Virzara

Virzara
Eps 56



Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Emosinya tiba-tiba saja mencuat saat ia kembali terbayang bagaimana Zara yang lagi-lagi dibuat menangis oleh Vir.


"Vir! Kau benar-benar keterlaluan! Aku mati-matian menahan sakit hati hanya demi bisa melihat Zara bahagia bersamamu, tapi kau masih saja mengabaikannya!!" Gerutu Ken menggeram dalam hati.


Ken pun semakin tak tahan ingin segera melampiaskan amukannya pada Vir, ia pun semakin menambah kecepatan pada mobilnya hingga membuat mobil yang ia tunggangi saat itu semakin melesat cepat bagaikan angin untuk menuju ke bengkel milik keluarganya.


Saat itu hari sudah petang, suasana di bengkel pun nampak sudah begitu sunyi, hal itu memang sangat wajar karena jam operasional di bengkel telah usai, hingga seluruh pegawai bengkel pun rata-rata sudah berpulangan. Ken turun dari mobilnya sembari melirik kesana kemari, sorot matanya seolah menyisir tajam ke segala arah di sepanjang langkahnya menuju bangunan bengkel keluarganya.


Dan benar saja, saat itu Vir masih terlihat disana seorang diri dengan kedua tangannya yang masih tampak kotor karena baru selesai memperbaiki sebuah mobil. Ken yang melihat hal itu pun seketika langsung melajukan langkahnya ke arah Vir.


"Vir!!" Serunya dengan suara keras.


Vir pun seketika menoleh ke arahnya, dan dengan tenang ia bertanya,


"Ken? Ada apa?" Tanyanya.


Ken pun semakin cepat melangkah ke arahnya, lalu dengan kekuatan penuh langsung melayangkan sebuah pukulan keras di pipi Vir.


*Buuggh*


Vir pun seketika terpental dan ambruk di atas mobil, dengan cepat Ken langsung menyusulnya, mencengkram kuat kerah bajunya dan sekali lagi, memukul keras pipi Ken yang sebelahnya lagi. Dengan penuh emosi, Ken kembali menarik tubuh Vir, lalu menghempaskannya ke salah satu sisi tembok.


"Ken apa-apaan kau?!" Tanya Vir yang kala itu terlihat mulai mengeluarkan darah di ujung bibirnya.


"Aaaghh diam kau!!" Ketus Ken yang kembali memukuli Vir.


Saat itu Vir masih memilih untuk tidak membalas pukulan Ken, sahabatnya,


"Ken, apa kau sudah gila??!!"


Namun Ken tetap tidak bergeming, merasa puas dengan pipi Vir, kini Ken pun mulai beralih menuju perut Vir dan memukulinya hingga beberapa kali. Vir pun akhirnya mulai tak tahan hingga akhirnya ia pun memukul pipi Ken untuk menghentikannya.


"Hentikan!!" Teriak Vir saat memukul sebelah pipi Ken dengan keras.


Hal itu pun sontak membuat Ken terjungkal ke lantai. Vir yang kesakitan akhirnya mulai tersandar di tembok sembari terus terbatuk-batuk memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan Ken.


"Uhuukk,, uhhukk."


"Ada apa denganmu ha?!" Tanya Vir yang akhirnya kembali berusaha bangkit dan meludahkan banyak darah dari mulutnya.


Saat itu Ken pun mendengus, hanya dengan sekali pukulan saja dari Vir, nyatanya juga cukup berhasil membuat bibir Ken terluka hingga berdarah. Ken pun kembali bangkit dan ikut meludahkan darah di mulutnya ke lantai.


"Setelah kejadian tadi siang, kau masih sanggup menanyakan kenapa??!!" Seru Ken dengan nada tinggi.


Vir pun terdiam dan akhirnya menyadari jika kemarahan Ken saat itu, ada hubungannya dengan Zara, hingga membuat Vir kembali mendengus.


"Jadi karena Zara kau melakukan ini padaku??!"


Ken dengan langkah pelan, mulai mendekati Vir, sorot matanya masih terlihat begitu tajam saat menatap sahabatnya itu,


"Kau tau kan, sejak SMP aku sudah menyukainya! Dan ternyata, wanita yang kusukai sudah lebih dulu menyukaimu," ungkap Ken lirih.


"Tapi kenapa kau justru membuatnya menangis??!!!" Tanya Ken lagi dengan berteriak.


