zara mengompres bagian yang memar, membuat Vir kembali meringis hingga membuat Zara jadi tak tega.


Saat itu, kedua mata Vir mulai menatap lekat wajah Zara yang kala itu tengah fokus pada mengobati lukanya. Jiwa Vir lagi-lagi terasa menghangat saat kedua tangan Zara yang terasa begitu halus, mulai menyentuh lembut pipinya.


Namun, ternyata hal itu begitu cepat disadari oleh Zara sehingga membuatnya mendadak merasa sangat gugup.


"Ke,, kenapa kamu memandangiku seperti itu?" Tanya Zara yang jelas nampak gugup serta perlahan mulai menjauhkan kedua tangannya dari wajah Vir.


Namun Vir seolah tidak menginginkan Zara untuk menghindar darinya, ia pun menarik sebelah tangan Zara, seolah menyuruhnya untuk tetap menyentuh pipinya.


"Ini, masih sakit." Ucap Vir pelan.


Mau tidak mau, Zara kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mengompres pipi Vir yang memar.


"Zara." Panggil Vir pelan.


"Boleh aku bertanya?"


Zara pun menatap Vir sesaat, dan setelahnya langsung kembali fokus pada pipi Ken sembari mengangguk pelan.


"Ap,, apa kamu yakin tidak menyukai Ken?" Tanya Vir dengan sangat hati-hati.


Zara pun menggelengkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Bahkan untuk mencoba mencintainya, apa tetap tidak bisa?"


Pertanyaan Vir kali ini, lagi-lagi membuat Zara menjadi salah paham lagi dengannya hingga membuatnya seketika menghentikan segala aktivitasnya. Zara pun mulai menghela nafas berat, meletakkan wadah yang sejak tadi di pangkunya ke atas nakas yang berada tak jauh darinya dan seolah bersiap untuk bangkit dan menghindar.


Lagi-lagi Zara merasa kesal serta kecewa, karena ia merasa Vir seolah tak henti-hentinya memaksanya untuk menerima serta belajar mencintai Ken.


Namun Vir dengan cepat kembali menarik tangan Zara yang seolah ingin segera bangkit.


"Tolong jangan salah paham dulu!" Ucap Vir dengan cepat.


"Karena kalau kamu memang tidak bisa mencintai Ken, maka mulai sekarang aku akan maju." Tambah Vir, yang kembali merendahkan suaranya.


Hal itu sontak membuat Zara tercengang sejenak, sembari mulai menatap wajah Vir dengan begitu lekat.


"Ma,, maju?? Ma,, maksudmu?" Tanya Zara pelan.


"Aku sebenarnya juga tidak tau pasti ini perasaan apa, aku tidak berani mengatakan jika ini adalah cinta! Ta,, tapi,, aku, rasanya aku ingin selalu ada di dekatmu, ak,, aku, aku merasa ingin selalu melindungimu, dan,, aku memandangmu berbeda dari semua wanita yang pernah kudekati." Ungkap Vir yang juga menatap Zara dengan begitu lekat.


*Deegg*


Mendengar hal itu, membuat jantung Zara seketika berdebar hebat, tubuhnya kembali gemetaran, dan kembali terasa kaku hingga tak dapat berbuat banyak saat itu.


"Hei,, kenapa kamu diam saja? To,, tolong katakan sesuatu!" Tambah Vir lagi.


Zara sendiri sangat bingung dengan perasaannya saat itu, entah ia harus bahagia atau sedih, ia pun tidak tau pasti. Yang saat itu bisa ia lakukan hanyalah menundukkan kepalanya karena semakin gugup, belum pernah sebelumnya ia sedekat itu dengan lelaki, apalagi lelaki yang ia sukai.


"Hei.." Panggil Vir lagi, dengan begitu lembut sembari mulai mengangkat dagu Zara dengan jari telunjuknya.


"Ku dengar, kamu pun merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan. Apa itu benar??" Tanya Vir lagi.


Posisi itu membuat jarak antara wajah mereka jadi begitu dekat dan sejajar, bahkan kini kedua mata mereka mulai saling beradu dalam waktu yang cukup lama. Zara kembali menghela nafas panjang dan lagi-lagi menurunkan pandangannya sembari akhirnya ia mengangguk pelan.


"Apa itu artinya iya?" Tanya Vir yang seolah ingin memastikan lagi.


Kali ini, Zara mengangguk lebih tegas. Membuat Vir perlahan mulai menampilkan senyuman manisnya dan kembali meraih pipi Zara. Membuat Zara sedikit terkejut dan mulai merasa cemas, namun Vir dengan cepat meyakinkannya demi membuatnya tenang,


"Hei, hei,, tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu." Ucap Vir pelan sembari mulai mengusap lembut pipi Zara yang mulus tanpa jerawat.


Untuk kesekian kalinya, Zara menghela nafasnya lagi, agar membuatnya kembali merasa tenang dan tidak panik, karena ia memang begitu yakin, Vir tidak akan menyakitinya.


Saat itu Vir terus tersenyum, dengan wajahnya yang perlahan semakin mendekati wajah Zara yang lembut. Zara terdiam, jantungnya semakin berdetak kencang, namun saat itu ia memilih untuk terus diam di tempatnya, sama sekali tidak ada niat untuk berteriak ketika menyadari jika Vir semakin dekat dan dekat dengannya.


Dalam diamnya, Zara mulai meremas celananya sendiri karena sedang berusaha untuk terus bersikap tenang tanpa panik. Membiarkan Vir melanjutkan aksi yang sudah ia tebak itu akan ke arah mana. Dan ya, benar saja, perlahan tapi pasti, bibir Vir dengan lembut mulai menyentuh permukaan bibir Zara yang terasa begitu lembut dan kenyal.


Membuat Zara semakin kuat meremas celananya, namun tetap memilih untuk membiarkan Vir melakukan itu. Ini bukan lagi tentang Zara yang dengan bodoh membiarkan lelaki menciumnya, tapi kini semuanya sudah tentang perasaan, perasaan cintanya yang semakin hari semakin besar pada Vir lah yang membuatnya seolah pasrah, membiarkan Vir menciumnya, lagi.


Bersambung...