Virzara

Virzara
Eps 46



Dengan di umumkannya ke lima nama kontestan yang berhasil lolos, menandakan berakhir pula lah perlombaan hari itu, dan babak final akan berlanjut di hari berikutnya.


Tak lama Zara pun akhirnya turun dari podium, dengan langkah pelan dan kepala yang terus menunduk, ia terus melangkah ke arah dimana Vir dan yang lainnya berdiri menunggu.


"Wah Zara, selamat ya, sejak awal aku sudah yakin kamu pasti akan masuk final." Ucap Ken yang langsung menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zara.


Zara yang awalnya menunduk, perlahan menaikkan sedikit kepalanya dan dengan sedikit ragu-ragu akhirnya membalas jabatan tangan Ken.


"Ya, terima kasih banyak Ken, ini juga tak lepas dari bantuanmu." Jawab Zara sembari tersenyum tipis.


Ken pun ikut tersenyum sembari memandangi tangannya yang saat itu tengah bertautan dengan tangan Zara. Bisa dikatakan, itu adalah kali pertamanya ia menyentuh bahkan bisa menggenggam tangan Zara. Saat itu, tangan Zara terasa begitu dingin, entah apa penyebabnya, namun satu hal lain yang bisa Ken rasa ialah kelembutan tangan Zara. Ternyata wanita yang selama ini begitu takut di sentuh oleh semua lelaki itu memiliki tangan yang sangat lah lembut, pikir Ken.


Namun Vir, yang kala itu melihat reaksi Ken yang nampaknya masih bersikap tak biasa pada Zara, mulai merasakan cemburu. Vir sangat tak senang saat melihat Ken menatap Zara dengan tatapan berbeda, apalagi saat itu kedua tangan mereka juga masih saling bertautan dalam waktu yang cukup lama. Vir pun mulai memikirkan cara, bagaimana agar adegan menyebalkan itu segera berakhir.


"Aaaaghh, aaaghh, aaaghh." Pekik Vir secara tiba-tiba sembari mengangkat sebelah kakinya seolah merasa begitu kesakitan.


Dan ya, trik konyol itu cukup berhasil, itu terbukti saat Zara yang terkejut langsung menarik tangannya dari Ken dan mulai menatap Vir dengan tatapan cemas.


"Vir, ada apa denganmu? Kamu kenapa?" Tanya Zara panik.


"Kakiku sakit aaaghh." Jawab Vir berbohong.


"Sakit? Kenapa?" Tanya Ken yang ikut kebingungan.


Begitu juga dengan Siska yang ikut bingung serta terkejut.


"Seperti ada yang menginjaknya dengan kuat sekali." Jawab Vir lirih sembari terus meringis kesakitan, dan hal itu tentu saja hanyalah bualan semata.


"Tapi siapa yang menginjaknya?" Tanya Zara lagi.


Vir pun mulai menoleh ke arah Siska.


"Hei Siska, kau yang sengaja menginjak kakiku ya?"


Hal itu, sontak membuat kedua mata Siska jadi membulat sempurna.


"Apa katamu?!! Aku??!" Jawab Siska yang nampak begitu tak terima.


"Iya, pasti kau yang melakukannya kan. Kenapa? Apa kau masih dendam padaku karena aku tidak ingin balikan?" Ujar Vir yang saat itu terus merintih kesakitan sembari terus mengusap-usap kakinya.


"Heh, apa kau sudah gila!! Kakiku sejak tadi disini, mana mungkin bisa menginjak kakimu!" Tegas Siska.


Vir pun akhirnya memilih diam, karena sebenarnya ia pun tau jika Siska tidak melakukannya.


Ke esokan harinya..


Sekarang, tiba lah waktu yang di nantikan, waktu dimana Zara dan kelima orang lainnya harus kembali berjuang untuk memenangkan hadiah yang cukup fantastis. Kali ini tantangannya cukup mudah, mereka di tugaskan untuk menyelesaikan lukisan yang sebelumnya mereka lukis, hingga menjadi mahakarya yang luar biasa. Mereka di tantang melakukan finishing pada lukisannya agar lukisan itu bisa terlihat lebih hidup dan terlihat nyata.


Vir, Ken, dan Siska, kembali datang untuk memberikan dukungan pada Zara. Zara sedikit gemetaran, namun kehadiran Vir kala itu, cukup berhasil menenangkannya. Zara dengan wajah sendunya, mulai menatap Vir yang saat itu juga tengah menatapnya dengan begitu lekat.


Zara akhirnya bisa sedikit tersenyum, lalu mengangguk pelan.


"Berdoa!" Tambah Vir lagi yang ikut tersenyum.