"Jadi tadi aku membuatnya menangis??" Tanya Vir dalam hati yang baru mengetahui hal itu.


"Kau tau, aku bahkan rela mengalah karena ku tau kau juga menyukai Zara, berharap kau bisa membuatnya senang dan terus tersenyum, tapi ternyata aku salah, kau malah tidak menghargai pengorbananku untukmu dan Zara, kau malah menyakitinya terus-terusan!!" Tambah Ken lagi.


"Tapi dia memilihmu, aku bisa apa?"


"Setidaknya perjuangkan cintamu!"


"Aku sudah berusaha, aku juga sudah melakukan banyak hal untuknya, Vir! Tapi apa, dihatinya tetap ada kau! Dia mencintaimu Vir, sampai kapan kau bisa menyadarinya??!"


Mendengar hal itu Vir pun terdiam sejenak.


"Heh, dengar!" Ken pun kembali meraih kerah baju Vir dan mulai mencengkramnya lagi.


"Sekarang kutanya padamu, kau menyukai Zara atau tidak?!" Tanya Ken yang kembali menatap tajam penuh selidik pada Vir.


"Aku tidak tau!" Jawab Vir dengan tenang.


"Jawab aku!" Teriak Ken yang kembali memukul perut Vir untuk kesekian kalinya.


"Aku tidak tau!" Jawab Vir yang ikut berteriak.


"Kau mencintainya atau tidak?!!" Tanya Ken yang lagi-lagi memukul perut Vir.


"Uhukk,, uhukk,," Vir pun kembali terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Hentikan Ken! aku benar-benar tidak ingin menyakitimu! Uhukk,, uhukk!" Ucap Vir lirih.


"Kau dengar ucapanku kali ini, jika kau mencintainya, maka ku minta agar kau membahagiakannya. Tapi jika memang kau sama sekali tidak berminat padanya, katakan padaku! Biar aku berjuang sampai titik darah penghabisan!" Tegas Ken yang langsung melepas kasar cengkraman tangannya, dan kemudian langsung pergi meninggalkan Vir yang langsung tersandar lemas di tembok.


"Uhhukk,, uhukk.." Vir terus terbatuk dan kembali mengeluarkan darah dari mulutnya.


Ia pun mulai terduduk lemas sembari tertunduk karena merasa cukup frustasi dengan keadaan saat itu.


"Aku menyukainya Ken! Kali ini aku yakin jika aku benar-benar menyukainya!" Gumam Vir dalam hati yang terdengar lirih.


Sisi lain di kediaman Zara


Hari mulai gelap, Zara dengan sangat tidak bersemangat mulai keluar dari kamarnya ketika ibunya datang mengetuk pintunya.


"Sudah cukup mengurung dirinya! sekarang ayo kita makan." Ajak Nanny.


"Aku tidak selera makan, bu!" Ucap Zara pelan sembari terus menunduk.


"Jangan begitu, sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini Zara. Ayo makanlah! Apa kau tega membiarkan ibu makan seorang diri?!"


Zara pun perlahan mulai menatap wajah sang ibu, ia menghela nafas pelan dan akhirnya setuju untuk makan.


Makan malam kali itu di lewati dengan tenang bahkan cenderung hening, Zara yang sejak awal memang sedang tidak bersemangat, terus saja diam sembari mengunyah pelan makanannya. Setelah berhasil menghabiskan makanannya, Zara pun langsung bangkit dari duduknya, mencuci sendiri piring bekasnya, lalu kembali menghampiri Nany sejenak.


"Bu, aku sudah selesai makan, tolong biarkan aku kembali ke kamar, aku mau tidur." Ucap Zara dalam keadaan kepala yang terus menunduk.


Nany pun menghela nafas dan akhirnya mengangguk pelan tanda setuju. Tanpa pikir panjang, Zara pun kembali melangkah menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Di kamar, ternyata ia tidak langsung tidur, melainkan justru melangkah ke arah jendela kamarnya, membukanya dengan perlahan, dan berdiri menatap sendu ke arah langit yang kala itu terlihat begitu di ramaikan oleh bintang-bintang yang bertaburan dan bulan yang ikut bersinar cerah.


"Ayah, apakah salah satu dari berjuta bintang yang saat ini kupandangi adalah ayah?? Apa ayah bisa melihatku dari sana?? Aku rindu ayah." Gumam Zara lirih dalam hati,


Bersambung...