Lagi-lagi Zara mengangguk dengan senyumannya yang semakin melebar. Zara mulai menghela nafas panjang, dengan perasaan yang masih sedikit gugup, ia pun meraih sebuah kuas yang telah tersedia di atas meja kecil yang ada di hadapannya,


"Baik lah, berhubung yang ku lukis adalah wajah Vir, maka aku tidak mau membuatnya jadi lukisan biasa. Lukisan ini harus jadi istimewa dan bermakna, seperti Vir, yang begitu istimewa di dalam hatiku." Gumam Zara dalam hati yang mencoba meyakinkan dirinya jika ia harus bisa dan harus menang.


Perlahan tapi pasti, Zara mulai memberi sentuhan-sentuhan pada wajah Vir dengan cat minyak, entah memerlukan berapa macam warna untuk membuat lukisan itu agar terlihat benar-benar bernyawa. Vir, yang memandanginya dari kursi penonton, mulai memasang raut wajah tegang, hingga mengundang tanya pada Ken.


"Kau terlihat tegang Vir."


"Ya jelas saja, ini babak terakhir, memangnya siapa yang tidak tegang?!" Jawab Vir tanpa mengalihkan pandangannya dari Zara.


"Tapi kau hanya penonton Vir, bukan peserta." Ujar Ken yang terkekeh kecil.


Vir pun terdiam, lagi-lagi Ken berhasil menyudutkannya hingga membuatnya sulit mengelak. Namun bukan Vir namanya jika ia tidak pandai berkilah,


"Heh! Memang aku bukan peserta lomba, tapi aku adalah salah satu orang yang dijadikan objek dalam lukisan yang dilombakan, wajahku akan terpampang sangat jelas. Jadi jelas saja aku ikut tegang, jika Zara kalah, maka harga diriku sebagai pemilik wajah yang paling berkharisma di kampus ini akan jatuh dan bisa-bisa pamorku langsung meredup." Jelas Vir panjang lebar,


"Astagaa, benarkah itu yang kau pikirkan saat ini? Jadi bukan karena Zara?"


"Tentu saja bukan!" Jawab Vir datar, yang ternyata ia berbohong.


Waktu dua jam berlalu, sudah waktunya dewan juri turun dan menilai ke lima lukisan yang telah jadi seutuhnya. Dewan juri mulai memandangi setiap lukisan itu dari jarak dekat, dan menyentuh permukaan kanvasnya untuk menyempurnakan penilaiannya dari berbagai aspek.


Kebetulan, Vir berdiri di posisi yang berhadapan dengan Zara, sehingga ia tidak dapat melihat hasil lukisan Zara karena posisi kanvas yang membelakanginya. Namun Vir pun sama sekali tidak peduli dengan hasil lukisan yang menampilkan wajahnya, karena ia juga tidak akan sanggup melihatnya karena rasa trauma yang juga tengah ia alami karena buruknya masa lalu yang ia lewati.


"Vir, kau sama sekali tidak ingin melihat hasil lukisan Zara?" Tanya Siska.


"Tidak! Kalian sudah tau jawabannya!" Jawab Vir sembari tersenyum tipis.


"Apa kau tidak penasaran dengan bagaimana wajahmu di lukisan itu?"


"Lebih baik aku merasa penasaran dari pada aku harus merasa ketakutan dan histeris di depan orang ramai." Jawab Vir enteng.


Siska dan Ken pun akhirnya terdiam dan memilih untuk tetap berada di tempatnya, jika Vir tidak ingin beranjak untuk melihat lukisan wajahnya, maka mereka pun juga memutuskan untuk tidak meninggalkan Vir hanya karena ingin melihat hasil lukisan Zara.


Kini tiba waktu yang di nantikan, waktu dimana ketua panitia, harus mengumumkan tiga lukisan terbaik dan menjadi juaranya. Untuk ketiga kalinya Zara harus merasakan fase itu, fase dimana ia harus merasakan perasaan yang tak tenang, gelisah, serta gemetaran. Begitu juga dengan Vir, melihat wajah Zara yang begitu tak karuan, juga cukup membuatnya tak tenang.


Ketiga lukisan telah di pilih, lukisan Zara lagi-lagi berhasil masuk ke dalam tiga besar, dan sekarang tiba saatnya untuk mengumumkan siapa pemenang dari ketiga lukisan itu, yang akan mendapatkan hadiah utama dan lukisannya juga akan di pajang di pameran lukisan yang di gelar setiap bulan sekali.


"Dan, yang berhasil memenangkan hadiah utama dari kami adalah...." Ucap ketua panitia dengan lantang.


...Bersambung......